Tuesday, 22 September 2015

Visual Oriented; The Ugly Side

Ini adalah opini kedua tentang orang-orang yang visual oriented, gue pernah bikin artikel itu disini.

In case you never meet me in real life, gue adalah orang yang berpakaian sederhana.
Kalian gak akan menemukan secuil pun jiwa fashion di diri gue, makanya gue jarang banget #OOTD, karena apa? Karena baju gue ya biasa aja. Ga ada yang harus di #OOTD in, makanya gue bisa jadi beauty blogger, food blogger, mom blogger, tapi ada satu yang gue gak bisa dan gak akan menjadi: Fashion blogger.


Kalau kalian lihat isi lemari gue, penuh dengan warna biru tua, abu-abu dan hitam
Eits.. Bukan berarti gue berantakan ya, bukan berarti gue gak 'niat' dalam berpakaian, gue terbilang rapih dan layak saat berpakaian, tapi gak fashionable.

You won't find me wearing a cool overall, stylish hijab or killer heels,

Kenapa?


Karena gue orangnya emang gak begitu..


Gue gak ada minat sama sekali untuk mengekspresikan diri melalui baju, cukup dengan makeup aja.

"Lah, yang niat dong! Kan namanya menghormati lawan bicara?"

Hah? Gue niat kok, beneran. Gue udah gak pernah pakai sendal, gue selalu rapih, jilbab gue selalu gue tata sedemikian rupa agar simetris di wajah. Pokoknya, gue layak ketemu orang, bahkan gue siap dikala saat itu juga gue ikut ujian. Dan kata orang pun, gue adalah mahasiswi yang selalu rapih dalam berpakaian.

Jadi tolong ya, bedakan sederhana dan berantakan.. 


Mama dan Papa membesarkan gue dengan gaya hidup sederhana, gue tumbuh dengan baju lungsuran tante dan nyokap, dan sesekali memakai sweater bokap, yang mana membuat gue merasa tidak perlu beli aju baru, toh ada baju pemberian.
Dan believe me or not, SEMUA yang gue pakai di badan gue dari ujung kepala sampai ujung kaki (literally) adalah PEMBERIAN.
Nah, makin-makin merasa gak perlu beli baju, kan?

Jadi jangan tanya kapan terakhir gue beli baju, jangan, kenapa jangan? Ya jangan aja (...) ngapain? Emang ngaruh sama nilai tukar rupiah? (...............)

Oh, tapi Papa adalah orang yang suka beli baju dan dress up, jadi jangan heran kalo bapak gue keren, cuman gak nurun ke anaknya sih.

Dan gue pun nyaman banget dengan baju ini; gak ribet, rapih, dan nyaman.





Tapi sekeliling gue mungkin gak berpikiran seperti itu.

Ketika gue ke tempat umum seperti supermarket, mall, toko, gue merasa gak akan ada yang lirik dan mengagumi, beda saat gue masih belum berhijab.

Dulu, sebelum berhijab, gue selalu memakai dress selutut (pemberian orang), dengan rambut ikal coklat cetar, serta wedges terkadang.
Dan gue akui, banyak orang yang memalingkan mata, dan mas-mas supermarket? Oh baik sekali, selalu senyum tiap gue tanya.
Makanya, dulu gue merasa bahwa dunia ini adil, orangnya baik-baik semua, ramah semua, service orang Indonesia memang ramah ya, wah hebat deh.


Tapi sekarang, ketika gue udah gak berambut cetar, baju tertutup, gak fashionable, gue baru merasakan yang namanya di'malesin' sama orang-orang dari service industry (mas-mas, waiter, waitress, BA).

Kerasa, kerasaaa banget yang namanya tatapan males mas-mas supermarket ketika gue hanya tanya tempat pengambilan galon.

Kerasaaa banget yang namanya sejajar sama high heels kinclongnya BA Shu Uemura Plaza Senayan ketika gue ambil barang gue yang jatuh berceceran di lantai, dan BA itu cuma liatin gue dari atas gak bantuin gue samasekali, eh btw, higheelsnya tinggi juga hehe.

Kerasaa banget yang namanya dilayani tanpa ada tatap mata dari waiter, waiter yang cuma nyatet pesenan sambil ngeliat ke arah entah kemana.

Kerasaa banget yang namanya gak dilayani sama BA. didiemin doang, ditanya juga jawabnya gak natap muka.

Iya gue ngerti, gue memang sederhana, badan gue juga gendut sehabis melahirkan, bahkan gue diejek sama Arifuddin yang lebih gede dari gue -_-

Beda banget sama ketika gue masih langsing dengan wedges, pakai baju 'musim panas' dengan rambut cetar di blow tiap hari.

Dan gue merasa sakit banget di hati, sakit banget..

Kenapa orang dengan mudahnya memperlakukan seseorang dengan buruk hanya karena tampilan luar yang gak memenuhi 'standar' mereka?
Gue merasa worthless ketika berkomunikasi sama mbak-mbak atau mas-mas penjaga toko.

Kenapa dulu orang-orang baik sama gue, sekarang pada melihat gue dengan sebelah mata?

Kenapa ya?

Padahal gue udah berusaha tampil dengan rapih, make up tiap hari biar enak diliat, tetep sama-sama aja.

Kalau begitu, gak heran kan kalau banyak yang melacur biar memenuhi kebutuhan visualnya?
Biar bisa beli tas bagus, sedot lemak, sulam alis, suntik putih.

Kenapa?

Karena kalau mereka cantik, ya mereka bakal dihormatin sama orang.

Kalau mereka berbadan melar habis melahirkan kayak gue, berpakaian apa adanya, ya pasti lah gak dipandang, gimana sih?

Coba pilih bakal layanin yang mana: Cewek putih tinggi bertas Hermes dan baju modis atau  ibu-ibu gendut yang udah masuk usia 40? Ya pasti cewek Hermes lah. Padahal bisa aja ibu-ibu itu di tasnya membawa 50juta untuk membeli seisi toko, ya bisa aja.

Gue jujur pinginnnn, pingiiinnnn banget sedot lemak dan mempermak muka, gue udah kena brainwash fashion industry, semata-mata biar gue dihormati, di elu-elukan.

Orang boleh visual oriented, tapi bukan berarti milah-milih mana yang harus diramahin, mana yang boleh diacuhin.

Coba sekarang tunjuk tangan, berapa dari kalian yang gak dihormatin BA cuma gara-gara tampilan kalian yang 'gak' kayak sosialita?

Dengan begini, gue mengerti pressurenya pelacur 'high class' dengan segambreng keinginan mereka untuk menjadi cantik, sampai rela jual diri.
Nggak, itu emang tetep salah mereka yang gak kuat iman, tapi alangkah baiknya kalau orang tuh baik ke semua orang tanpa pandang bulu.

Eh serius deh, berapa banyak sih selebgram sosialita yang aura-auranya 'punya pekerjaan sambilan'? Gak perlu dijawab ya, orang yang main socmed udah pinter kok.

Ketika gue 'kurang baik' sama orang, ya karena mereka nyebelin. Bukan karena mereka cantik lantas  gue akan baik, bukan karena mereka jabatannya tinggi lantas gue mendewa-dewakan mereka.



Cuman................ Itulah intinya hidup sederhana, kan?
Harus tahan ketika direndahkan, justru harus merendahkan diri.
Disitulah tantangannya, dan disitulah kita dapat belajar, dari kesederhanaan itu sendiri.

Ayo, kita sama-sama belajar menghormati semua orang bagaimanapun penampilannya, kita jaga perasaan mereka bareng-bareng, kita bangun mental orang Indonesia yang sehat, kita ciptakan suasana suportif untuk anak-anak kita nanti. Society kita udah terlalu gak sehat, harus ada yang bisa memperbaiki.

Mulai sekarang, yuk kita support sesama, gue yakin support kecil dari kita bisa membawa banyak perubahan bagi mereka.

Menyangkut quote di atas, mungkin kalimat "Control your anger" bisa gue edit menjadi "control your bitterness".




*hiks*















---------------------------------------


Halo! Aku mau ngenalin salah satu cabang dari HaloTerong! Yaitu HaloHeader!
Disini terima jasa design header yang lucu-lucu banget lhooo, semuanya sesuai dari apa yang kalian mau!
Bisa dilihat portfolionya disini, let's chibinized your online persona!


18 comments :

  1. Aku juga ngerasain gtu kak T.T
    Dlu waktu main ke mall msh pake bju sekolah muka bentuk ny gak tau gmana, padahal mau beli buku yg d pake untuk besoknya.
    Sekalian sih mau cri lipstick gtu, dipandanginny gak enak bget.

    Giliran gak pake bju skolah, rapihan . Mreka sok ramahh.


    kawaii-diary98.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Ya, gitu deh... apa yang kamu rasain sering aku rasain juga, haha. Lebih-lebih mereka memandang aku kaya anak kecil yang gak tau apa2. Karena selain sederhana, badanku kecil pula kaya anak SMP.
    Ya pokoknya begitulah rasanya. Kesel.

    ReplyDelete
  3. kalo saya malah jarang dibegitukan, padahal pakainya lebih serem lg, cuma nongol matanya.. yang penting, senyum :)

    ReplyDelete
  4. It's just happened to me maren siang! :D

    Lagi nanyain harga powerbank di toko hape. Waktu itu habis naik bemo panas-panasan jadi muka keringetan. Pake setelan kerja (kemeja dan celana kain) sih, cuma ketutup jaket dan bagian leher ada slayernya. Emang sih keliatan nggak rapi, padahal makeupku masih utuh lho (the power of foundation!) cuma keringetan aja di dahi.

    Ihhhh mbaknya yang ngelayanin duileee mukanya underestimate banget. Aku mergokin dia ngeliatin sepatuku yang shiny sambil mukanya malesin gitu :/ Trus lama kelamaan pertanyaanku dijawabnya nggak se-excited pas awal. Jadi males ngelanjutin akhirnya aku nggak jadi beli di situ -_-"

    Maksudku, kenapa ya mbak2 BA/SPG itu kalau ngelayanin selalu judge the book by its cover? Kalau penjualnya sendiri jarang yang begitu lho, menurut pengalaman sih... Is it the matter of education? *bertanya pada rumput yang bergoyang*

    I wish those BAs read this post and learn from it :')

    ReplyDelete
  5. Hi sis, aku juga sering banget digituin. Badanku gemuk banget, yang paling ngeselin emang BA makeup gitu. Kerasa banget disebelah ada ibu-ibu kinclong malah dilayanin terus. Aku manggil dia kudu beberapa kali baru dia mau ngelayanin, itupun gak seramah ke orang lain.

    Padahal, hello, kita sama-sama manusia. BA itu ngerasa dirinya lebih tinggi/cantik gitu daripada kita? Pengen banget rasanya bilang ke atasan brand-brand makeup gitu supaya cari BA yang ramah dan tulus.

    Salam kenal ya.
    nikenrosececiora.blogspot.com

    ReplyDelete
  6. Mbak gak sendiri kok mbak.... yaa itulah org indonesia... hy melihat seseorng dr tampilan luar....beda dg org2 luar yg lbh menghargai otak drpd penampilan...solusinya; gk usah deket2 sm llingkungan yg begitu

    ReplyDelete
  7. Aku mau ketawa dulu ....

    Mentertawakan postingan yang rasanya familiar banget waktu aku masih kuliah dulu. Aku gak tau kenapa orang-orang yang mba sebutkan di atas itu, ada yang melirik sinis, atau bahkan gak di lirik sama sekali dan gak pengen tau sama sekali ketika mereka bersikap seperti itu. Maklumlah, dlu pas kuliah tememan sama cewek-cewek modis versi berhijab, nah pas lihat aku dalam anggota kelompok cewek2 modis iti, mungkin mereka cuma memandang sebelah mata hehe

    Tapi membaca postingan ini aku sedikit sadar, mungkin ini alasan sebenarnya kenapa aku jadi begitu "dioerhatikan" oleh mba-mba cantik ber high heels itu. Untungnya dulu aku gak pernah peduli, makanya gak pernah sakit hati.

    Alias cuek bebek wkwkwkwk .....

    ReplyDelete
  8. Eh kalau aku lebih parah Nahla. Kalau keluar rumah pasti pake baju warna biru dongker atau ungu tua. Dari atas ke bawah warnanya sama semua. Mana muka juga gak kelihatan. Tapi kalau ada cowok2 geje lewat dekat aku mereka langsung minggir ngasih jalan, berasa putri :D

    Lebih baik sederhana dari pada tabaruj. Kalau mau dengerin orang ngomong sih gak ada selesainya. Be yourself ajah :D

    ReplyDelete
  9. hiks.. kayaknya hampir semua wanita-wanita mengalami ini ya.. aku juga pernah
    karena ga sempet yang namanya ga makeupan di pagi hari pdahal baju kece.. cuma pada ngeliatin kayak aneh.. akhirnyua setiap kali di liatin gue membuka suara " napee ga pernah liat cewek cantik " biar puas aja sekalian

    ReplyDelete
  10. kayaknya udah jadi fitrah manusia buat judge a book by its cover. harus mengalami dulu diunderestimate baru nanti sadar bahwa ada pilihan, mau memperlakukan orang berdasarkan apa :D

    ReplyDelete
  11. Suka sama tulisannya :D

    Iya emang kerasa bgt bedanya pas dulu masih blm berhijab dan sesudah berhijab kalo lagi jalan-jalan, apalagi aku jg bukan tipikal org yg fashionable dalam berhijab.

    ReplyDelete
  12. Eh ini postingan sedih ya?!
    *pukpuk

    Mau komen lucu2an ga jadi deh, takut dibilang ga empati.

    Intinya sis, biar kata lu beli seluruh kosmetik Dan butik di dunia ini, lu ga akan bisa menyenangkan hati SEMUA orang, termasuk si BA atau org2 lain yang nganggap style lu ga seperti standard mereka.
    Jadi ya, apa adanya Dan senyamannya aja sis.
    Hehehehe.

    ReplyDelete
  13. Kadang aku malah lebih nyaman saat belanja gak diikutin sama SPG/karyawannya. Di situ the power of tampilan "gembel" (menurut mereka) berfungsi. Cuma sebel aja kalau lagi butuh nanya, akhirnya dicuekin atau dijutekin sama mereka.

    Aku juga ga suka komentar SPG yang (menurutku) menyakitkan seperti:
    "Produk ini aja kak, bagus kok buat kulit berjerawat" *sambil liat jerawat aku yang lagi meradang

    :'(

    ReplyDelete
  14. Haahhaa, iseng aja Nah bilang "Berasa cantik, ya Mbak?" mereka SWT banget -___-

    ReplyDelete
  15. Err karena dari dulu nggak pernah diistimewakan ama waitress dll, jadi beneran nggak ngeh. Tapi yaudalah, emang nggak ada pengaruhnya di hidupku. Lol

    CokelatGosong.blogspot.com

    ReplyDelete
  16. Waks, ini aku banget. Coba kalo pas lagi pake baju kuliah (karena kampus punya seragam khusus yang wajib dipakai) dan giliran mau nanya make up, disinisin sama BA coba. Kayak ngomong "lu yakin punya duit beli ini make up? Muka lu kan kucel banget."

    Jangankan make up, pas beli hape aja di judge sama yang jaga counter karena lama duduk nongkrong di sana tanpa ada tanda-tanda beli hape (padahal nungguin sales hape yang diinginkan + di tangan pegang hape yang fix dibeli). Sampe disuruh pergi dan kesal, keluarin debit card sambil ngomong "Eh mbak, saya punya uang buat bayar barang ini ya. Dan tachi yang punya toko aja gak ngusir saya, kenapa mbak yang sewot sih?"

    Kebetulan yang punya toko denger percakapan ini dan akhirnya marahi karyawannya itu, lol. Dan soal diistimewakan, aku malah diistimewakan kalo bawa teman cakep kalo ke suatu tempat. Ya gak kesal sih, soalnya biasanya yang begini suka traktir kalo aku beli sesuatu #senang

    ReplyDelete
  17. Beuh, sama saja dengan saya. Waktu jalan2, ngeliatin ibu2 gahol yg dilayani ruamaaaah banget sama si BA. Giliran saya, si mbak2nya dengan tampang males (mungkin saya kebanyakan nanya kali ��). Temennya malah nawarin skincare buat kulit jerawatan saya (miris). Pas saya bilang " udah pernah pake tapi gak cocok" (emang bener tuh skincare gak cucok sama saya), eh dia keliatan nyinyir. Helloww, bisa aja saya laporin ke managernya, cuma gak tega juga. Intinya, jangan nge judge orang dari luarnya. Salut sama mbak Terong �� buat postingannya

    ReplyDelete
  18. happened to me (and mom) too...karena udah gak tahan lagi, gw lapor aja langsung ke manajernya. Ya kali klo gue...nah ini nyokap nanya sopan-sopan dilihatin dari atas sampe bawah (padahal nyokap rapi jali lho), terus gak dijawab pula, dan nggak sekali itu pula. Pada saat yang sama diulang sampai 3 kali, nyokap sih sabar-sabar ja, guenya yang nggak tahan, gue langsung tanya manajernya mana, langsung komplain saat itu juga

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top