Categories

SOCIAL MEDIA

Kamis, 29 Juni 2017

Judgemental Series: Menukar Lahir untuk Batin


Selamat lebaran ya! Mentang-mentang lebaran, jadi pingin bahas lahir batin. Tapi sayangnya, materi lahir batin kali ini ngga punya hawa pintu cahaya sama sekali. Hawanya mungkin 11:15 lah sama sampah yang belum dibuang 2 minggu di ruangan tertutup. Hii~

Menukar lahir dan batin. Lahir di sini adalah fisik, sedangkan batin adalah emosi jiwa. Lahir batin sendiri punya banyak tafsir ya. Ada yang menafsirkan bahwa 'batin' adalah kebutuhan biologis, kebutuhan curhat, kebutuhan dipuji, diapresiasi. Overall, batin adalah segala yang berkaitan dengan motorik halus kejiwaan manusia (?)

MALES BUKA KBBI AH, mending gue artiin sendiri elaaahh..

Perspektif yang mau gue ambil kali ini berkaitan dengan sesuatu yang kerap kali lakukan. Sesuatu yang jadi 'trump card' ketika gue merasa kesulitan, sesuatu yang ngga bisa gue lepas dari strategi gue dalam menghadapi masalah apapun: bargaining.

Bargaining, menukar sesuatu demi sesuatu.


Entah barang, jasa atau jiwa.

Jujur aja, berkali-kali gue selamat karena gue punya bargaining power yang cukup 'tinggi'. Gue bisa naik kelas walaupun nilai gue 42, simply karena gue mem-bargain nilai matpel kompetensi gue yang cukup brilian. Gue berani ngga masuk kelas beberapa kali, tapi sekalinya masuk gue akan datang dengan makalah yang gue kupas secara komperhensif.

Gue berani ngasih jatah makan siang gue ke temen gue asalkan dia beliin gue sesuatu sebagai timbal balik.

I'm that kind of a woman.

Semua gua pikirkan matang-matang. Apa nilai tukarnya worth it? Apa soft spot si guru ini biar gue tetep bisa 'mengambil' hatinya? Jurus ngelobi apa yang akan gue pake?

Ini antara skill bargaining dibarengi mental gambler sih ya. Ya ayolaaah, orang se-impulsif gue ini mah jelas lah punya mental gambling. Do or die.

Tapi melihat sekitar, gue merasa ada beberapa bargaining yang salah... Salah kenapa? Salah karena jatuhnya jadi mental abuse. Menukar sesuatu dengan sesuatu namun berdampak rusaknya diri sendiri. Yang dikira bernilai 'setara' ternyata membawa 'buntut' yang menyiksa. After taste yang jahat.

Seperti.. menganggap jasa ibu sebagai bargaining agar anak mengikuti dogma orang tua.
"Mama kan udah merawat kamu selama 9 bulan!"
"Jangan ngedebat orang tua! A ya A!"
"Jangan berargumen! Dulu siapa yang ngajarin kamu ngomong?!"
"Kamu masuk kedokteran dong seperti saudara kamu... ini permintaan mama sebagai ibu yang sudah berjasa ke kamu.."

Mental abuse.

Padahal mengandung adalah keputusan sendiri. 'Repot' karena popok adalah keputusan sendiri. Lah kenapa itu jadi senjata ketika anak memilih jalan yang tidak kita inginkan? Elaaaahhh...

Ini ga seimbang. Hal semulia 'jasa ibu' harusnya ngga dijadikan senjata agar ibu bisa memonopoli jalan hidup anaknya. Hal semulia itu dijadiin senjata ecek-ecek. Anak yang harusnya respek dengan 'jasa ibu', jadi enek tiap ibunya membahas-bahas 9 bulan mengandung. Itu semua karena orang tua salah memposisikan sebuah 'jasa'.

Seakan-akan anak dipaksa menukar masa depannya karena hal yang sebenernya ngga dia minta (mengandung diri si anak).

Ini namanya penistaan subtansial. E gila tinggi amat bahasa gue, gilaaaa Nahlaa, gaul sama siapa sih lu?

Membuat satu individual dengan pola pikir yang berbeda harusnya jadi pertimbangan juga dalam memiliki anak. Ya lu punya anak jirrr, bukan ternak kecebong.

Jadi ya ngga usah heran siiich kalau anak udah di titik didih lalu ia bilang, "Lah aku kan ngga minta dilahirin? Kan mama yang mau punya anak!".

Oke sih anak harus nurut sama ibu. Tapi sejauh apa anak harus nurut? Approach ke anak gimana? Apa dengan dipaksa 'bargain' dengan jasa ibu atau pendekatan logis? Seberapa jauh sih jarak antara hati kita dan hati anak?

Ini contoh pemaksaan bargain yang berdampak ke mental abuse. Ngga hanya mental abuse karena pemaksaan, tapi distorsinya makna 'motherhood'. Uda ga usa dibilang lah ya, respect terhadap orang tua juga lenyap :(

Sungguhlah, ngga ada yang lebih memberatkan daripada bargain yang tidak diminta. Lau membuat jasa baik, eh taunya ujug-ujug minta imbalan.
"Aku kan udah buatin kue kemarin"

Dih kalo ga ikhlas mah ga usah ngelakuin dari awal keles. Orang harus belajar melupakan amal baik.

Ini sebenernya udah agak jauh dari bargain sih, ini udah ke ranah utang budi. Ye dari pembahasan tentang ibu tadi juga udah masuk utang budi ya. Abuse of utang budi.

Tapi bentuk pertukaran lahir untuk batin paling terlihat pada kasus hubungan seksual pranikah yang dilakukan pelajar.

Walaupun gue ngga tau motifnya itu apa, tapi yang jelas, ada bargain di dalamnya.

Ini berkaitan juga dengan age of consent, umur dimana kita sudah bisa berpikir secara logis. Secara, pelajar belum memasuki golongan umur tersebut. Perasaannya masih terombang-ambing, konsep kebaikannya belum matang.

Jadi, apa bentuk bargainnya? Seks dengan cinta.

"Ya udah... aku mau gituan, tapi kamu sayang sama aku selamanya ya?"

BANYAAAK yang kaya gini buuu, banyaaakk..

Untuk golongan umur sekita, umur dewasa yang udah paham how this works, pasti kita bakal nyek-nyekin pelajar ini: Dih rayuan buaya kok dimakan, dek. Dih, emang jaminannya apa? Dih kok kamu bodoh dek?

Tapi believe me, untuk mereka, fase itu adalah segalanya.

Menganggap pacar sebagai orang yang mengerti dan menerima busuk-busuknya kita. Menganggap pacar sebagai orang yang akan setia sampai kita mati. Menganggap pacara adalah satu-satunya orang yang sayang kita.

Karena di umur segitu, anak belum bisa menerima bentuk amarah/teguran orang tua sebagai bentuk kasih sayang. Walaupun amarah sendiri bukan purest form of kasih sayang ya..

Jadi 'cinta pacar' itu penting banget. Anak merasa dihargai, dipuji cantik, disayang-sayang terus... dan sampai pada titik rela menukar apa aja demi kasih sayang itu :)

Mengharapkan 'eternal love' karena sudah merasa menukar 'kehormatan'. Menyerahkan diri agar terus disayang.

Maka dari itu, umur pelajar adalah saat kritis, saat dimana kita sebagai orang tua harus sweeeettt, maniss penuh kasih sayang. Kenapa? Karena kalau kurang sweet, nanti kalah lho sama pacarnya si anak :)

Orang tua juga harus memberi pemahaman mendalam tentang seks. Rata-rata hanya nasehatin, "Jangan berhubungan seks sebelum nikah!" dan berhenti sampai situ.

Ngga ada orang tua yang menjelaskan kondisi emosional seperti apa yang sehat ketika berhubungan seks. Ngga ada orang tua yang menjelaskan apa sihh subtansi seks sendiri. Seks itu lambang apa sihh?

Yang ditanamkan hanya: seks itu jorok, haram. Fin.

Dengan begini, anak bisa bilang: lah kan jorok buat elu, buat gua mah nggak.

Coba kalau anak bisa melihat seks on a new light. Melihatnya secara sakral, emosional, membahagiakan, ritual sehabis menikah dalam rangka merayakan ikrar Tuhan gitulah.

Dengan itu, diharapkan anak bener-bener bisa melihat kalau bargain seks paling setara adalah pernikahan. WIH NAHLA ALIMNYAAA astaga yaampun siapakah dirimu, haloterong?!

Yaa you get my body, i got my benefactor, rumah, nafkah, antar jemput, tatih tayang, penghidupan and such lah. Such a nice deal, ya?

But first, eratkan makna seks dengan hal yang emosional. Karena trust me, approach emosional lebih ngena dibanding approach dosa. YELAH bro anak sekarang mah mana peduli dah ah sama dosa? Hahahah! Karena ngga ada yang bisa menggerakkan prinsip ketika hati sudah kokoh dan terpenuhi.

***

Intinya apa ya? Ya gitu deh. Bargain mah yang pinter aja lah. Bargain itu aman jika field yang dimainkan hanya seputar materiil seperti pekerjaan, pendidikan, dunia professional dan kompetensi. Bargain ngga aman kalau udah ngomongin rasa, utang budi, kejiwaan, batin. Karena kuantitas sebuah batin ngga bisa diukur, harga sebuah mental abuse ngga akan bisa ditukar kembali.

Ngga ada kembalian sih soalnya hehe hehe hehe.

Udah ya aing capek, mau mesra-mesraan dulu.

9 komentar :

  1. Ikut mesramesraan dong. Hehehe

    BalasHapus
  2. Coba kalo pelajar pada baca, lucky me dulu pas sekolah gak pacaran

    BalasHapus
  3. Aku mah salfok sama Mental abuse. Aku pernah nulis tentang itu di blog berdasarkan pengalaman sendiri dan bener bener mentally draining sih. But surprisingly, hello. I'm not alone. Komentar orang emang beda beda lah ya ada yang dukung ada juga yang engga. Tapi ya mo sampe kapan begitu terus atulah? Haha

    BalasHapus
  4. Makasih banget mbak nahla, aku sedang Ada di masa ITU. Masa pelajar, dengan lingkungan yang hampir samasepeerti contoh di atas. Tpi sayangnya mbak, bahasanya berat.. Huhuhu
    Ato akunya yang gagal paham 😊

    BalasHapus
  5. Aq suka dengan pandangan tentang jasa ibu itu. Suka kezel aja tiap dengar jasa 9 bulan disebut sebut biar nurut. Sebagai anak aq pernah loh mikir gitu. Setelah nikah makin ngerasain. Loh,anak kan kita yang minta, kita yang buat. Ga pantes klo keputusan sendiri tp si anak yang nanggung

    BalasHapus
  6. luar biasa uraiannya. sukka! bacanya. apapun itu mesti ada timbal baliknya. ya, saya setuju.

    BalasHapus
  7. Love love love!!
    Setuju banget dengan artikel ini. Utang budi, utang jasa itu sangat tidak aman. ujung2nya mental abuse.
    Salam kenal ya... bakal sering banget mampir ke blog ini nih... 💖💖💖

    BalasHapus

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top