SOCIAL MEDIA

Wednesday, 26 April 2017

Cinta yang (Tidak Boleh) Diperjuangkan


I SOUNDS LIKE A GALAU WOMAN, WHY?!
Ngga kok, gue lagi nggak galau. Gue lagi nggak mencintai orang yang salah lah zzz.

Tulisan ini pure sharing, dari kisah masa lalu sampai contoh dari orang-orang sekitar.

Apa cinta harus diperjuangkan? Tidak selalu. Bahkan ada cinta yang harus direlakan, cinta yang harus gugur, cinta yang harus ditutup rapat-rapat.

Orang tidak bisa 'diprogram' untuk tidak jatuh cinta. Jatuh cinta ya artinya jatuh, nggak sengaja, tanpa ada apa-apa.

Ngga bisa juga ngelarang orang buat jatuh cinta, pake apa emang? Pake portal?


Jatuh cinta adalah reaksi kimia, KATANYA. Tapi sesungguhnya jatuh cinta adalah reaksi spontan di senyum pertama. EAAA wohow gue keren banget!

Ada cinta yang gagah ketika diperjuangkan, ada cinta yang justru tidak terhormat jika diperjuangkan.

Kenapa?

Karena jatuh cinta tidak hanya kisah 2 orang, tapi 2 keluarga yang berbeda. 2 kebudayaan, 2 dunia, 2 empati.

Cinta supir terhadap nyonya-nya yang sudah punya keluarga.
Cinta istri orang terhadap rekan kantornya.
Cinta suami orang terhadap mbak pembawa teh.

Mau perjuangkan? Boleh aja. Tapi apa worth it? Apa penderitaan terhadap orang yang kamu cintai itu sepadan dengan nilai cinta kalian?

Cinta itu harus membahagiakan, tapi bagaimana jika wujud cinta itu malah jadi duri sampai akhir hayat?

Apa yang dilakukan istri ketika suaminya ternyata sudah punya anak dari wanita lain?
Apa yang dilakukan cucu ketika ia tau bahwa ia bukanlah cucu 'pertama'?
Apa yang dilakukan sang anak ketika melihat ibunya selalu diteror perempuan lain?

And the worst case: ibunya lah yang salah. Perempuan yang 'meneror' itu ada di posisi yang benar.

Kesalahan bukan ada di anak cucu, tapi mereka ikut memangku beban berat? Tidak diakui?

Masih sepadankan resiko itu 'hanya' demi cinta?

Cinta beda agama. It's cool ketika keluarga sama-sama menyetujui (atau ada kondisi lain).

Kalau tidak?

Mau diapain cinta yang sudah mengakar? Mau diapain ribuan memori, ratusan senyum di cetak, puluhan destinasi yang pernah dikunjungi bersama? Mau diapain 1 cinta itu?

Siapkah digadai dengan agama?

Kalau ya, bayangkan berapa orang yang mencerca ORANG TUAMU? Karena dianggap 'menggadaikan' akidah anak demi cinta?

Meninggalkan gereja demi masjid mungkin bagus bagi 'kita' orang muslim. Bagi keluarga sana? Ya mungkin mereka baik-baik saja. Tapi coba, berapa cibiran dari belakang?

Cinta beda agama itu bisa diperjuangkan, serius. Tapi ini tidak berlaku ke semua orang. Sama sekali tidak berlaku ke semua orang.

Anak ustadz gitu misalkan. Mau potong berapa jari ketika anaknya memutuskan 'menyebrang'?
"Yeh, ngislamin anaknya aja ngga becus, mau ngislamin warga? Palelu mas".

Whoa ini sensitif banget ya pembahasannya.

Makannya, ketika seseorang menyaratkan "Seiman" sebagai kriteria pasangan hidup, jangan langsung dicap tertutup, tidak plural. Kenapa? Karena minim resiko.

Hebatlah mereka yang tetap pada agama masing-masing ketika menikah. Banyak kok contoh yang berhasil.

Ada lagi cinta yang belum selesai. Mereka sama-sama mencintai tapi salah satu sudah dijodohkan. Maka pertanyaannya: siapakah yang berhak disebut "Wanita yang pertama"?

Pacar lama lah yang harusnya menyandang gelar "Wanita pertama". Tapi faktanya, istri sah lah yang berhak menyandang nama itu.

Tanpa cinta, hanya berbekal perjodohan, status yang selama ini pacar pertama inginkan jatuh ke tangan wanita lain. Tanpa harus berusaha. Tanpa harus ada memori.

Beribu kali mengucap "Tau apa kamu tentang dia?"
Beribu kali ucapan itu dilangkahi.

Lalu apa yang harus diperbuat? Membiarkan cinta berakhir tanpa adanya penyelesaian?
Membiarkan cinta tersambung dibalik buku nikahnya?

Cinta yang belum selesai memang selalu rumit. Ketika masalah akan menemukan jalannya, cinta ini rasanya tidak. Akan buntu dan tunggu menyublim.

Cinta terhadap kolega, merasa ia adalah partner sesungguhnya. Berhasil membuat kita berucap, "Ah ternyata aku tidak butuh imam, aku butuh partner".

Berbicara hal yang sama, duduk bersampingan, merasakan adrenalin mengalir lagi setelah sekian lama mati. Berbagi tawa, berbagi opini. Curi-curi kesempatan untuk menyentuh.

Sehingga lupa bahwa suami bekerja JUSTRU untuk privilege yang kita nikmati saat ini. Saat ini, ketika kamu sedang berbagi detak dengan orang lain.

Cinta memang sakit, cinta memang selalu ada tantangan, tapi kita sendiri yang menentukan seberapa rumit tantangan itu. Kita sendiri yang menentukan rintangan macam apa yang bersedia kita lalui.

Apa yang kamu cari di jalan cinta yang penuh duri? Silahkan kalau mau terluka berdua, namun tidak azig ketika anakmu kau bawa, suamimu kau paksa luka, istrimu kau tutup matanya dan dorong ke jurang.

Malaikat mencintai ijab qobul, tapi siapa yang kita langkahi? Apa Tuhan akan merestui? Yakin amat?

Ada adrenalin yang azignya dikunci dalam peti saja. Ada adrenalin yang tidak harus diwujudkan. Ada cinta yang tidak harus direalisasikan.

Tapi kita lupa kebahagiaan sederhana terhadap pasangan kita. Sesimpel pijatan hangat, sesimpel dibukakan pintu mobil, sesimpel hidup tenang.

Hidup tenang yang tidak akan bisa diperoleh orang yang menikung dan tertikung.

Hidup tenang yang tidak akan bisa diperoleh diri ketika mengandung anak dari pria lain.

Untuk kamu yang sudah terlanjur berjalan di setapak duri, belum terlambat untuk membasuh dengan infektan. Belum terlambat untuk bersorak cinta tanpa ada yang harus ditutup dulu matanya.

Cinta tidak harus diperjuangkan.
Ada cinta yang ditakdirkan untuk tenggelam.

Ada, dan memang ada.


Aziq bosque.


20 comments :

  1. hiks mbak,
    Ak juga pernah mengalaminya
    Cinta beda agama,
    Kami brdua saling suka, hanya saja dibatasi dengan agama.
    Tapi yah, apa dikata. Kami berdua memutuskan berpisah. Karna, memang tidak layak untuk diperjuangkan.
    Walau sejujurnya, kami berdua saling menyukai satu sama lain.

    ReplyDelete
  2. Aslik baper baca tulisan ini. Karena aku pun punya kisah 'clbk' alias cinta lama belum kelar dengan seorang calon dokter di Jekardah sana. Oh yess, adrenalin ini masih bergejolak tatkala dia menyapa lewat kolom komentar. Tapi aku sadar banget sesadar-sadarnya untuk membiarkan dia sebatas ilusi, bukan realita. Masih berjuang supaya perasaan ini bakal menyublim sempurna.

    ReplyDelete
  3. aku termasuk orang yang sedari awal memang menginginkan pasangan seiman, buat aku agama itu ggbisa pindah2, tapi aku bukan berarti menyalahkan buat mereka pasangan beda agama atau sampai pindah agama, itu sih hak yah?
    .
    .
    Soal cinta yang ditenggelamkan, aku juga pernah banget ngerasainnya karena enggak direstuin. daripada nekat dan dicap jadi anak durhaka, yaudahlah mungkin memang enggak jodoh. hehehe

    ReplyDelete
  4. Baper...baper bacanya, betul ada anak dan perasaan orang lain yg terlukai, aku bersyukur cinta masa lalu itu menutup segala akses utk komunikasi, itulah terbaik menurutku

    ReplyDelete
  5. Semua orang berharap jodoh yang seiman, tapi mungkin buatku cukup susah karena yah, circleku yang membuatku nyaman kebanyakan masih heterogen. Kita semua mencari yang sama, tapi dengan nama berbeda. Dan perkara hal ubah-mengubahnya, harusnya jadi otoritas masing-masing individu, antara dia dengan Tuhannya, gak boleh ada yang ikut campur :')

    ReplyDelete
  6. Aku suka bagian ada cinta yang harus ditenggelamkan.

    ReplyDelete
  7. Selalu adem ya baca tulisanmu.. Cinta yg dihalangi orang tua, kalo alasannya logis, akupun pasti nurut utk ga meneruskan.. Berkali2 seperti itu soalnya.. Tp sekali aku ngelanggar, dan efeknya cerai.. Ah sudahlah.. Memang itu yg terbaik juga..

    ReplyDelete
  8. Tulisan ini mengingatkanku sesuatu yg pernah aku tenggelamkan... Susah soalnya cari ujung2nya buat apa kalau nikah nanti keluarga gak bisa bersatu :D suka dengan kalimat "Cinta yang di takdirkan untuk ditenggelamkan" Terimakasih tulisannya Indah banget :)

    ReplyDelete
  9. Tumben postingannya rada baper baper gini la,.kalau buatku iman mah harga mati, ga bisa diusik lg dengan alaaan apapun.

    Haaa iya bener, nasib selingkuhan itu turun ke anak cucu dan bikin baper seumur2 loh, jgn coba coba deh

    ReplyDelete
  10. Dih tumben puitis, berat amat. Elpiji 10 kilo kalah lho edan

    ReplyDelete
  11. Ah. Iya saya pernah menjadi salah satu cerita di sini. Kemudiam harus rela menenggelamkan rasa cinta yang ada. Demi kebaikan :)

    ReplyDelete
  12. Suka kalimat penutupnya "
    Cinta tidak harus diperjuangkan.
    Ada cinta yang ditakdirkan untuk tenggelam.

    Ada, dan memang ada."

    ReplyDelete
  13. Puitis abiis,,,ini nyambung sama post aku minggu lalu soal friendzone dg yg sudah berpasangan. Sukaaa

    ReplyDelete
  14. Aih ini tulisan pertama Nahla yang aku baca dewasa banget gak banyak misuh2, wakaka. :D Kerenlah, setuju :)

    ReplyDelete
  15. Baper bacanya :(
    Tapi malah salah fokus baca endingnya aziq bosque xD

    ReplyDelete
  16. Aku tau rasanya cinta yg lebih terhormat tidak diperjuangkan, akn ada kebahagiaan lain yang siap menyambut kita saat kita ikhlas dengan semua yang harus kita lepaskan.

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top