Saturday, 3 October 2015

Judgemental Series - Selera Elite?

Selera, taste. 

Sesuatu yang sangat subjektif, mempengaruhi penilaian seseorang, dan terkadang bisa membeda-bedakan yang satu dan lainnya, dan ternyata bisa jadi penyebab kesenjangan sosial.

Taste.

Sesuatu yang bisa membuat orang biasa menjadi professional, krusial sekali dan sangat berguna dalam branding.

Taste bisa menentukan apakah seseorang itu 'kampungan' atau elit di strata sosial.

Tapi satu hal yang penting: Taste bersifat subjektif, keadaan sosiallah yang menentukan nilainya.



Udah ya quotenya, gua gak bisa nyiptain quote bijaksana kayak Mario Teguh, ato account kayak Tumblr, Girl's Feeling, akun quotes penebar baper. Gua gak bisa.




Untuk kalian yang menjadi sahabat real-life gue, apa yang terlintas di pikiran kalian tentang gue dan selera gue?

"PICKY KAYAK SETAN"

Dari makanan, MUSIK, pakaian, suasana, warna, apapun itu. Kalau itu tidak sesuai dengan apa yang gua mau, gue gak akan menerima.

Apalagi selera musik, gue sangat pemilih dalam hal musik, contoh nyata:

Dulu saat gue akad nikah di rumah, kami mengundang band datang ke rumah, formatnya kayak biasa, tapi ada saxophonnya. Gue sebelum itu memang udah nulis list lagu yang harus dimainkan, kebanyakan bossanova kayak Chega de Saudade, Girl From Ipanema, pokoknya gue mendesain dalam otak gue tentang sound yang gue inginkan.
Lalu, saat gue lagi nunggu di kamar, pemain bandnya nyanyi apa tau gak?

NOAH- Separuh Aku (!!!)

Jauh banget gak sih bedanya Noah sama Jobim? Jauh banget!!!!!!!!!!!!!!

Langsung gue cemberut dan minta ganti lagu saat itu juga.

Dan pas resepsi malemnya di Museum Satria Mandala, gue juga udah merancang dan memilih band apa yang akan main di kawinan gue, dan band yang main adalah Oele Pattiselano Quintet (!!) yang isinya tuh legend semua, ada om Jack Pattiselano, om Arief Setiadi, om Jeffrey Tahalele

Buat yang sering ke Java Jazz, pasti tau banget beliau-beliau ini adalah legend, pemain lama di belantika musik jazz Indonesia.

Serta ada temen-temen gue yang main jazznya gilak gilak juga.

Dan tragisnya, saat itu UJAN. Dan pesta gue outdoor, yang artinya sound system gak bisa main disana. Yang akhirnya? Legend-legend itu GAK JADI MAIN semua, pulank tanpa memperlihatkan kesaktiannya pada gue.

Dan yang membuat lebih sedih, ketika yang main ternyata... Mahadewi.

Iya, jadi bokap itu temennya genk Ahmad Dhani, jadi ngundang Mahadewi.

Terus gue? Nangis kejerrrrrrrrrrrrrr...........

Di pelaminaaaannnnnnnnnnnnn..


Apakah Oele Pattiselano dan Mahadewi itu jauh? JAUH BANGETTTT!!

Dan pipi gue cemong bekas air mata, yaiyalah, lu kayak bandingin bongkahan intan sama batu kerikil, bandingin Sushi buatan gue sama Sushinya Kaihomaru, JAUH.

Kalau selera musik sih gue akuin ya, pickynya gak nahan, gak bisa ditawar, nyebelin juga, spoiled brat juga iya, i really protect my hearing. Dari apapun yang sampah  kurang enak.

Tapi karena selera musik itu gak terlalu ngaruh-ngaruh banget di kehidupan primer, maka gue rasa ini bukan masalah besar ya. Toh orang desa bisa suka klasik kalo emang selera.


Tapi gue gak picky dalam makanan ya., yang erat banget hubungannya sama kebutuhan primer manusia.

"AH GAK MUNGKIN"

Oke gue ngaku deh, gue emang suka banget Sushi, i really love Pasta, dan gue sangat ingin ke Prancis untuk mencoba makan disana.

It's easy for me untuk bilang bahwa makanan ini gak enak, makanan disitu enak, makanan bikinan dia selalu A, makanan di resto ini gak mirip sama makanan native negara B.

Ketika gue di Ranch Market pun, gue ngambbil barang-barang impor.

Dan ketika gue ditanya pun, gue akan menjawab, "Makanan kesukaan saya Sushi".



Apa gue menjawabnya dengan bangga?

Nggaaakk.. Biasa ajaaaaa......

Toh se 'luar negeri'nya gue, gue masih cinta MATI sama PETE, gue masih suka seblak, gue gak bisa nahan diri buat ga makan CIMOL, dan restoran kesukaan gue tetep BEBEK PAK SLAMET.

Toh gue masih merasa bahwa bumbu-bumbu masakan Indonesia itu yang paling yahut, rumit, hebat.

Apa sih yang gue banggakan saat gue bilang kalo gue suka pasta?
Toh orang Italy biasa aja makanan sehari-harinya pasta.
Toh pasta juga makanan rakyat biasa disana.

Toh orang Jepang juga tiap hari makan don,
Toh di Jepang ramen juga makanan pinggir jalan.

Jadi apakah gue elit bagi selera Indo? Iya, mungkin bagi beberapa orang gue emang elit.
Tapi, apakah sebenernya gue elit?? Nggaakkk... Karena makanan 'elit' yang gue suka pun sebenernya makanan rakyat jelatanya orang sana.


Gue bukannya mau sok mewah, tapi gue sangat menghargai budaya sendiri maupun luar negeri.
Gue sangat menikmati perbedaan rasa, gue sangat menghargai ke-eksotisan mereka.

Iya, gue suka makanan luar negeri karena mereka unik dan eksotis.


Kenapa gue ngambil snack Impor di Ranch Market? Karena gue mau menikmati keunikan cemilan dari berbagai belahan dunia, lagian sayang kali kalo ke RM tapi belinya ciki, di Indomaret juga bisa, kan yang penting yang unik-unik dulu.

Toh walaupun gue suka sama fusion sushi, kalo mertua gue masak paru serundeng juga abis gua lahap.
Walaupun gue suka Equil, gue gak mengeluh ketika dikasih Aqua.
Ketika gue makan gelato, gak lantas gue menjelek-jelekkan wedang ronde dan es lilin kan?

Gue kadang suka sakit hati aja kalau ada yang bilang,
"Ah selera Nahla mah elit"
"Ah, dia gak bakal suka ini, dia kan sukanya masakan Jepang aja"
"Jangan dikasih ini deh, dia gak bakal suka"
"Tuh liat apa yang dia pesen, 'orang kaya' banget ya seleranya?"

Gue ngerasa sedih, justru gue merasa dikotak-kotakkan sama orang-orang yang merasa diri mereka 'gak elit' 'gak picky eater' 'sederhana dan merakyat'. Gue menghargai selera mereka dengan gak ngerendahin, kenapa mereka malah ngotak-ngotakin gue?

"Ah, kamu mungkin gak berani makan di pinggir jalan" Guess what? Gue tiap SMA selalu makan di warteg karena ngirit.
"Ah, kamu emang bisa naik angkot?" Emang ketika gue asrama, gue dibekali supir? Nggak lah!
"Kamu suka jengkol?!!" Ya gue suka, TERUSSS?

Dengan statement dan keheranan mereka, gue sekarang tau seperti apa gue di mata mereka: Anak manja dengan selera orang kaya dan gak mau makan sederhana.

Anak manja..

Sedih gak sih? Padahal gue rela naik angkot kalo gak ada yang anter, gue rela panas-panasan, gue sering ke pasar, makan gorengan, dan apa label gue? Anak manja.

Mungkin karena gue main biola klasik, selera musik yang 'khusus', dan suka sushi, maka gue dilabeli anak manja yang picky eater.

Padahal gue nggak seperti itu. 



Sama juga kayak make up.

Gue suka make up, dan gue gak ada merk lokal di dompet gue.
Gue pun gak pakai skincare lokal.

Kenapa?

Karena gak ada yang cocok, simple.

Skincare lokal rata-rata untuk kulit orang Indonesia yang berminyak, sedangkan kulit gue kering kerontang.

Foundation lokal kebanyakan terlalu matte (untuk menyesuaikan kulit orang Indonesia yang berminyak juga), dan terlalu kuning.

Udah, gitu aja alesannya. Bukan karena gengsi.
Kalau ada yang cocok, gue bakal beli.

Tapi nyatanya gak ada yang cocok kan?
Eyeliner pada luntur, lipstick gak ada yang cocok, bedak gak cocok warnanya.

Dan gue juga memesan beberapa produk homemade lokal dari Instagram kok, kayak Douce et Lisse, Masker Naturegreen, dan makanan-makanan produksi lokal Indonesia.

Orang juga mungkin lupa pas gue masih gak berhijab, mini dress gue motifnya rata-rata batik..
Cuman ya mana peduli sih, mereka nangkepnya gue anak manja yang ogah pake produk lokal.

Gue aja sekarang pake batik.
Ada gak diantara kalian yang dirumah pake batik? #Sombong


Dan buat sekedar informasi aja, justru gue gak suka dan ga ngerti makanan yang beneran elit kayak Lobster, Foei Gras, Escargot dan Wine.

Gue gak ngerti sama sekali..
Gue sukanya pete, dikasih Foei Gras mana ngerti?! Hahaha...



Intinya: I don't judge you, so please don't judge me.



17 comments :

  1. hmmm... iya sih mbak terkadang banyak orang yg suka menilai dari penampilan luar nya aja. suka sebel kadang sama org yg sotoy kayak yang paling tau aja diri kita melebihi kita sendiri, apa yg kita suka dan nggak kita suka. salam kenal ya mbak..

    ReplyDelete
  2. hahahaha. yosh!
    Kalau aku, yang belum kenal deket bakal ngejudge begitu. Vindy ini seleranya ini, temenya kudu orang kaya, pasti dulu suka diturutin, pilih2 temen.
    :D

    begitu uda kenal... ternyata kamu begini ya? kukira begitu. Gak nyangka ya, kamu masih suka begini, kukira kamu gak kira mau, ternyata masih mau naik angkot? kukira naik mobil mulu, blablabla.

    Aku suka sushi. Karena aku suka. udah. Tapi aku juga suka tempe goreng dipenyet sama sambal bawang hijau diuleg sama garam. :D so?

    ReplyDelete
  3. aku di rumah pake batik dong aka daster. dan ya sama sih cuma karena aku punya dr martens 3 biji *pamer* orang langsung judge "barangnya branded semua", padahal mah bajunya beli di itc. yang branded pasti belinya lagi diskon. begitulah manusia. :/

    ReplyDelete
  4. wah selera musiknya rumit ya, sampe ga ngerti aku itu musik yg dimaksud hihihi, maklum jarang dan ga gitu denger musik. ya begitulah orang ada aja yang sesuka hati judge, padahal belum tau fakta sesungguhnya dalam selektif terhadap sesuatu ya yg akhirnya seenak dewe ngatai org manja :D

    XOXO,
    http://www.leeviahan.com

    ReplyDelete
  5. Walah Maak sampe nangis di pelaminan, cupcup.. dikira tamu undangan pasti si pengantin terharu krn ganti status, dan bakal pisah sama ortu hehe

    ReplyDelete
  6. Aku jg ngerasain yg kk ceritain. Mereka cuma judge dari coverny doang.
    "ah tu si Ai, sukanya kan yg korea2an, chinese2an. Mana suka dia sm yg lokal2an, cowok sukany yg chinese atau koreanese, makanan sukanya yg bgtu juga, dll. "
    padahal masih suka makanan yg lokal, kaya tempoyak (makanan khas Jambi), masih suka sate, tekwan & model (mkanan khas Palembang), dll.

    kawaii-diary98.blogspot.com

    ReplyDelete
  7. makanan elit buat orang indo tapi sebenarnya makanannya rakyat jelata di negara luar...hihi
    mungkin karna karena berbau luar negeri ya, makanya semua dikira serba elit

    ReplyDelete
  8. Wauwauuuu.. Pukpuk mak.
    Orang mah emang sukanya gitu. Nuduh suka-suka. Tapi kalo dituduh balik ya marah-marah. Rrrr!

    ReplyDelete
  9. Dari cerita di atas, aku lebih tertarik cerita Nahla yang berhijrah ke hijab hehe ceritain lebih lengkap dong gimana ceritanya...

    ReplyDelete
  10. Setujuh jengkel banget dibilang kek gituh jejepanganlah, selera elitlah -.-

    ReplyDelete
  11. Hidupmu kebanyakan drama yah.. Enak kali dibikin sinetron .. KRAUK! *ngunyah kerupuk

    ReplyDelete
  12. Aku tahu rasanya ini, karena aku juga ngalamin. ;___;
    Teman-teman kuliahku pada awalnya gamau temenan sama aku karena tampang Chinese dan asalnya sekolah anak holang kayah. Takut katanya aku gak bisa beradaptasi (padahal juga aku orangnya santai aja dan yang ngomong ini gak sadar kalo di cycle dia sendiri ada dua yang holang kayah tapi gak nampak aja). Kalo ikut makan di pinggir jalan ditanya "kamu yakin? Gak bakalan sakit perut?"

    YHA. Aku mah makan apa aja oke asalkan enak (dan halal deh, soale dulu pernah diajak makan kari kodok sama makan sate babi). Dikira gaul sama holang kayah, selera gak bisa lokal? :'(

    Belum lagi agak dikotakin karena tampang Chinese (yang sekarang rada luntur gegara ketimpa cahaya matahari terus, lol). Segitu amat rasisnya, padahal aku gak ada ngapa-ngapain :))

    ReplyDelete
  13. ah,, separah itu yah... betul kata @hilda_ika dibikin mi seri macam "tetangga masak gitu" keren deh ah,, udah gitu aja (wakakaka)

    ReplyDelete
  14. awww,, seru ceritanya.. salam kenal ya dek.. aku lgsg merasa menua baca blogmuuu :)

    ReplyDelete
  15. kalau yang namanya selera ya susah dirubahnya ya.. mau gimana lagi XD
    aku asli sunda, tapi suka banget sama masakan padang. tapi untuk keseharian, aku lebih banyak makan masakan sunda kok daripada makan padangnya (karena kalo masakan sunda udah ada yg masakin tiap hari XD). aku juga suka banget sama makanan korea, tapi tentunya ga tiap hari juga ya makan-makanan korea, karena ribet dan butuh usaha lebih kalau mau makannya haha..

    wajar aja sih menurutku, setiap orang kan punya hal yang disukainya masing-masing. selama itu sesuai kantong ya gak masalah XD

    eh btw, aku penasaran sama cerita perubahan kamu jadi berhijab kaya gimana. :D

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top