Categories

SOCIAL MEDIA

Kamis, 23 November 2023

Kursi dan Memaknai Benda Mati

(Bahasa yang gue gunakan adalah bahasa implisit jadi mohon harap kita ber((SASTRA)) dulu dalam memahaminya)




Jadi, waktu kapan hari, gue duduk di satu kursi, dan orang yang lebih muda dari gue duduk di kursi sebelah gue. Orang yang lebih muda dari gue bilang, “Loh, kakak ga apa-apa duduk di situ??” Terus gue merespon dengan, “emang ada aturannya ya?” Dia bilang, “iya, biasanya yang duduk di kursi ini tuh senior-senior gitu kak”. Gak usah dibayangin ya kursi ini dan kursi itu tuh peletakannya gimana, pokoke ada sebuah hierarkal dari dua buah kursi ((ini)) dan yang ((itu)), yang ((ini)) buat yang lebih senior, dan yang ((itu)) buat yang junior.

Rabu, 11 Oktober 2023

Menghilangkan Self-Talk Misqueen



If you know me, i'm quite a depressive person. Kalo pada scroll postingan blog gue tuh pasti isinya soal luka, depresi, mempertanyakan rezeki dan macam-macamnya.

Terus gue dengan sadar suka nyeletuk hal-hal kayak,

"Duh gue kismin ni"

"Duh mana kebeli tuh wakaka gue kan tuna finansial"

Bahkan, pas gue ngisi kolom pemesanan tiket online, gue secara ga sengaja ngisi kolom disabilitas dan nambahin keterangan "finansial". Awalnya tuh but bercandaan doang terus diapus lagi, tapi gue yang super jeniyuz ini lupa ngapus, jadi kecetak dah tuh disabilitas finansial di tiket.

Well, jokes misqueen kan salah satu fenomena urban di media sosial, gak Twitter, IG, dimanapun lah. Apalagi Twitter, sosmed yang selalu brooding kemiskinan, meng-komedisasi-kan status finansial dan menjadikan itu label yang dipake sama semua orang. Tren berkata bahwa kita semua ini misqueen.

Hal ini karena kesenjangan finansial yang kerap ditunjukkan sama selebgram-selebgram glamor dalam taraf yang lebih dekat dan ekstrim, like wearing Hermes in a private jet? WOW, dan banyak yang bergaya hidup kaya gitu? DOUBLE WOW. Diupload hampir tiap hari? Wah fix kita miskin ya.

Self-talk kemiskinan jadi hal yang lumrah dan lucu, que tau sih, makna aslinya tuh berdamai sama diri sendiri ketika kita kekurangan, tapi apakah kita kekurangan???? Are we really 'misqueeeen' karena ngga bisa afford Chanel Classic, atau Tory Burch Fleming?

Ngga dong ya, kenapa merasa miskin karena ga bisa liburan ke Eropa?

Gue mulai merasa bahwa self-talk misqueen yang awalnya adalah lucu-lucuan, jadi hal yang gue bawa ke alam bawah sadar. Kalau pingin apa-apa, selalu "ah mana bisa, gue kan miskin", gue jadi orang yang ga punya mimpi atau target karena pesimis duluan, pesimis yang diserap karena self-talk yang awalnya buat becandaan itu.

No, aku tidak miskin. Aku pake iPhone, suamiku bisa bayar laundry, kami bisa makan-makan enak tiap suami honornya turn, kami ga pernah kekurangan makanan., kami punya dana darurat, tabungan terpisah juga ada, rumah alhamdulillah punya juga.

Saat kondisi finansial gue lebih ketat dibanding dulu pas tinggal di Jakarta, gue malah ga suka self-talk kemiskinan, dan gue mulai memelihara pemikiran, "gapapa, sekarang belum bisa kebeli, tapi di masa depan ngga ada yang tau" dengan nada yang optimis. 

Kami bikin e-paspor karena free visa ke Jepang, walau kami ga ada rencana ke Jepang, gak ada yang tau di masa depan, siapa tau bisa?

Gue pingin Tory Burch Fleming, sekarang belum bisa beli, tapi di masa depan siapa tau bisa?

Gue mengganti self-talk dari “akhh mana bisa, gue kan kismin”, ke “belum bisa, tapi siapa tau di masa depan bisa?"

Hal ini karena suami gue pernah bilang gini,
"Sayang, aku mau nikahin kamu tuh ga punya apa-apa lho, tapi ternyata bisa, uangnya jadi ada"

Gue melihat sendiri Eki yang modal niat dan berusaha, terus perlahan rezekinya ada
dan cukup.

Ternyata, masa tuh bisa berubah, dari yang ga ada jadi ada, dari yang ada jadi ga ada, terus ada lagi, terus berkurang lagi. Siklus hidup tuh berjalan dengan semestinya, kok.

Sehingga, buat gue pribadi, ada baiknya latihan self-talk positif, karena ternyata di masa depan kita ngga ada yang tau kondisi kita gimana.

Ada baiknya self-talk positif soal uang, karena bisa jadi kalau keseringan self-talk negatif, lama-lama kita lupa sama hal yang sudah kita punya.


Minggu, 30 Juli 2023

Adaptasi dari Jakarta ke Jogja

Adaptasi dari Jakarta ke Jogja -  Awal-awal gue nikah sama Eki, gue menekankan berkali-kali kalau "YOU HAVE TO BE VERY NICE TO ME BECAUSE MY HARDSHIP WILL BE A HARD SHIP”. Gue lahir di Jakarta dan tinggal di Jakarta coret, i love this city so much. Gue suka sama pressurenya, suka sama ambisinya, suka sama sat-set-sat-set-nya, sama hiruk pikuk, and lastly; gedung-gedungnya.


Kamis, 06 Juli 2023

Pengalaman Operasi Laparoskopi Usus Buntu

Pengalaman Operasi Laparoskopi Usus Buntu - Seminggu sesudah acara nikahan, gue merasa pinggang kanan atas gue tuh sakit. Sakitnya ketrigger kalau lagi tarik napas dalem-dalem, kayak NYUUUTTT MEN sakit banget, namun trigger ter-simulasi neraka adalah ketika lagi bersin, duh sakitnya ampe tulang belakang, sehingga gue ga bersin karena ga sanggup nahan sakitnya. Posisinya ini kayak di pinggang, tapi di perut, rada tengah, tapi ngga terlalu ke belakang, ngerti ga sih? Posisi sakit yang aneh banget dan ga kedetect. 

Berikut ikhtiar gue dalam menyembuhkan sakit gajelas ini:

Sabtu, 03 Juni 2023

Why I Said Yes



 “Jadi, kamu mau nikah gak sama saya?”

“Hah? Mau...”

Begitulah cuplikan ajakan nikah sama Eki Satria lewat videocall whatsapp. Kami lagi bahas soal tabungan, Eki merasa bahwa dia harus mulai menabung untuk memulai hubungan yang serius ke jenjang pernikahan, tapi dia tuh kayak butuh konfirmasi kalau “eh lu tuh mau nikah kan yaaa sama gue?”. Lamaran ini tuh kayaknya sekitaran pertengahan tahun 2022 kalau gue ga salah inget. Kami tuh uda pacaran dalam hitungan bulan, berapa ya? Kayanya belom sampe 5 bulanan deh, asli gue selupa itu karena kejadiannya random banget cuy.

Gue waktu itu menjawab mau tuh ya refleks aja, wong dia nanyanya juga dadakan kok.

Tapi ada satu hal yang perlu kalian semua tahu, bahwa: aku tempe. Halah basi banget.

Oke, here’s the thing:

Aku sebenernya males menikah lagi.

Senin, 29 Mei 2023

Dating After Divorce: Family First, Boyfriend Second

Tulisan ini dibuat sebelum nikah, kami udah nikah sabtu kemaren wkwkwk

***

Dating After Divorce: Family First, Boyfriend Second - Saat umur 15 tahun, pacaran adalah hal yang seru banget ya. Kita naksir orang, kita PDKT, kita pacaran, kita ngedate ke McD terdekat, berantem sepulang sekolah, backstreet, dibeliin makanan di kantin sekolah, semuanya hanya perkara suka dan tidak suka, naksir dan tidak naksir, deg-degan dan jenuh. Begitu juga ketika mau menikah, yang waktu itu gue pikirin adalah seneng-senengnya dunia pernikahan, yaa apa boleh buat, umur gue 17 tahun waktu itu. 

Sehabis bercerai, gue mencoba menjalin hubungan. Gue mengira bahwa rasanya ‘pacaran’ itu sesederhana apa yang gue rasakan saat umur 15 tahun. Well, deg-degan, cinta-cintaan, pasti ada ya. Namun gue sadar bahwa, 1) gue udah tua (well i’m in my marriageable age), 2) janda pulak. Yaampun sedih sekali ya 😂😂

Gue sadar kalau kekerenan gue, kecakepan gue, kefancy-an gue, (hoek) kejagoan gue, hal-hal mantep dari diri gue, sangat bisa menjadi sangat sangat tidak berguna sekali ketika di bawah label “janda”. Siapa yang peduli kalau gue cakep? Gue kan janda. Siapa yang peduli kalo gue (ceritanya) pinter, (ceritanya) keren, dan lain sebagainya? Semua ketutup oleh status janda.

Bukannya gue benci sama status jendes ini sih ya, gue sih santai aja, tapi gue masih cukup realistis untuk menilai bahwa tidak semua orang suka dengan status ini. Tidak semua orang menganggap bahwa, “gapapa kamu janda, value dirimu kan lebih dari itu”. Sudah saatnya saya menerima bahwa: nggak men, masih banyaaak sekali orang yang menganggap status janda itu sebagai bentuk kecacatan.

Cacat karena terbukti tidak bisa mempertahankan keluarga, cacat karena gagal mempertahankan pernikahan, dinilai sebelah mata sama orang lain.

Belum lagi stigma janda nakal, janda genit, janda gatel, AAAAA GUE PUSING.

Stigma janda adalah cacat secara sosial adalah hal yang harus gue terima. Pesimis? Sudah pasti.

Namun tidak sampai situ, jangan sedih. SIAPA yang memiliki stigma ini adalah hal yang paling krusial, siapa? Pasangan? Ngga dong, pasangan kita sih sudah pasti menerima, kalo ga nerima ya ngapain dipacarin sih ya. Jadi, siapa yang ditakutkan bisa memiliki stigma ini? Keluarga pasangan...

dan keluarga kita.

Akan sangat percuma sekali kalo aku cinta kamu, tapi keluargamu bilang, “pacaran sama janda? Duh jangan deh”.

Akan sangat percuma sekali kalo aku cinta kamu, tapi keluargamu bilang, “Udah ada anak? Ngga usah deh, tanggungannya banyak”.

Akan sangat sia-sia sekali, segala hal yang dijalin, berujung pada penolakan atas hal yang ga bisa gue ubah.

Gue dan calon gue, om Ekiy sepakat, kalau salah satu dari keluarga kita ada yang ngga merestui/menunjukan ketidaksukaan, mending kita bubar aja lah brader. Umur segini udah capek bondang-bonding lama terus berakhir karena kehalang restu.


“Aku mau segera bisa ngenalin diri ke keluarga kamu, kalau keluarga kamu ngga setuju sama aku, mending kita sudahi aja”, kata om Eki waktu itu. Halah emang dasar om-om. Tapi bener juga ya kata dia.

Bukannya ngga mau memperjuangkan restu atau apa, tapi beliau respect dengan hak keluarga untuk ga setuju dengan calon mantunya. Apalagi doi musisi ya, sering dianggap suram. Banyak cerita soal musisi, terutama laki, ngga direstui sama ortu pacarnya karena dianggap kismin.

Eki tidak kismin sih, di atas UMR Jogja lah ya, selamat lho. Tapi bukan masalah ngga punya duit sih ya, namun image musisi juga sering dianggap kurang oke.

Sehingga, saat awal-awal kami dekat, dia langsung memperkenalkan diri ke keluarga gue.... via Zoom. HAHAHAHAH. DUH APA SIH, ngelamar orang pake video call, ngenalin diri ke keluarga pake Zoom. Duh LDR banget nih ya.




Keluarga gue pada saat itu udah positif ke Eki, karena sebelum gue pertemukan, gue udah kasih liat fotonya, videonya, cerita-cerita soal orangnya, and my family kinda like him. Sesi Zoom pertemuan keluarga gue dan Eki berjalan lancar, agak tegang emang karena banyak pertanyaan-pertanyaan semacam “tujuannya apa?” dan lainnya. 

Gue pada saat itu merasa kayak, aaak gilak, serius banget sih ni orang, nyali banget ketemu keluarga via Zoom, padahal masi berapa bulan deket, aaaak nyali banget.

Tapi terharu sih emang, hehe. Kok effort dan keberaniannya maksimal sekali dari awal. Kaget.

Gue sih terus terang optimis sama mas Eki, karena 1) doi keren 2) gue janda, ada yang mau serius sama gue aja udah sukur (ini pendapat gue pribadi sih hahaah)

Semua lancar, terus giliran gue yang ke keluarga mas Eki.

TAPI GUE KAN TAKUT YA. SOALNYA GW JANDA GMN DONG. Gue takut dengan respon macam, “Kamu yakin mau sama janda anak satu??” AAAAK PINGSAN.

Sehingga pada akhir tahun 2021 dimana kami semacam sudah ingin settle dan membangun hubungan dengan lebih serius, gue diajak ketemu sama mama-papa mas Eki. Waktu itu papa mas Eki lagi sakit dan harus dirawat, gue debut sebagai pAsAngAn dengan menjenguk beliau.

GUE NERVOUS BANGET.

Lalu ketika gue masuk rumah sakit, gue disambut sama papa-mamanya mas Eki. First impression gue adalah; wow friendly banget 😭💓

Pembawaan keluarga mas Eki sangat casual, terbalik sama keluarga gue yang cukup semi-formal dan serius ketika ZOOM meeting.

Sehingga, gue merasa ternetralisir dan ngga terlalu merasa tegang dan terbebani, karena gue uda siap dengan segala tingkah laku calon mantu yang manis, gue pun menjaga perilaku pas ketemu papa-mama mas Eki.

Namun apa yang gue dapatkan dari gue yang menjaga tingkah laku itu? Komenan mas Eki yang berbunyi, “udah kamu ga usah sok manis, yang apa adanya aja...”

OH YA UDAH KALO GITU

Ya udah si ya udah lah ya, tapi mas Eki ini kadang suka nyeplos ke keluarganya dia, semacam nyeplos soal kebiasaan gue yang tidak mantu-able, “Mah, dia tuh ______ tauuu!”, DIH LU BISA JAGA MARWAH GUE GAK NIH YA!?

Kalau mas Eki lagi membuka sifat-sifat asli gue, gue memasang muka senyum tapi melotot ke arah dia, MALU DONG.

Namun ternyata mulai saat itu, gue makin rileks aja sih, ya udah gitu ga usah pake gaya-gaya anak manis anak baik, ya gue sih begini-begini aja.

Gue malah jadi semacam attach sama mamanya mas Eki karena mamanya mas Eki sangat natural dan organik sekali ya, gue jadi ikut be real dan ga harus jaga sikap yang gimana-gimana. 

Lalu gue menciptakan kesimpulan kalo wow i like this man’s family. Gue merasa bisa get along dan ngga planet-planet banget. 

Gue lega banget ternyata gue bisa dapet calon mertua yang sangat rileeeeks dan ngga berpakem-pakem formal.


***


Pada akhirnya di umur kami yang udah tidak muda ini (oh hello koyo), kami rada malas untuk bertarung dengan keluarga perkara restu. Kalau orang tua ga suka ya udah skip aja males banget… 



Back to Top