SOCIAL MEDIA

Thursday, 15 June 2017

Judgemental Series - Label dan Tingkat Kepedulian


Sejak aktif kembali di Facebook pada tahun.... 2014? Tahun dimana gue butuh berkomunitas di Facebook, Twitter dan Instagram, gue menyaksikan hal yang menyesakkan. Melihat diri gue 1 tahun yang lalu, gue juga sesak dengan diri gue sendiri sih.
Ini kayaknya lanjutan postingan dulu dulu dulu deh hahahaha!



Yesss, kita bisa menilai orang lain dari laman Facebooknya. Dia suka apa, jokes yang ditertawakan kaya gimana, kualitas argumennya seperti apa, suka sarkas nggak? Suka nyinyir nggak?

Seperti gue yang selalu share status aman ngga pernah no mention takut banyak yang tersinggung lololol, pasti ada beberapa orang yang ngga setuju juga sama gue. Bukan hanya nggak setuju perkara "Di aku lipsticknya bagus, kok di kamu jelek?", tapi bisa juga ada yang membatin "ih Nahla selfie mulu". Intinya ngga hanya nggak setuju karena material, tapi dari non-material ato personality orang itu sendiri.

Gue selalu punya prinsip: kalo berpeluang menimbulkan debat, mending jangan. Kecuali di blog dimana orang dateng ke blog gue KHUSUS untuk melihat sudut pandang gue. Khusus dong? Iya kannn? Kan ini blog gue, jadi kalo lo kesini ya lo akan dijembrengin rant gue dan foto muka gue. 

Akhir-akhir ini banyak ya label ngga enak bertebaran, apalagi diceplokin ke wajah orang yang sudah ahli dan JELAS kontribusinya ke lingkungan itu sendiri. Label yang dikeluarkan oleh orang yang nggak kompeten terhadap orang yang seumur hidup mengabdi pada bidang yang didebat.

"Agree to disagree" kayaknya bukan pilihan, karena gue bener dan lo salah. Jadi lo harus ikut gue. Ngga hanya membahas tentang hal sensitif, tapi tentang politik, merawat anak, berkomunitas, melakukan pekerjaan, semua selalu ada yang harus didebatkan.

Dan diberi label.

"Pantes aja anaknya kurus, ibunya kerja sih," kata orang yang nggak setuju konsep working mom.
"Nahla beli lipstick mulu, kasian yaaa suaminya?" padahal gue beli lipstick pake uang sendiri keringet sendiri.
"Tapi kan kamu kerja, kasian ninggalin anak terus," kata mereka.
No, baby. Gue kerja di rumah. Gue keluar rumah seminggu cuma 2x untuk ngajar. Dan ya, lo bisa berkarir berkarya di manapun. Even lo ngantor juga nggak apa-apa. Tapi kalo lo takut ninggalin anak (which is a nice thought too), lo selalu bisa kerja di rumah :)

Jadi tolong jangan menyebut mereka-mereka yang senang bekerja, senang di luar dengan sebutan ibu yang nggak care sama anak.
Tolong jangan menyebut mereka-mereka yang memutuskan di rumah, memasak mencuci untuk keluarga  dengan sebutan ibu yang dikekang suami. Well, karena kita cuma nilai dari status Facebook kan? Kecuali dia sendiri nulis: WOI GUA DIKEKANG SUAMI NIH HUHUHUHU.

Tolong jangan memberi label yang buruk kepada teman kamu hanya karena pilihan yang mereka ambil. Mau menilai jelek? Silahkan. Tapi tolong jangan di depan umum, terlebih ketika dia sebenernya anak yang damai-damai aja, ngga pernah cari ribut dimanapun. Silahkan unfollow kalau nggak berkenan.

Mungkin gue naif, tapi gue bener-bener mengharapkan dunia yang damai, yang agree to disagree aja, yang nggak usah rusuh karena - seperti di postingan gue dulu - percuma.

Kenapa kita memecah belah silaturahmi sendiri sih, udah bagus punya temen eh harus retak hanya karena nggak sejalan. Harus diteriakin "Dasar liberal komunis wayudi blablablbal antek aseng asing" hanya karena kita share tentang "Jangan membuat wajah Tuhan menjadi menyeramkan dengan mendahulukan ancaman-Nya dibanding kasih sayang-Nya."

Gue sadar, ketika kita melabeli seseorang di muka umum, maka kita juga akan dilabeli. Sekalipun dalam hati.

Sedihnya lagi, label-melabel ini bener-bener berlaku ke semua orang. Orang ngga peduli mau lu udah umur 50 taun, udah punya anak 5. War is war. Jangan berharap etika sopan-santun let alone cium tangan. Hayah, ulama yang kontribusinya jelas dan udah sesepuh aja enteng banget kok dikatainnya.

Bahkan kerucut pun akan dibilang lingkaran jika hanya dilihat dari bawah. Ini quote nyolong si, aslinya sih, "Bahkan silinder akan terlihat bulat jika dilihat dari atas". Aku mah nyolong bilang-bilang nyhahahah.

Lalu gue sepakat: label melabeli adalah kegiatan orang yang melihat kerucut hanya dari bawah.

Lah tapi ini kan artinya gue melabeli orang juga ya! Hahahahah..

EH salah. Elipsis (...) diapit spasi, jadi harunya gini:

Lah tapi ini kan artinya gue melabeli orang juga ya! Hahahahah ....

Elipsis kalau di akhir kalimat harusnya 4. EMPAT. DAN ADA SPASINYA SEBELUM ELIPSIS.

Begitu kata EYD. Tapi nyatanya banyak kan penulis dengan elipsis nyambung tapi masih bisa dinikmati? Si Dan Brown elipsisnya dispasi semua kaga ada yang ngomel. Eh tapi kan dia ngga pake EYD ya? Ko gue labil?

Udahlah ngga ada yang peduli juga, OOT banget elah benci banget.

sumber


Label melabeli adalah satu hal yang lumrah, tapi gue ngga setuju kalau yang kita labeli adalah tingkat kepedulian seseorang.

Karena itu hal yang sangat sensitif. Itu menyangkut moral. Gue nggak share tentang A bukan berarti gue nggak peduli, bukan berarti gue apatis, bukan berarti gue nggak punya hati.

Karena yang lo liat di Facebook adalah 2 lapisan luar pada kulit bawang bombay. Makanya sangat nggak bijak kalo kita menilai orang hanya dari 2 lapisan kulit bawang bombay. Maka rasa empati manusia bener-bener ada di inti bawang, bukan di 2 lapisan luarnya.

Kalian hanya tau manik-manik digital di laman Facebook, kalian nggak tau kalau ternyata dia sudah menghidupi anak yatim. Kalian nggak tau ternyata dia menyumbang yang lebih dari kalian. Kalian nggak tau kalau dia udah mengobati korban dengan sukarela. Kalian nggak tau. Karena yang kalian lihat cuma sepotong pikiran orang itu.

Kalian nggak tau, orang yang ngomel di Facebook ternyata nggak dapet perhatian dari suaminya.
Kalian nggak tau, orang yang ngebeli lipstick MAC seminggu 3x dan FOTD adalah investor dari lembaga sosial.
Kalian nggak tau, kak Icha yang keliatan garang congkak sebagainya, adalah orang yang suportif terhadap teman-temannya. Walau kadang suka rese kaga nahan.

Jadi apa kalian setega itu menilai orang 'tidak peduli kemanusiaan', 'tidak peduli agama', 'tidak peduli anak'? Apa secepat itu menilai orang? Bahkan dalam ilmu psikologi, menilai orang nggak cukup dari apa yang dia omongin, mereka juga lihat cara duduk, tata letak kamar, pandangan mata, gesture tangan, itu pun belum 100% benar. Padahal udah liat dari sisi yang sangat spesifik.

Moral adalah hal yang nggak bisa diukur hanya dari Facebook.
Moral adalah hal yang nggak bisa diraba hanya karena dia suka selfie.
Moral adalah hal yang nggak bisa diraba hanya karena ia nggak share status yang sama dengan kalian.

Jangan sepelekan nilai moral. Karena kalau moral sesepele itu buat apa ada ilmu pendalaman agama? Buat apa ada sekolah jadi pastor? Buat apa ada renungan diri? Menempa moral nggak bisa hanya 1 - 2 tahun, makannya jangan menilai orang dari 1 - 2 statusnya.

Lah ape lu kata si? kak Grace Melia kurang mulia apa dalam ngebuat RRR? Ngurusin campaign segala macem? Apa hasilnya? Masih ada kok yang komen jelek ke dia.

EH KECUALI DIA EMANG TERANG-TERANGAN BILANG SIH YAAA:
"Aku ga kasian sama korban pedofil" gitu. Ya kalo uda gitu mah ya yaudah lah, udah jelas opininya kaya apa...

Jadi kalo mau labelin orang jangan di umum banget ya, jangan, ngeri ah hahahaha!




4 comments :

  1. Hahaha aduh #TeamMelankolis at its best. Aku juga ngarep dunia damai gitu yah. Terus temen-temen aku komen, "Ah udahlah, ngapain mikir berat. Mikir anak-anak kita aja, keluarga besok makan apa, lalala", which then I conclude nggak mungkin kayanya dunia bisa damai yang agree to disagree. Tapi marilah kita menciptakan dunia yang seperti itu di lingkungan terdekat kita aja. That's good enough.

    ReplyDelete
  2. tapi mba, manusia kan memang born to judge, bahkan kalau liat orang lewat saja pasti mulai nilai oh bajunya bagus orangnya cakep, dsb...bedanya saat berhadap2an, ada yang diucapkan dan nggak ya..kalau semua diucapkan capeknya mendengar itu semua adalah seperti saat melihat sosmed

    ReplyDelete
  3. Karena kita suka ndak sadar kalau udah ngawur di socmed. Padahal ya semua beririsan dengan makin lebarnya innercircle. Kecuali saat teman2 socmed kita adalah temen2 sekolah doang...yg udah kenal nyata bertahun2, mungkin judge bs lbh diminimalisir

    ReplyDelete
  4. Sumpah deh kak, saya gak nyangka ada ulasan keren di blog kakak yang se keren dan se amazing ini :D . I will always keep follow and keep reading di blognya kakak deh,, pokoknya artikelnya bermanfaat dan sangat disayangkan jika di lewatkan.

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top