SOCIAL MEDIA

Monday, 6 March 2017

Tentang #MakanMayit


"Seni itu harus mengganggu!", kata penggiat seni edgy yang seumur hidup 24/7 ter-inxocate sama berbagai macam genre performance art.

Ya, kali ini mau ngebahas #makanmayit dari segi mama-mama yang kuliah seni juga. Hore, tos dong!
Walaupun bidang seni yang gue geluti bukanlah performance art yang itu, melainkan performance art bagian audio, menampilkan repertoir 200-400 tahun yang lalu.

Tapi art juga dong yaaaa? Yaiyalah, siapa yang berani bilang polifoni bukan art + math? Hah? HAHH?

Ngga usah gue jabarin ini acara apa ya, karena sejagad raya Instagram udah heboh banget sama performance art yang ini. Dibarengi dengan protes dan pembela si #makanmayit. Seru deh, kalau tujuan Tontey adalah membuat #BOOM jagad raya media, harus diakui bahwa dia berhasil. Harus, dong. Kan heboh, kan didatengin artis, kan berhasil ngebuat AIMI mengeluarkan statement.

Seni itu harus mengganggu, agar orang yang mengonsumsi berpikir filosofis kedalam karya seni itu.
Seni itu harus mengusik, agar memacu untuk berpikir apa yang mau disampaikan si pemilik seni itu.

Yeah so edgy, keren.

Apa gue mengaminkan? Hmmm... yes and no.

Terusik sama karya John Cage "4'33" memang berhasil membuat gue berpikir APA SIH MAKSUD LO?! DIEM DI DEPAN GRAND PIANO SELAMA 4 MENIT 33 DETIK?!

Oh ternyata ia ingin melukis keheningan dengan white noise si penonton. Ih apa jangan-jangan dia ingin menciptakan environment total sunyi dimana jaman sekarang udah mustahil yang namanya kesunyian absolut?
Wow, lalu kelar deh makalah 30 lembar hanya membahas karya tak bersuara itu.

Terusik sama KENAPA IANNIS XENAKIS ABSTRAK AMAT?! CUMA MAININ NOISE?! NGGA ADA NOTASI YANG NOTABLE KAYAK CHOPIN?!

Oh ternyata dia menggambarkan teori Brown dengan alat MIDI ciptaannya, oh ternyata bisa ya melukis rumus fisika dalam musik, oh apakah ini adalah pure merge antara musik dan fisika sesungguhnya?!

Tapi ya begitulah kira-kira, contoh 'mengusik' dalam seni yang gue pelajari. Tidak ada seni offensive, ngga ada gore. Oh, mungkin 'gore' nya anak musik adalah karya avant-garde yang abstrak-absurd gitu ya. Yang keindahannya baru dipahami ketika kita baca cerita dan teori dibalik semua itu.

WAH AKHIRNYA AKU NANGKEP.

Or not?

Okelah seni itu mengusik. Seni itu mengganggu.

Berarti kalau ada yang terganggu ya wajar dong :(
Berarti kalau ada yang terusik ya wajar dong :(

Naluriah dong ketika seseorang terusik, maka ia bertindak defensif? Mengajukan protes? Kan namanya juga sebab-akibat ya bro ya?

Dan itu naluriah. Wajar. Manusiawi.

Berapa sih dari lu yang terusik lalu.... mikir? Mikir filosofisnya? Ya ada. Dan wah hebat keren banget, edgy. Tapi ngga semua orang seperti itu.

Dan itu normal.

Tidak berpikir filosofis ketika merasa terusik itu normal. 'Ngelepeh' karya Ornette Coleman ya normal karena dia cuma a bunch of random jazz noises.

Ngga suka karya klasik itu ya NORMAL DONG. Beneran, ini bukan sarkas. Normal, karena itu bukanlah suatu common sense. Bukan hal yang umum. Hanya bisa dinikmati ketika kita mendalami bidang tersebut, tertarik untuk baca-baca dibalik karya seni tersebut, suka dengan bidang tersebut.

Kalo ngga suka, gimana?

Ya normal!

Ngga suka bidang seni ya normal, senormal lu ngga suka bidang kedokteran.

Jadi, ngga logis rasanya kalau pencetus "Seni itu mengganggu" ngatain orang yang terganggu dengan sebutan close minded, bebal, tidak artsy, tidak apalah apalah. Ya emang tujuannya untuk mengganggu kan? Terus kalau ada yang merasa terganggu ya wajar kan?

"Tapi kenapa sih emak-emak itu pada butthurt?"

Kata lu yang ngga paham bahwa ASI itu 'golden liquid' at its finest.

Kenapa?

KARENA SUSAHHH!

SUSAHHHHHH BRRRROOOOOOOOOO.....

Tau nggak? Ngga semua ibu bisa keluar ASInya. FAKTA. Dan jangan katain ibu itu sebagai orang yang kurang usaha, karena bisa aja usahanya melebihi ibu-ibu lain. Tapi? Tetep nggak keluar.

Okelah, menyumbangkan ASI itu hak ibu, sang pemilik ASI. Oke nggak apa, terserah lah itu susunya dia hahahah

Tapi harus mau diprotes dong. Karena apa? Karena ASI itu perjuangan yang sentimentil. Seorang ibu bisa nangis doang di rumah tanpa makan-minum hanya karena ngga bisa ngehasilin ASI. Seorang ibu bisa pumping ASI ampe ASInya keluar darah (FAKTA) demi memenuhi quota ASI anaknya.

Anaknya emang dimana?

Di kota yang berbeda.

Ada lho, ibu-ibu yang ASI eksklusif padahal beda kota even BEDA NEGARA dengan anaknya.

Tapi wajar sih, ngga semua orang tau perjuangan ASI. Ngga semua orang peduli dengan perjuangan ibu nge-ASI. Sama seperti ngga semua orang peduli dengan performance art, dengan agungnya Bach, dengan Ananda Sukarlan. Bahkan ngga semua orang tau tentang Ananda Sukarlan.

Awalnya gue kaget HOW COME LU NGGA TAU ANANDA SUKARLAN?! THIS COUNTRY'S NATIONAL TREASURE?!

Lalu gue ngeh: ngga semua orang peduli dengan scene musik klasik Indonesia.

Dan itu normal. Orang ngga akan peduli dengan hal yang tidak memacu interestnya. Sama seperti orang seni (gue) yang ngga peduli dengan matrikulasi, anak kuliahan yang ngga begitu peduli dengan kisah ASI.

Jadi kalau ada yang ngga ngerti hal se'intim' performance art ya itu wajar, karena lu ngga bisa maksa semua orang untuk 'mempelajari' hal sefilosofis seni. Ngga semua orang tertarik ngebaca hal filosofis dibalik #makanmayit, dan itu wajar.

"Kok wajar sih?!"
Kalau lu udah cukup lama dan cukup 'jauh' memandang tingkah laku society, ketidaktertarikan itu adalah hal yang wajar.

Jadi? Ya pro-kontra terhadap karya itu wajar, ngga usah dikatain bebal, close minded. Yang author IG komik 18+ gausah ngatain followers yang kontra dengan sebutan offensive. Karena hadapilah: karya yang mereka buat itu memang sensitif. Entah unsur pornografi, gore, SARA atau apapun. Karena ngebawa topik sensitif, harus siap disensiin. Sesimpel itu.

Jadi, apakah Tontey tidak boleh berkarya? Ya jangan dong, bagaimana pun kita butuh seniman. Indonesia butuh seniman.

Tapi Tontey harus tau bahwa masyarakat kita punya karakteristik tertentu, kalau menghasilkan karya yang diluar norma sosial ya harus siap diprotes ya. Main api harus berani kebakaran.

Dan - sekali lagi - itu wajar.

Apalagi menyangkut dunia mama-mama, gue harus sependapat bahwa anak, fetus, ASI, plasenta itu hal yang sensitif banget.

"Kok sensitif?"

Nah, ini ngga bisa gue jawab sebelum lu ngalamin sendiri :)

Ngalamin ngeliat fetus anak sendiri saat keguguran, ngalamin anak kecekek plasenta padahal sebulan lagi udah mau ngelahirin, ngalamin bukaan 8 saat lagi ngga ada siapa-siapa.

Pemandangan fetus bayi sudah bukan hal yang hanya dilihat dari buku IPA tapi jadi relatable, traumatis, trigger air mata, membuka borok memori ketika harus mengubur fetus dengan tangan sendiri.

Ngga akan bisa dipahami sama orang yang belum pernah mengalami. Sesama ibu aja kadang suka ngga mau memahami kondisi ibu lain kok.


**


Tapi itu pendapat gua sih, mama-mama seni yang pernah berpikiran untuk ambil donor ASI karena ASI-nya dikit. Saking dikitnya, ketika menyapih sang anak ngga merasa kehilangan.

Etapi gue setuju sih bahwa seni ngga harus indah, karena seni ngga sebatas memuaskan indra aja.

Begitulah, kalau lau sendiri gimana tanggepannya soal #MakanMayit?


10 comments :

  1. Sejujurnya aku menunggu iniii, hahaha. komen Nahla yang seorang pejuang ASI dan kuliah seni :D

    ReplyDelete
  2. Aku mau kasi lope lope lope aja buat tulisan yg ini <3<3<3<3<3

    Yeaaah mamak2 lulusan seni ada yg bersuara

    ReplyDelete
  3. Pertama liat apaan sih ini jijay. Mana hamil muda perut langsung mules berasa diremet-remet. Gw sih ngga terlalu yakin orang2 yg dateng juga mikirnya sampe sedalem dan sefilosofis artistnya. Most of them paling cuma pengen ngerasain hype nya dan tentunya posting di sosial media. Gw setuju bgt. Ketika ngangkat sesuatu yg sensitif ya harus siap di sensi-in. It is that simple. Klo ngga siap si sensiin lhaaa.. berarti ketauan yg ngga bisa nerima perbedaan pendapat siapa. Hihihi...

    ReplyDelete
  4. Suka deh baca dari sudut pandang nahla gini :) . Pake logika, ga hanya sekedar marah2 ga jelas. Aku bukan org seni sih ya, jd awal2 tau sempet rada g percaya trs liat foto2nya, jd kyk jijik gt :D. Tapi setujulah.. Ga semua org ngerti seni.. Jd wajar kalo yg terganggu lgs reaktif banget :D

    ReplyDelete
  5. wooh aku kmrn komen di IG si seniman lalu aku dibilang emak2 baperah. Huuuft!

    ReplyDelete
  6. Haaa seneng Nahla nulis iniii, jadi ada perspektif baru. :D Iya wajaar bgt emak2 banyak yg marah soal seni yg dibuat Tontey itu, apalagi buat yg awam soal seni. Harus terima resiko ya mau bikin seni atau apapun yg nyeleneh, yg kontroversi... Aku jg awalnya pas liat ya ampun ngapain sik bikin yg kayak gitu, tp pas baca beritanya "oooh jadi itu toh maksudnya dia bikin seni macam itu.." Sama kayak film atau cerita fiksi ada juga yg kayak gitu. Jd heboh karena medsos, acaranya sendiri undangan terbatas kan, bukan buat umum juga kayaknya..

    ReplyDelete
  7. terbaik! ternyata penantian ku liat kamu komen about #makanmayit keluar juga :D heheh

    kalo menurutku sih, memang sih Kak T ini bukan desainer alias dimana karyanya harus selalu bisa diterima semua orang. Dia kan seniman, memang karya dia TIDAK HARUS bisa diterima semua orang. Karena seniman punya idealisme sendiri. Kalo gak gitu, gak 'beda' dan unik yah? Sip. Plus, dia seniman, jadi mnurutku dia punya sifat yg cenderung 'aneh' dan egois tht's why dia ngomenin dan gak peduli dengn ibu2. Palagi dia pernah hidup dan kuliah di daerah di Jepang yang agak 'menyeramkan' itu. Koganecho.

    Emang sih, karya dia yg ini agak sensitif, apalagi membawa2 tentang kehidupan. Aku sih yah pro dan kontra juga sama kayak kamu. Di satu sisi, seram, sadis dan geli (plus aku blom pernah mengalami kejadian2 yg dialami ibu2). Di satu sisi, yah itu karya dia. Yaudah, mau terima mau gak terserah. Toh dia tidak mengharuskan semua orang menerima. Buktinya, ada yg dateng dinner kan? Tapi, beneran deh, karya ini tuh kayak semacam dobrakan baru dan sangat berani.

    Supposed to sih, ibu-ibu tidak perlu komen (karena dia gak memberikan pernyataan bahwa semua harus menerima) dan dia tidak perlu menanggapi komen juga. Cuma karena sudah terlanjur kesenggol dan tersenggol jadi viral deh. hehehe.

    **BTW, aku kok rada gak percaya itu asli dari ASI dan ekstrak keringat ketek bayi yh? Siapa yg bersedia jd donor coba?

    ReplyDelete
  8. thanks Nahla udah kenalin Ananda Sukarlan ...
    aku seneng musik klasik, cuma pengetahuannya hanya terbatas sama musik klasik yang ada di Nodame aja :))

    ReplyDelete
  9. aku bener-bener ngindarin berita soal ini, terutama gambarnya...traumatis meksi aku bukan ibu2. tapi aku ga mengecam,,,ya karena dia emang melakukan ini pny maksud

    ReplyDelete
  10. Mungkin klo aku liat pertunjukan ini 10 years ago saat lg sok sibuk jadi anak yg kuliah sastra nyambi teateran, aku bisa jadi akan bilang itu keren.. Artistik n sebagainya.

    Tapi krn aku skrg seorang ibu liat pertunjukan itu.. Nyesek... Apalagib aku pernah dua kali kuret, ngalamin ASI yg seret.. Jadi yaa.. Hahhh

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top