Monday, 31 August 2015

Putri Pak Haji dan Susu Formula.

Gambar dari LINE Deco


Apasihhh.. akhir-akhir ini ngebahas susuu mulu, habis gimana ya? Topiknya hot banget sih, gak pernah pudar, selalu jadi perdebatan ibu-ibu Indonesia yang melek ASI dan melek sosmed :')

Sekarang, banyak banget kan yang buat asosiasi atau grup yang menggalakkan ASI? Contohnya: AIMI, Asi for Baby, dan lainnya.


Dan forum/organisasi/asosiasi ini membuka mata banyaakk sekali ibu-ibu yang kesadarannya kurang terhadap ASI, yang awalnya menganggap ASI itu biasa aja, sekarang sadar bahwa ASI itu ya... makanan terbaik untuk bayi.


Terimakasih, grup-grup ASI!


Dan tulisan ini BUKAN, sekali lagi, BUKAN untuk membandingkan ASI vs. SUFOR, karena kita semua sudah TAHU mana yang lebih baik, yaitu ASI.

Tapi di tulisan kali ini, gue ingin sekedar berbagi sudut pandang aja.


***

Pada suatu hari, gue bersama suami dan mertua lagi makan malam di restoran Sunda yang terletak pada kawasan Cibubur, kami sedang bersenda gurau, lalu kami bertemu temen mertua.

"Nahla, ini Pak Haji... Temen Mama..."

Beliau adalah tipikal Pak Haji; berpeci, usia 60an, rambut memutih, memakai baju koko dan sarung, serta semacam syal bermotif kotak-kotak a la Timur Tengah. Istrinya berpakaian sederhana sambil menggendong cucu yang masih bayi, menantunya memakai kacamata yang membuatnya terlihat seperti programmer, putrinya, dan 1 anak balita yang berlari-lari kecil menuju meja.

Gue amati keluarganya satu-persatu, tidak ada yang salah, tipikal keluarga Indonesia yang sederhana.... Sampai gue melihat kaleng sufor dan dot kosong yang dipegang putrinya.

"Ini pasti buat cucunya yang masih bayi!", pikir gue dalam hati.

Entah kenapa, 'kaleng susu' dan 'dot' bisa membangkitkan rasa risih gue dalam hitungan detik.
Dan buruknya-sangat buruk malahan-gue membatin,

"Kok pake sufor sih? Katanya anak Pak Haji? Katanya keluarga islami (karena menyandang gelar haji)? Tapi kok anjuran Al-Quran tentang pemberian ASI sampai 2 tahun gak dijalanin? Coba liat bayinya, ini mah bayi 6 bulanan! Masa usaha dikit doang buar nge-ASI gak mau? Lagian kolot banget sih, masih mikir bahwa susu formula itu yang paling baik karena iklannya lebih keren, bla bla bla...."

Dan di dalam batinan gue, gue sangat membanggakan diri dengan ASI gue, karena gue bisa bangkit dari ASI seret dengan segala perjuangan, GAK KAYAK DIA yang "kayaknya" nyerah sama ASI dia sendiri.

Tapi, segala pikiran buruk gue hilang seketika ketika Pak Haji bilang,

"Iya, ini anak adopsi."

Jleb.

Rasanya gue pingin istighfar, minta maaf secara langsung ke putri Pak Haji tentang batin gue yang sangat sentimen dan judgemental sekali, sampai bawa-bawa gelar "haji" dan Al-Quran, padahal itu semua cuman asumsi, gak lebih.

Apalagi dia berani adopsi anak, yang mana gue aja gak berani adopsi anak, padahal anaknya yang pertama juga masih kecil, masih diladenin banget.

Ternyata, kita gak bisa mengambil kesimpulan hanya berdasarkan apa yang kita lihat. Bener gak sih?

Dan saat itu juga gue mulai sadar, sejak kapan gue jadi penggiat ASI garis keras begini?
Padahal dulu, gue ya biasa aja tentang ASI-Sufor, walaupun dari dulu memang gue udah ngerti pentingnya ASI, tapi gak se-fanatik, se-ekstrim dan se-judgemental ini.

Dan kesimpulan singkat yang gue ambil sejauh ini: Fanatik itu menyebalkan, dan tidak menyenangkan sama sekali.

Gue harus menghargai putri Pak Haji yang memberikan anaknya sufor, karena di luaran sana banyak anak yang dikasih BUBUR NASI, yang bisa menyebabkan kematian bayi.

Gue harus menghargai putri Pak Haji yang rela merawat, menjaga, menimang anak yang bukan darah dagingnya sendiri, kerelaannya untuk mengadopsi anak bayi yang ditinggalkan orang tuanya.

Dan gue tersadar bahwa... Sufor itu bukan hal yang haram.

Sure, ASI itu memang yang terbaik bagi bayi, tapi sufor itu bukan barang haram.
Kalau memang adopsi, dan gak memungkinkan untuk donor ASI, ya apa lagi selain sufor?

Eitssss, tapi ingat ya, ASI itu yang paling baik! Kalau anaknya adalah darah daging sendiri, gak ada alasan untuk tidak memberikan ASI, selain masalah pada kelenjar susu.





Moral pada tulisan ini adalah: jangan sok tau.

Udah sih gitu doang.

19 comments :

  1. moral lainnya: jangan nge-judge duluan. hehehe...

    kadang saya juga suka mbatin sih, tapi nggak seekstrim itu. pasti ada alasan kenapa seseorang pilih A atau B. kita cukup berdoa, semoga bisa pilih yang terbaik untuk apapun itu.

    ReplyDelete
  2. Iya bener. Jangan sok tau. Haha... Di sini bahasannya sih judge Asi dan Sufor. Tapi aku jadi inget-inget beberapa sikapku yg emang terkadang suka sok tau dan ngejudge seenaknya. Introspeksi... :3

    btw, sekarang aku belum punya anak. Nikah juga belum. Jadi belum bisa komen banyak ttg Asi-Sufor. ;)

    ReplyDelete
  3. Ah gitu ya mb
    Dulu waktu kecil kyknya pas bayi aku dah dimaemin pisang sm ibu, mungkin ibu sekarang uda byk pengetahuan kali y

    ReplyDelete
  4. Baca ini jadi inget sama tanteku. Tanteku udah lama mau punya anak, hampir 10th rumah tangga blm dikasih momongan aja, akhirnya tante memutuskan untuk adopsi anak. Dari kecil dikasih sufor, alhamdulillah anaknya sehat dan gak kekurangan gizi walau gak pernah dikasih asi :')

    ReplyDelete
  5. Iya, akan lebih baik jika mengurangi menjudge orang lain, agak susah sih ini. Kudu latihann

    ReplyDelete
  6. Hmmm.. masing masing orang punya opini sendiri ya

    ReplyDelete
  7. aku sih krn cuek bgt kali ya orgnya... jd ga peduli ama si A lbh suka ngasih asi ato sufor utk anaknya.. :) Toh itu urusan pribadi org.. aku sndiri juga ga bisa kok ngasih anakku ASI.. jd ga punya hak samasekali utk menjudge org2 lain yg jg ngelakuin hal yg sama :)..

    ReplyDelete
  8. begitu ketemu sama orang yang memang gak ada pilihan lain selain itu, kita baru engeh kalau kita ternyata judgemental ya mak.. :D

    ReplyDelete
  9. Mulia sekali keluarga itu ya Mak. Tetanggaku ada yg karena keadaan ekonomi dan anak sdh banyak merelakan anaknya diadopsi temennya bapakku dari sejak lahir. Alhamdulillah dirawat dgn sangat baik, gizi dan materi semua terpenuhi.

    ReplyDelete
  10. ngomongin sufor, aku pernah kok ngasih anakku sufor, karena darurat, 3hari pertama asiku gk keluar sama sekali, kalau sudah keluar colostrum. inget, ya... DARURAT! kadang suka sebel kalau yg fanatik gitu, toh saya juga maunya pake asi, kata bidan juga gapapa pake itu sambil nunggu asinya keluar, dan berusaha dirangsang juga. 2 kali punya anak kasusnya sama lhooo... jadi kalau ada yg pake sufor karena asi kurang, saya suka ngerasain gimana rasanya...

    ReplyDelete
  11. jlebb..semoga kita dijauhkan dari buruk sangka dan menganggap diri hebat aamiin

    ReplyDelete
  12. Setiap orang yang ngasi Sufor ke anak..pasti ad alasan kuat, bukan bearti mengganggap remeh ASI. memberikan info pentingnya ASI sangat baik. tapi bukan bearti harus ngejudge ,benci dan muak pada orang ..yang memberi sufor .

    amal tulus..akan hilang dan sia-sia jika ada rasa sombong,..ria..merasa hebat ....walau semua cuma terbersit dalam hati... karena rasa itu timbul...dari rayuan syaitan, yng ingin menjerumuskan kita ingin pahala kita terhapus.. *wallahualam.

    setuju.. mba:
    Fanatik itu menyebalkan, dan tidak menyenangkan sama sekali.

    karena itu Allah ga suka sama yang berlebih-lebihan..ntah terlalu..benci ataupun cinta...

    maaf kepanjangan...he2

    ReplyDelete
  13. kalo saya gagal paham dengan ibu yang nggak mau kasih ASI ke anaknya dengan alasan takut payudaranya kendor/ rusak padahal ASInya ada sampe rembes2 ke baju si ibu -__-

    ReplyDelete
  14. pesan moral x memang sering skali dilupakan ... Penting nih

    ReplyDelete
  15. pesan moral lainnya, "Jangan su'uzon"
    hehe ..

    setuju tuh mak, sufor itu bukan yang terbaik, tapi ga haram !

    Nice post :)

    ReplyDelete
  16. menyebalkan ,, hahaha,, baca judgement nya, ouh panjang amir yak..dan nggak ada bagus2nya,, pesan moralnya memang nggak boleh ya gitu lagi,, #catet #selfReminder (note:seru baca blognya)

    ReplyDelete
  17. wow, jleb banget mak, aduuh jadii kepikiran jangan2 pernah ngebatin juga hiks...

    ReplyDelete
  18. You do learn your lesson ;)... Memang kadang kita heboh dengan asumsi et penilaian kita sendiriii ya..

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top