SOCIAL MEDIA

Monday, 5 December 2016

Acer Switch Alpha 12: Switchable Me


Ini adalah dialog imajiner antara gue dan tokoh imajiner gue, Terong. Ya, karena gue halu tingkat propinsi Banten. Mantap jiwa.

“Nahla, gue gabung ruangan piano lo, ya!” kata Terong dengan lantang sambil memasuki ruangan piano gue. Matanya fokus ke bantalan pundak tempat ransel besarnya nangkring, “Gue juga mau aransemen pake piano buat tugas kuliah,” lanjutnya.

“Oh ya udah, Rong. Masuk aja. Gue juga udah mau selesai, kok!” jawab gue.

Terong masuk sambil mengeluarkan laptop dari tas ranselnya yang sama seperti ukuran prasasti. Ia melihat tas gue yang ... seperti biasa. Tas pundak bahan kain yang tipis, tidak sama dengan tas laptop kantoran miliknya.

“Kok tas lo kecil banget, Nah? Padahal gue liat lo juga bawa laptop?” lalu Terong memijat pundaknya. “Pundak gue sakit banget, Nahla. Dari pagi gue gendong tas naik turun tangga, abisnya laptop gue berat dan tebel banget. Mana gue harus bawa buku teori musik pula!” keluhnya.

Gue menengok ke arah Terong.

“Laptop lo taun berapa, Rooonggg? Coba cek laptop gue sini!" kata gue sambil melambaikan tangan ke Terong. "Nggak heran kenapa gue bisa tetep tenteng tas stylish gue, karena bawaan gue ringan banget! Cuma 1.25 kg dengan ketebalan 201.4 mm aja.”



Di meja gue udah nangkring laptop idaman gue, Acer Switch Alpha 12, notebook-hybrid 2-1.



“Dih, lo ganti laptop lagi, Nahla? Gue baru liat nih yang kaya gini! Laptop lo yang dulu emangnya ke mana?” tanya Terong yang memutuskan untuk duduk di kursi sebelah gue. Ia mencolokkan charger ke laptop tebal yang jadi momok besar bagi pundaknya.

“Laptop gue yang dulu? Acer Ultrabook S3 yang gue pake dari 2011 itu? Laptop buat tugas orkestra kita berdua dulu? Ada kok, di rumah. Sehat wal afiat. Padahal udah jalan 6 taun tuh laptop. Masih bisa gue install macem-macem ...,” jawab gue.
Terong memperhatikan, seperti mulai tertarik dengan laptop baru gue.

“Mau gambar pake software berat, install software edit film, recording lagu, orkestrasi, semua ngandelin laptop Acer yang lama. Padahal waktu itu RAM-nya baru 2 GB, tapi lumayan tahan banting. Walaupun gue suka overcharge nih, tapi baterainya masih tergolong prima. Ya Acer, sih. Mentingin kualitas banget. Nggak heran.” Gue memencet not di piano, mencari chord untuk lagu gubahan sendiri.

Untuk mencari not di piano virtual pun tinggal tekan langsung di layar touch screen. Sekali ditekan, langsung terdengar dengan jernih. Seakan dunia musik virtual ada dalam ritme jemari gue. Inilah yang ditawarkan Acer Switch Alpha 12: dunia virtual dalam jangkauan.


“Lah, terus kenapa lo ganti laptop?” tanya Terong. Ia memijit kepala yang pusing mikirin ide untuk tugasnya.

“Ya gue butuh banget yang bisa fleksibel ngikutin job gue di dunia musik maupun dunia desain. Lo inget nggak sih pas gue ngerjain pesenan desain kakak lo di kantor dia? Bawannya bejibun banget, ‘kan? Bukannya lo ikut gotong-gotong drawing tablet gue? Nah … laptop ini tuh modelnya hybrid ...,” kata gue sambil melepas monitor dari keyboardnya, “karena ada engsel magnetnya. Jadi bisa lepas-pasang dengan aman. Keyboard docking ini juga sebagai screen protection,” lanjut gue.


“Iya, inget. Kocak banget pas barang-barang lo jatuh di sisi eskalator terus pala lo mau kepentok AHAHAHH!” ceplos Terong.

“Ih nggak lucu ah,” kata gue sambil tetep ngetik lincah dengan jarak keyboard antar huruf yang nyaman. "Yang paling oke itu kickstand-nya. Ada antislip karet dan bisa diatur sampai 165 derajat. Tau nggak buat apa? Buat anak gue kalo lagi nonton," jelas gue.

"Jadi, lo tinggal berdiriin kalau di dalem ruangan, kalau di luar ruangan tinggal copot monitornya?" tanya Terong.

"Exactly! Apalagi dengan fitur touch screen bisa ngelatih anak gue dengan mainan interaktif. Dengan kartu grafis Intel HD Graphics 520, gue bisa menyetel video edukasi, game perkenalan alfabet dan interaktif lain tanpa tersendat." Gue terdiam sejenak.

"Karena, setiap gadget yang gue pilih harus berguna juga buat anak dan keluarga. Buat apa canggih-canggih tapi ngga ada yang bisa diajarkan pada anak. Setuju nggak?" ujar gue ke partner gue.

"Setuju ...," kata Terong. Ia berdiri dan membuka casing biolanya.
“Eh BTW, gue mau rekam sampel biola pake laptop gue dulu ya. Lo diem dulu ya, Nah. Jangan ngomong, jangan kentut, jangan bersin, jangan cintai aku apa adanya," ujar Terong yang menjepit biolanya dengan sigap.

“Iye ah selow,” jawab gue cuek.


“AHHHHHH kenapa bisa gini! Gue udah mainin Paganini Caprice no. 9 susah payah buat bahan aransemen. Gue latian lagu ini tuh sampe 6 bulan, Nahla! Kenapa rekaman gue ada bunyi ‘werr-werr' segala, sih!” Ia menghempaskan badannya ke kursi.“Eh, bentar. Kayaknya gue kenal suara ‘werr-werr’ ini deh," sambungnya. 

Terong mendekatkan telinga ke sisi laptop. "Pantesan, gue nggak 'ngeh' kalo tiap laptop pasti ada kipas berisiknya. Yah ... gimana gue bisa ngerekam suara kalo kaya gini? Masa gue harus sewa studio? Makan sehari 3x aja udah sukur!” keluhnya sambil menjedotkan jidat ke keyboard laptopnya.

“Lo mau coba pake laptop gue, nggak? Tapi laptop lo matiin dulu." Aduh, nggak sabar pingin pamer fitur ke Terong!

“Ih apa bedanya deh? kan laptop lo sama aja, ada kipasnya,” protesnya.

Gue melepas headset dan berkata, “Udah coba aja dulu, ih!”

Ia mendekat ke laptop gue, memainkan Paganini no. 9 yang langsung terekam ke software rekaman gue. Hebatnya lagi, software yang gue pake beroperasi dengan sangat lancar padahal gue lagi buka software aransemen, edit video dan menggambar secara bersamaan.

Itu karena Acer Switch Alpha 12 menggunakan prosesor Intel Core seri I, generasi 6 yang lebih kencang dan hemat dibanding seri M. Ia juga mengeluarkan beberapa macam prosesor pada modelnya.

Untuk yang memiliki prosesor i3-6100U, kecepatannya 2.30 GHz dengan storage 128 GB dan RAM 4 GB.
Intel Core i5-6200U, kecepatannya sampai 2.8 GHz dengan storage 256 GB dan RAM 4 GB.
Sedangkan Intel Core i7-6500U memiliki kecepatan 3.1 GHz dengan storage 512 GB dan RAM 8 GB.


“Fuh ... udah nih, gimana? Gue jamin deh. Pasti ada suara ‘werr-werr’ nya lagi! Nggak mungkin nggak!” kata Terong, pesimis.

“Nih, gue play ya?” tantang gue.

Saat di-play, suara yang terdengar jernih dan lantang karena ada 2 stereo speaker hadap depan.

“Dih, kok bisa! nggak ada ‘werr-werr’, jernih banget!” kata Terong takjub.

“Nih, Rong. Lo mau tau nggak kenapa? Karena notebook gue nggak ada kipasnya. Ini adalah notebook pertama di dunia yang nggak pake kipas buat mendinginkan prosesor," tukas gue. "Dan ajaibnya, notebook ini nggak pernah panas sama-sekali! Ternyata kipas laptop itu biang kerok suara ‘werr-werr’ dan panas yang kita rasain kalo lagi pangku laptop. Kalo lagi hamil kan gawat juga ya, ntar anaknya anget anget gitu gimana? Nyahaha!”

Terong masih bengong.

“Ya deh, gue jembrengin aja. Acer punya teknologi pendingin prosesor, nama patennya Acer LiquidLoop™. Jadi sistemnya lewat pipa berisi cairan pendingin di sekeliling prosesor untuk menstabilkan suhunya. Efek positifnya selain nggak membuat notebook panas, bisa berfungsi tanpa mengeluarkan suara. Kalo anak gue tidur, nggak usah khawatir kaget ketika gue nyalain laptop," jelas gue.


“Karena nggak pake kipas, jadi nggak ada debu nyelip, lho. Karena kalau overheat dan ada debu, bisa ngerusak motherboard”, lanjut gue.

“Emangnya kalo kaya gitu, nggak boros baterai? Biasanya laptop canggih kan baterainya boros …,” tanya Terong dengan nada sok tahu.

“Nah, justru teknologi ini menghemat daya baterai! Kapasitas baterai gue aja udah 4870 mAh, ditambah nggak ada kipas yang bikin baterai terkuras. Coba liat hasilnya, baterai gue bisa bertahan ampe 8 jam! Itu charger dari tadi nganggur nggak gue pake,” jawab gue sambil melirik ke arah tas.

Terong bengong, tapi kali ini bisa berkomentar, “Ya-yaudah ... anu … bisa transferin rekamannya ke hape gue, nggak?”

“Bisa dong, tinggal pilih aja mau lewat mana. Kalau USB, dia pake Type-C dengan USB 3.1 gen 1 yang bisa transfer dengan kecepatan 5 GB/s, 10 kali lebih kenceng dari USB tipe 2.0. Dia juga bisa dijadiin sebagai output video dan bisa dibuat charge gadget dengan daya 4.5 Watt. Bluetooth juga ada sih yang tipe 4.0. Jadi lo mau yang mana?” tanya gue sambil mengangkat alis biar keren kaya artis Hollywood.


“Gue yang USB aja deh, kayaknya keren.” Lalu kami melakukan proses transfer dengan sangat cepat. Pasti setelah dia melihat kecepatan transfernya, habis ini dia bakal malak koleksi lagu dan video gue yang super banyak.

"Ngomong-ngomong, itu colokan di laptop lu buat apa aja?" tanya Terong sambil meraba-raba sisi laptop gue.

"Buat nyari kerang di lautan," jawab gue asal. Terong bengong seakan percaya.

"Ya nggak, lah!" jawab gue menghentak. "Sebelah kanan ada audio jack, USB 3.1 dan 3.0. USB portnya bisa bolak-balik, jadi kalo lo colokin sambil merem juga gampang. Sebelah kiri ada tombol volume, power dan home Windows. Di kickstand ada port micro SD buat memory card kamera."

gambar dari notebookcheck.net, edited by me
"Wah, ada kamera depannya juga ya?" tanya Terong.

"Dasar doyan selfie, giliran kamera aja cepet! Laptop ini punya 2 kamera. Kamera utama kualitasnya 5MP, kamera depan kualitasnya 2MP. Bisa atur ISO, brightness, HDR, timer dan shoot video dengan resolusi 1080 px," jelas gue.



"Kenapa emangnya? Lo mau selfie?" tanya gue.

"Mau lah!" jawab Terong.

"Dih ngarep. Nih hape lo, filenya udah gue kirim," kata gue sambil melepas kabel data dan menyerahkan handphonenya.

“Tengkyu. Lah, lo nggak apus rekaman gue? Kan gede filenya?” tanya Terong, berharap rekamannya nggak disebarluaskan. Takut viral katanya. -_-

“Nggak ah, santai aja. SSD-nya bisa mencapai 256 GB bahkan ada yang sampai 512 GB. Gue download beratus-ratus episode drama Korea aja santai, apalagi cuma rekaman suara ….”

Tiba-tiba telepon gue berdering. Si Terong sebagai layaknya manusia biasa, kepo terhadap temannya satu ini.

“Halo, mas? Mau revisi desain? Meetingnya dimajuin hari ini? Jadi nanti sore jam 5?” Terong bengong melihat partnernya.

Ini orang sok sibuk amat, pikir Terong.

“Fiuh ... berarti gue harus ngebut desain nih.” Lalu gue mengambil sesuatu dari dompet kecil dan melepas layar notebook dari keyboard dock.

“Gile, dari aransemen langsung puter balik ke desain?” tanya Terong sambil lanjut menambal musik di laptopnya.

“Lo tau gak sih, Rong? Pesanan gue rame banget! Mereka bilang kinerja gue improving. Itu karena gue langsung menggambar di atas layarnya. Kalau mau revisi juga cepet.” Gue membuka software gambar, semua berjalan dengan mulus dan cepat.

“Untuk kirim file gede juga gampang karena Acer Switch Alpha 12 punya tipe wireless 802.11ac yang 3 kali lebih cepat transfer data ketimbang tipe yang biasa, yang 802.11n,” lanjut gue dengan tangan sibuk mencoret-coret layar.

“Mata lo nggak sakit? Bikin lagu di laptop, ngegambar di laptop. Ntar 7 taun lagi lo udah minus 40, lho!” tanya Terong dengan nada seperti ibu yang khawatir pada anak tetangga. Anak tetangga lho, kebayang ‘kan keponya kaya gimana? Kepo-kepo palsu gitu.

“Nggak lah, karena Acer Switch Alpha 12 ada teknologi BlueLight Shield yang menghindarkan kita dari sinar biru (blue-light hazard) yang bisa menyebabkan kerusakan retina. Lagian nih, kalo gue kerja malem nggak usah khawatir karena keyboardnya sendiri udah ada lampu backlit biar gampang ngetik pas gelap. lo kali ah, jangan sering-sering mantengin laptop sama hape,” kata gue sambil menyerongkan layar.



backlight keyboard dari acerid.com

“Sekarang coba lo liat karya gue dari sisi samping, masih tajem ‘kan, warnanya? Karena dia ada teknologi IPS (in-plane switching) yang bisa mempertahankan keaslian warna dari manapun anglenya. Jadi bisa nonton video sama keluarga yang jumlahnya buanyak karena dari samping aja masih jernih. Iya lah, resolusinya aja 2160x1440 pixel, layar 12 inch, kualitasnya QHD lagi. 2K, brooo!” kata gue dengan revisi yang sudah mau jadi.

Viewing angle stability
dari notebookcheck.net

“Lu pamer mulu dah perasaan? Udah pamer malah coret-coret layar pake bolpoin lagi, ndeso lau!” ceplos Terong.

“Ih lau kali yang ndeso. Ini tuh Acer Digital Active Pen. Dengan sensitivitas sampe 256 tingkat tekanan, lumayan banget untuk bikin sketsa dan revisi. Dan gue nggak pamer, I’m just stating the fact!” kata gue sambil menunjukkan sebaris gigi gue dengan maksud me-nyek balik si Terong.



"Terus kalo pen lo ketinggalan, gimana?" tanya Terong.
"Gampang, karena ada touchpad seluas 9.5 x 5.3 cm untuk sekedar geser-geser gambar, di kliknya juga enak dan 'renyah' aja gitu bunyinya," jelas gue.



"Rong ...," panggil gue sambil meletakkan pen di meja, "lu kebayang nggak sih? Gue bisa ngejalanin passion dan pekerjaan gue dengan lancar. Lu tau sendiri dari TK gue suka gambar. Gue nggak nyangka aja bisa menghidupi passion gue. Lebih tepatnya, passion dan pekerjaan gue serasa melebur jadi satu karena gue punya temen suportif kaya lo, Rong. Lalu ada temen suportif gue satu lagi yang powerful, Acer Switch Alpha 12 ...."

"Gue turut seneng, lo bisa nemuin jati diri lo, dibarengi dengan laptop canggih lo itu. Untuk lo yang menghidupi passion dan pekerjaan, gue acungi jempol!" Terong mengacungkan jempol namun matanya tetap pada layar monitornya.

Sambil memasukkan laptop ke tas mini stylish, akhirnya gue memutuskan untuk pamit, “Udah ya, gue mau meeting dulu. Aku sibux. Bye!”

Gue menutup pintu dengan tugas dan pekerjaan gue yang sudah rampung hanya dalam hitungan menit!

Dan Terong pun tetap – seperti biasa – bengong.

BTW gue bikin videonya juga lho, yang pertama membahas tentang Acer LiquidLoop, yang kedua bahas keseluruhan dan keduanya sama-sama keren :p


Ini yang kedua


Iniiii, video gue dengan 6 pekerjaan. Note: permainan piano di semua video dimainkan oleh Grace Monalisa Nainggolan.





*Tulisan ini untuk kompetisi Acer Switchable Me Blog Competition.

unknown-2

Sumber:

http://www.acer.com/ac/en/US/content/series/switchalpha12

http://www.acerid.com/2016/10/switch-alpha-12-notebook-dengan-performa-tinggi-tanpa-kipas/

https://blogs.windows.com/windowsexperience/2016/04/21/a-look-at-the-new-windows-10-pcs-acer-announced-today/







19 comments :

  1. Aahh.. keren banget mahmud yg satu iniiii.. goodluck ya nahla, aku suka penyajian artikelnya. Kreatif. Salam sama terong ya hahaha

    ReplyDelete
  2. Anjaaaay~ *pujian loh ini maksudnya, jangan salah paham* :3

    GIF nya lucuk lucyuuuk

    ReplyDelete
  3. Lucuuu,Kaaak. Dibikin cerpen. Gambarnya juga lucu.

    ReplyDelete
  4. Kewwwreeen, Mbak Terong, eh mbak Nahla.

    Wuih, video pertama itu gemes deh. Aku banget yg suka mencet keyboard dg drama ala pianist wkwkwkk...

    Ekspresinya yahud, mbak.
    Goodluck yaaaa 😘😘😘

    ReplyDelete
  5. Kalo ini sampe ga menang, sumpah itu penyelenggara lomba aku raguin :D. Ini review terkeren yg aku baca ttf acer :)

    ReplyDelete
  6. Menang ini mesti....menang ini mah
    Keren nahla

    ReplyDelete
  7. ini aku lihat Nahla pertama kali ngontes techno, dan supeerr kece.

    ReplyDelete
  8. Mermaid? Jadi inget jun ji hyun ����
    Etapi cakep tulisannya. Terong banget. Gud lak Nahla

    ReplyDelete
  9. Kalo sampe ini gak menang.. gak paham lagi selera jurinya sedewa apa.

    ReplyDelete
  10. daan menang, kereen emang. congrats yaa

    ReplyDelete
  11. Selamat ya mba :)
    Kereen tulisan, desain dan videonya. Mantap

    ReplyDelete
  12. Kereeenn pake bingits! Congratz, Mbak Nahla ^^ Kreatif yaa, jadi fiksi gitu. Teope sangatz!

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top