Wednesday, 19 August 2015

Cieee, yang Visual Oriented...

Kalau kalian follow Instagram gue, kalian pasti ngeliat posting gue yang terbaru: Gurame Asam Manis.
Oh, dengan caption "Pamer Material" dong, lengkap dengan hashtag #foodporn segala macem.
Nahla mah anaknya gitu.


"Kok sombong?"

Kok sombong? KARENA GUE GAK BISA MASAK.

Damn, gue masak nasi goreng aja kadang minyaknya kebanyakan, bawangnya pait.
Jadi ketika gue berhasil meng-execute masakan sekaliber gurame asam manis mah gua pasti pamer lah, wong itu makanannya susah dan ribet pisan untuk emak cemen macem gue. Biarin lah katain aja gue pamer, makan omongan sendiri, gak papalah gue pamer, itung-itung pencitraan.

Jadi, kemaren gue nginep di rumah sendiri (biasanya nginep di rumah mertua atau rumah nyokap), bertiga sama suami dan anak, lalu gue sok-sokan minta diajarin makanan yang ribet biar ada kemajuan gitu sebagai ibu rumah tangga.

**Buat yang belum tau, Brian itu jago masak, dia pernah mengenyam pendidikan kuliner selama 1.5 tahun**

"Yang, ajarin aku masak yang ribet-ribet dong"
Yaudah, akhirnya dia mengusulkan untuk masak gurame goreng. Maksudnya gue yang masak, dia yang ngasihtau langkah-langkahnya dari jauh.

Lalu kami memutuskan untuk belanja di Pasar Modern, dengan segala skill menawar sambil gendong anak, akhirnya kami menghabiskan kurleb 120.000an. Glek.

Lalu habis itu gue memasak, teorinya sih sebenernya mudah: Buat saos, goreng gurame, tuangin dah ke saosnya.

Dan sejauh ini, beginilah hasilnya:





Keren ya? Cantik ya?! Wuih sok atuh tepokin dulu *plok plok plok*
Hoanjir kampung pisan.


Ya, itulah masakan gue, yang kurang lebih Instagram-able, pamer-able, bisa ditaro di portfolio kali aja ada yang mau bikin buku tentang gue.

Seperti yang gue bilang, teorinya sih mudah, tapi ternyata ribet loh. Yang bikin ribet itu preparationnya.
Preparation itu kayak motong-motong nanas, bawang, paprika, jahe, ngerendem asem jawa dan tetek bengek yang kecil-kecil tapi membutuhkan banyak sekali waktu dan kesabaran. Proses ini aja bisa 20 menit sendiri (maklum cemen).

Tidak sampai situ, gue harus membersihkan ikan: Mengaliri di wastafel, mencuci insang-insang dalem yang kadang suka tajem, lalu mem-fillet ikan.

Filletpun ternyata susah, potong sana dulu, potong sini dulu, potong itu, lalu digosrek-gosrek pisaunya sampai dagingnya lepas dengan indah, belum lagi kalau pisaunya gak tajem dan bikin stress. Lalu harus di marinade dulu selama 15 menitan.
Tidak sampai situ, harus dicemplungin tepung, cemplungin telor, balik lagi ke tepung, baru goreng. Dan proses ini lebih lama dan monoton dari yang lu bayangkan.
Walah pokoknya usaha banget.

Gak main-main, gue membutuhkan waktu selama 1.5 jam untuk buat menu ini.
Apalagi ditutup dengan quotesnya Brian,



"Kurang seasoning"


Teeettt huououououououowwwwwwww, bodo amat dah yang penting Instagram-able.
Random thoughts: Brian harus jadi juri Masterchef. Gantiin Matteo. Yang sebenarnya adalah pembalap motor. Bukan. Chef.

dan GAK SAMPAI SITU, suasana kitchen pun riot dan chaos sekali




Dengan segala tepung-tepungan


Dengan perjuangan segini banyakpun, makanan gue tetep gak enak-enak banget. Perjuangan gue selama 1.5 jam itu gak terlalu terbayar seperti yang diperkirakan.

Melihat hal kayak gini, gue jadi inget semua restoran yang gue nyek-nyek-in (baca: kata-katain) di blog gue yang lama, gue sering berkomentar pedas dan seringkali mengatakan bahwa restoran ini gak worth it, overpriced, etc etc

Dan guepun juga pernah bilang bahwa macaroon di TWG itu gak enak.

Gue jadi merasa bahwa gue gak adil kalau sembarangan mengatakan opini yang 'miring' tentang sebuah restoran, padahal gue gak tau perjuangan mereka seperti apa untuk membuat satu piring yang akhirnya gue kata-katain itu. 
Gue gak tau seberapa ribet mereka membuat makanan yang gue beri opini berdasarkan pikiran simple gue.
Gue gak tau kalau ternyata makanan itu dibuat 20 menitan untuk gue habiskan hanya dengan 5 menit.


Dengan pengalaman kemarin, gue paham bahwa gue gak boleh sembarang melempar opini jelek terhadap sesuatu, karena bisa saja sesuatu tsb melewati proses sulit yang gak bisa dibayangkan.


Dan gue juga paham bahwa, dibalik keindahan, ada tepung yang berserakan.

Dibalik keindahan, ada sesuatu yang harus diberantakin.
Dibalik keindahan, ada usaha ekstra.

Dan ternyata, ini bukan hanya terjadi pada gurame gue doang.
Ini bisa diterapkan di segala objek.
Seperti wanita.


Wanita, mengaku atau tidak, selalu dilihat dari luarnya saja.
Betul?

Semua orang ingin kelak istrinya menjadi cantik, ketika punya anak akan tetap langsing.
Semua orang ingin memiliki satu teman cantik yang bisa diajak foto bareng, untuk meningkatkan status.
Semua orang ingin memiliki anak cantik yang bisa dibanggakan kala pertemuan keluarga.

Betul?

Dan boom, munculah cewek cantik ini.
Cewek dengan make up sempurna, badan bagus serta berlenggak-lenggok dengan high-heels dibalut pakaian berkelas.
Ketika melihat cewek ini, cewek lain bisa aja nyinyirin, "Ih gak natural, norak banget kayak tante-tante", sembari dalam hati mengagungkan diri sendiri, "Mendingan gue, natural, baju sederhana, gak neko-neko". Yang kayak gini juga termasuk sombong, betul? Sombong atas kesederhanaannya.

Cewek ini terlalu gorgeous, sangat membanggakan jika digandeng, dan sepertinya dunia berputar di sekelilingnya.

Namun dibalik sempurnanya makeupnya, terdapat meja rias yang berserakan tube-tube lipstick, bulu  mata berceceran, lemari berantakan karena sibuk mencari baju yang cocok, rambut rontok di lantai karena keseringan di curl,  dan tidak jarang kaki yang lecet akibat sering memakai high-heels. Oh, jangan lupa wajah kucel di gym demi menjaga bentuk badan.

Dan semua itu, believe me, gak mudah.

Untuk menjadi cantik itu gak mudah, setidaknya butuh modal berupa ketelatenan DAN financial. \DUID.

Si cewek ini nasibnya sama aja kayak gurame goreng yang gue buat; udah capek-capek dandan, total butuh 1.5 jam, uang bulanan fitness 300rb, belajar fashion, udah cantik, tetep aja dinyinyirin sama cewek-cewek lain yang usaha dress-up aja nggak ada.

Kan kampret.

Makanya, banyak orang yang visual oriented, yang artinya berorientasi pada apa yang orang itu lihat.
Awalnya, gue antipati sama orang yang visual oriented ini, tapi lama-lama gue ngerti, bahwa orang ini menghargai jerih payah orang lain yang berusaha tampil maksimal.

Believe me, untuk menjadi lebih cantik itu susah.

Ya, okelah kalau lu gak suka cewek bermake-up, yang kata lu "gak natural"

Sekarang gue kasih contoh, cewek natural no make-up yang cantik banget idaman cowok-cowok banyak maunya


Miyake

Cantik banget walau no make up, pasti orang-orang yang gak ngerti mikirnya cewe ini udah cantik natural, gak usah perawatan dan gak neko-neko, kan?

Salah.

Jangan egois.

LEBIH MUDAH jadi cewek cantik karena make-up
dibanding cantik natural!!

KENAPA? Karena dibalik cantiknya dia, ada biaya yang gak sedikit, no-no, harga mah gak bohong:

-HARUS CANTIK DARI SONONYA.
-Kalau udah cantik, tunjang lagi sama plastic surgery. Bayangin deh, si Miyake ini udah cantik tambah oplas, ya makin menjadi-jadi lah cantiknya
-Gym
-Eyebrow extension
-Lash extension
-Biaya laser wajah
-Skincare wajah yang kalau ditotal bisa sampai 3 juta
-Baju bagus
-PERAWATAN RAMBUT
-dkk dkk dkk

Kalau cantik make-up itu mahal, cantik natural itu LEBIH MAHAL LAGI. Makanya lebih banyak cewek pake make-up.

Jangan polosan banget dong, pake bilang kalau cewek cantik natural itu bener-bener 'natural' alias gak ngapa-ngapain.

Kecuali emang jenis wajahnya bagus, gak ada masalah kulit. Tapi kasus ini lumayan sedikit loh di kalangan wanita.
Yang mukanya jerawatan aja usahanya udah gila-gilaan, eh masih aja diejek.

Yang penting tuh pake baju yang rapih, jangan keseringan pakai kaos sama jeans untuk ketemu sama orang, merawat diri, berperilaku dengan anggun, karena itu bentuk dari menghargai orang lain.

Makeup lah dikit-dikit, untuk yang syar'i kan emang gak boleh tabarruj (berhias diri), tapi make-up juga gak selamanya untuk berhias diri lho.
Contohnya, bisa pakai concealer untuk menyamarkan lingkran hitam bawah mata, menyamarkan bekas jerawat agar orang gak merasa terganggu, pakai lip balm dikit agar gak pucat, tapi kalau bibirnya emang udah merah sih gak usah. Makeup ini lebih ke kayak me'normal'kan diri daripada mempercantik diri. Lu gak akan terlihat lebih cantik dengan teknik ini kalau emang dasarnya gak cantik, tapi lu akan terlihat lebih segar dan menghargai lawan bicara dengan menghilangkan ekspresi ngantuk dan lelah dengan concealer.

Tapi ya tergantung kepercayaan masing-masing sih.




Ko dari gurame jadi ke make up sih? Jaka sembung bawa golok.

28 comments :

  1. Waaahhh ijin share yaaa,,spy org2 g nyinyir mulu kalo liat org berusaha tampil cantik :D

    ReplyDelete
  2. Whhh kaget juga dari gurame sampe ke blogger~

    Tapi setuju sih cantik udah harus ada usaha. Ga ada cewe yg ga cantik yg ada cewe malas.

    impiccha.com

    ReplyDelete
  3. Nah ini ni kemarin ada yg dinyinyirin sm orang yg gk suka dress up " alah cantik karna make up aja bangga , yg natural banyak ".
    Padahal Yg natural aja perawatannya tothemax bgt, biaya berpuluh2 juta.

    Susah payah dress up berjam2, dinyinyirin sm orang yg gak ada usaha dress up sm skali rasanya pingin makan orang -,-


    *oke ngelantur xD.

    kawaii-diary98.blogspot.com

    ReplyDelete
  4. Blog km lucu deh, drtd baca2 sambil senyum2 ^^

    ReplyDelete
  5. Perumpamaan si ikan gurame kok bisa nyambubg sama isinya.hahaha.. ya ampun, masak itu susah ternyata. Duh, gimana aku yang ga bisa masak dan ga pernah ke dapur. Mungkin dapurnya bakal berantakan banget.hahaha..
    Ngomong" soal kaos+ jeans. Itu aku banget loh! Pertengahan tahun ini aku mulai meninggalkan kaos+ jeans or kaos+ celana pendek. Bye..bye.. kaos sayang, krn aku udah selingkuh sama baju perempuan yang bisa membuat aku menghargai orang lain. Hiks...
    Padahal kaos itu nyaman banget untuk dipake disituasi cuaca yang panas-dingin... Karena motivasi sang pacar & saudaraku yang memberi contoh tentang berpakaian marketing/ salesman yang rapih, sejak itu aku mencoba untuk move on. * kasih semangat untuk diriku dong, mevlied nahla. *

    www.aloha-bebe.com

    ReplyDelete
  6. hahaha aku pikir aku nyasar koq jadi baca gurame gini yaa -_- ternyata keren deh! Setuju sama postingannya! XD

    ReplyDelete
  7. No one falls in love with your personality at first sight!

    ReplyDelete
  8. Jadi kesimpulannya? :v
    Yah sebagai visual oriented mah yang penting gak asal ngejudge aja gitu dweh.

    ReplyDelete
  9. Jadi kesimpulannya? :v
    Buatku yang penting kita bisa menghargai apa yang bisa kita lihat, karena dibalik itu ada proses yang nggak kita tau seberapa sulitnya kan.

    ReplyDelete
  10. aku suka miyakeeeee. karena cakep banget, f lah. kesel liat dia. mana badannya bagus. :|

    ReplyDelete
  11. Setuju banget deh sama postingannya, two thumbs up ;)


    Bloggerndut.blogspot.com

    ReplyDelete
  12. sesuatu yang sulit selalu indah pada waktunya haha,

    www.holalia.com

    ReplyDelete
  13. wah quotenya dandan itu untuk 'menormalkan'. im agree. tapi aku lbh enak perawatan kaya maskeran, krim malam, drpd dandan alisan, dan bedak tebelan.
    abis kalo wudu kan keapus lagi *dasar males aja bari jeung gabisa juga makenya* hehehe.

    ReplyDelete
  14. tapi aku pernah denger kata orang, kalau yg syar'i itu bukan bener2 enggak pake apapun di wajahnya.. karena itungan tabaruj itu bukan make up doang,tapi keseluruhan badan.. berias itu diperbolehkan, yang bikin enggak boleh itu kalau niatnya misal buat narik perhatian cowo, biar digodain gitu...
    tapi g tau juga sih ya..

    bener tuh, yang penting rapi.. dari atas sampai bawah kan enak dilihat kalau rapi. jadi enggak keliatan "kotor / dekil"

    hargai usahanya/prosesnya, karena ga setiap usaha hasilnya bakalan berhasil..
    contohnya aku sendiri yg masih suka jerawatan T_T , org lain kan g tau ni usahanya buat ilangin jerawat kaya gimana.

    suka sama postingannya :D

    ReplyDelete
  15. engg.. yang syar'i dan menghindari tabarruj itu umumnya juga yang gak banyak bawel sama orang bermake up, nampaknya. biasanya yang nyinyirin orang make up ya yang males dandan, gak bisa dandan, gak mau usaha, tapi punya waktu buat nyela orang. eng. sorry. hahaha kadang suka geregetan sih sama cewe biasa-biasa aja yang asal ngejeplak nyela orang. walaupun gue pribadi pun orang yang males make up, tapi seneng aja gitu liat orang lain kalo make up dan.. rapi. :p

    anyway, itu kurang berantakan dapurnya *gagal fokus*

    ReplyDelete
  16. Bener. Buat jadi cantik itu gak gampang. Ada usaha dan mahal pula jalan menuju ke sananya. He.

    ReplyDelete
  17. Hahahaha ngakak ^^
    Yang penting saling menghargai ya mau gimanapun kondisinya termasuk gurame seharga fitness

    ReplyDelete
  18. Suka suka suka tulisannya!

    ReplyDelete
  19. Sy jg heran kok gurame jd cewej cantik xixixi

    ReplyDelete
  20. Gue pernah pake liptint waktu kuliah (kebetulan tmn2 gue emg belum pd suka dandan, gue jg br belajar dandan) terus tmn gue ada yg berkomentar "iiih, lihat deh ada yg mau ngelenong!" Hahaha jleb bgt pdhl alasan pakai liptint emg bibir gue agak gelap warnanya. Then few weeks later tmn gue itu whatsapp gue "waktu itu liptint lo merk nya apa?" AHAHA aduh rasanya itu.... Pengen teriak di kupingnya, "kenapa? Lo mau ngelenong?"

    ReplyDelete
  21. Nahlaaa .. tulisan lo jujur banget, aku sukkaaaaa ..

    Nice post :)

    ReplyDelete
  22. endes top markotop caca marica...ngomentarin blog ini, lama-lama baca blog ini jadi sutris empiris (apa toh) .. yang penting saling menghargai ,, cukup..
    terus kapan Brian mau gantiin Matteo ? #nahla eh #nahlo xixi

    ReplyDelete
  23. Heheheehehe... Beneeer bangeeet.. Usaha, stay natural et PD ajaaaa.. Yang penting semangaat #eeeh.. Komentarnya jadi kebawaa jugaaa hehehehe

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top