SOCIAL MEDIA

Monday, 5 December 2016

212



Kayak nama ruangan ya, bro!

Buat yang sering main kesini, mungkin tau kalau gue adalah anak yang nggak mau bahas agama dan cinta damai. Tapi karena janjian ya aku mah ayo ayo ajah.

Punya mba Windi: Catatan Aksi Bela Islam 212
Punya kak Icha: Hal-Hal yang Saya Pelajari dari Aksi 212



212, yang pasti ngebahas aksi kemarin. Aksi super damai yang menjadi aksi susulan tanggal 4 kemarin.

And no, gue nggak ikut. Tapi gue pun nggak mau judge orang yang ikut. Gue punya prinsip: semua orang berhak melakukan apa yang dia mau.

Mau ikut aksi? Silahkan. Toh kegiatannya sendiri nggak dilarang UU. Kenapa gue harus ikut menolak aksi?

Beneran deh, dari tanggal 4 juga gue merasa oke oke aja, fine silahkan.

Walaupun kita tau sendiri, tanggal 4 berakhir agak kurang romantis karena orang-orang pun tetap butuh sikat gigi untuk dioleskan ke wajah.
Poster pun masih banyak yang provokatif, okelah ini adalah bagian dari demokrasi. Tapi kita harus ingat, negara kita nggak hanya mengusung paham demokrasi. Tapi demokrasi Pancasila.

Pancasila yang mengutamakan budi luhur, keadilan, kesejahteraan dan budi pekerti lintas agama, lintas ras.

Dan terjadilah aksi kemarin, 212. Damai. Tidak ada bentrokan. Menjawab semua orang yang bilang, "Ah pasti ntar rusuh lah!"

#BOOM, rumput bersih nggak diinjak.



#BOOM, sampah sudah dalam plastik.



Dan #BOOM #BOOM lainnya.

Walau masih ada oknum yang sangat TIDAK berkeperimanusiaan, seperti orang yang sangat agresif dengan reporter. Teriak "Media kafir!" segala. Pingin nangis banget nontonnya. Kalo gue adalah reporternya, gue nangis kali. Menghadapi kemarahan orang-orang yang ampe nyenggol-nyenggol itu ... menakutkan.

Ada lagi yang godain cewek-cewek. Mau pake sorban kek, pake apa kek. Godain cewek adalah hal terkampung. Gue nggak bisa membela mereka yang bilang, "Kalo dia nggak mau, kita pelet aja hahahaha." Sorry to say, sorban lo nggak ada artinya. Ngga ada sifat Rasul yang bisa dilihat dari sifat seperti itu.

Tapi yang bikin gerah adalah orang yang menilai keimanan seseorang hanya karena dia memilih tidak ikut aksi. 

Hello, who do you think you are?

Ilmu Allah itu Maha Luas. Tafsir Qur'an aja banyak. Mahzab segala macem. Jangan ukur keimanan dan keilmuan seseorang dari kadar pengetahuan dan keimanan kalian yang amat sangatlah terbatas. Islam sendiri udah kacau karena ada gerakan teroris, jangan dibikin lebih kacau lagi.

Jangan menilai orang yang ikut demo dengan sebutan tolol juga, ya itu hak mereka kok. Berani ngatain tolol artinya berani dicap tolol juga.

Seperti kemarin JG 'menghitung' perkiraan peserta aksi dengan hitungannya, intinya: 7 juta itu berlebihan. Padahal nggak bilang, "Dasar aksi nggak guna!" hanya menyampaikan sesuatu dengan hitungan dan datanya sendiri. Tapi orang bilang apa? "Mata hatinya tertutup."

Karena JG nggak suka pamrih. Gue aja yang pamrihin JG.
JG itu sholat 5 waktunya nggak pernah skip. Bisa mengutip ayat dengan pandai. JG ngerawat anak, bekerja, ayah yang baik, suami yang baik buat Ka Icha.
JG jauh dari kata "nggak beriman" seperti yang dituduhkan.

Kalau kaya gini, makin yakin bahwa mata manusia memang sangat terbatas.
Islam udah 'tegang', jangan nambahin ketegangan lain dengan menilai kadar keimanan seseorang.

Dan jangan heran islam dipandang sebagai agama yang judgemental. Orang masih banyak kok yang menilai, memaki orang lain. Agama adalah perilaku umatnya.

Tapi, dimanapun pasti ada segelintir orang-orang seperti itu. Apapun atribut yang mereka pakai, tidak akan mensucikan yang mereka perbuat.

Tapi jangan lupa, diluar sana masih banyak pedagang mulia yang memberikan makanan gratis. Masih banyak yang menyediakan TRUK UNTUK WUDHU. Gila gue soft banget tentang truk wudhu ini entah kenapa. Memudahkan orang-orang. Bener-bener aksi yang patut dicontoh. Pengennya sih tiap demo, apapun materinya, orang-orangnya akan seperti ini.

Sumber: Jakarta Post

Gue percaya, orang sebanyak itu ternyata bisa diarahkan. Orang sebanyak itu bisa mengontrol diri untuk tidak menginjak rumput. Pedagang yang tiap harinya morat-marit bersedia menyediakan makanan GRATIS, despite of isi dompet.



Ada harapan untuk Indonesia.

Yaaa harapan gue sih orang lebih menghargai keputusan dan pendapat orang lain aja. Nggak setuju dengan si A yang nggak mau ikut aksi? Ya jangan disindir, langsung di unfollow aja. Nyindir orang di muka umum bisa membuat wajah lo secara personal sangat-sangat jelek.
Dengan lo nyindir orang, emang orang itu tau? Kan intinya lo mau ngingetin kan? Ya sok atuh message orangnya.
Kalo udah dan gak ditanggepin, jangan pait. Namanya manusia kok, beda pendapat. Apalagi sampe menilai si A nggak punya iman.

Agama bukan hanya instrumen untuk memuja Tuhan, tapi paduan hidup tentang bagaimana cara berinteraksi dengan manusia. Manusia yang setuju dengan kita maupun tidak setuju.

Muatan politis atau bukan, gue menilai yang pasti-pasti aja. Yang pasti, aksi 212 ini damai. Yang pasti, rumput monas tidak terinjak.



Yang pasti, banyak sekali kebaikan yang mengucur dari aksi kemarin. Jangan menutup diri dari fakta bahwa aksi kemarin damai. Terimakasih, papa :)

*terus bingung kenapa kemarin damai dan gue berterima kasih pada bokap*
*terus penasaran apa kerjaan bokap gue*
*HAHAHAH*
*yang pasti bukan polisi*

Overall, i'm so proud of you, guys.

11 comments :

  1. kayak film bener dah yah, apalagi pakai bumbu penangkapan...hujan di tengah hari...

    ReplyDelete
  2. Timeline ku juga heterogen..hangat cenderung panas..mudah mudahan Indonesia bisa damai dan melindungi semua masyarakatnya.

    ReplyDelete
  3. lucunya, kadang kita nyindir orang nyinyir dengan cara nyinyir balik. ahahahaha

    ReplyDelete
  4. Hehehe..endingnya,salam buat papa
    Salam kenal mbak

    ReplyDelete
  5. Setuju pake banget soal 'Semua orang berhak melakukan apa yang dia mau.' dan kalau ada yang setuju atau gak setuju gapapa, itu hak dia. Perkara agama memang isu sensitif ya.
    Tapi saya ikut bangga dengan mereka yang sudah ikut 411 dan 212 dengan damai :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. perdamaian nomor 1 deh pokoke hehe

      Delete
  6. -*terus penasaran apa kerjaan bokap gue*- kemudian jadi beneran penasaran (laah jadi fokus ke kerjaan papanya nahla duuh..)

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top