SOCIAL MEDIA

Saturday, 10 June 2017

Empati Tingkat Lanjut


Siapapun yang bisa mencinta, harusnya punya empati. Harusnya. Tapi ada beberapa orang yang memang ngga didesain, bahkan ngga mau berempati.

Dan kalau ada yang ngga bisa berempati, mungkin udah settingannya gitu kali ya. Settingannya tidak curhat-able.

Sebenernya empati apaan si? Kalau menurut guru PPKN gue, empati adalah keadaan dimana kita menempatkan diri sebagai si pencurhat/penderita/penggalau itu sendiri. 

Bedanya sama simpati? Yang satu bisa nelpon, hehe.

He.
Bedanya kalau simpati kita cuma ngerasa kasian aja, ngga sampe merasakan dan 'pake sepatu' orang itu. Kalau empati, ngga hanya kasian, tapi kita juga merasakan dan berusaha mencoba sudut pandang orang itu. Mengira-ngira apa sih perasaan kita kalau sedang di posisi itu?

Gua yakin sih, kalau kita ngga punya empati ke orang lain, minimal ke anak sendiri. Minimal ada lah yaaa rasa empati ke ibu, bapak atau sekedar temen yang abis diputusin. OR NOT?!

Gue sendiri memang ngga punya kapasitas untuk mengklasifikasi empati dalam berbagai tingkat, karena gue bukan psikolog, gue cuma blogger/violinist/bukan rapper. Tapi gue sendiri merasa ada beberapa keadaan yang bikin kita sulit berempati. Bukan karena itu jahat, tapi karena keadaan si pencurhat itu di luar konsep kebaikan yang kita punya.

Bentuk empati ter'universal' salah satunya melihat orang miskin. Mengasihani keluarga gerobak, mengasihani anak kucel yang kayaknya ngga sekolah, mengasihani ibu-ibu tua yang duduk sendiri dengan baju lusuh dan jilbab usang.

Kasihan.

Empati terhadap yatim piatu. Mendengarkan keluh kesah mereka, memberikan sebagian baju, 'amplop' berisi sekian ratus ribu, belaian kepala dan sebungkus ciki.

Kenapa sih kita berempati sama orang yang tidak beruntung? Karena... mereka tidak beruntung zzz. Karena kemalangan mereka masih ada dalam konsep justice kita. 

Konsep keadilan. Bahwa orang miskin harus disejahterakan, anak yatim harus diberi uluran tangan, yang kuat menolong yang lemah. Konsep keadilan universal ini memang sudah 'mutlak' ya, ngga bisa dibantah karena sesuai dengan kacamata 'semua' orang. 

Sesuai yang diajarkan di buku, sesuai dengan yang ada di TV. Saking universalnya, orang miskin hampir menjadi salah satu sasaran maupun bentuk propaganda terbesar dalam berpolitik. "Rakyat kecil' menjadi 'murah' karena terus diobral dalam spanduk.

Ya, se universal itu konsep empati terhadap rakyat miskin.

So, empati terhadap orang miskin itu masih cukup 'ringan' karena hampir semua orang bisa merasakannya.

Sekarang kalau kasusnya kita ganti: empati terhadap penderita penyakit seksual.

Akan ada yang berempati, tapi kayaknya lebih banyak yang menghinakan. Kenapa? Balik lagi, itu bukanlah konsep keadilan universal. Kok bukan? Ya, emangnya semua orang menganggap itu hal yang kasian? Kayaknya sih nggak. Karena itu berhubungan dengan kehidupan seks super bebas, hal yang melenceng dari norma yang berlaku.

Suatu kemalangan tidak selalu mendapatkan empati kalau itu bertentangan dengan norma sosial.

"Ya emang jangan dikasihani lah, kan jorok," kata kamu.

Ya, emang jorok.

Tapi ketika penderita ini ngga ada orang untuk dicurhatin, dibantu problem solving, kira-kira dia bisa jadi lebih baik gak? Ngga harus lebih baik lah: kira-kira dia bisa - minimal - punya harapan gak?

Nggak, ketika mereka dihinakan terus, entah apa jadinya mereka. Depresi mah udah pasti. 
Tanpa kita memperhatikan perasaannya menghadapi 'hukuman sosial' yang akan selalu dia terima even dia tobat.

Tapi coba kita tempatkan diri jadi orang tua: anak lu kena penyakit kelamin, tapi lu ngga tau.

'Lu nggak tau' is the worst case a parents could have.

Anak lu abis aborsi dan 'lu nggak tau'.
Anak lu kena gonnorhea dan 'lu nggak tau'.
Anak lu abis dicekokin obat sama temennya dan 'lu nggak tau'.
Anak lu pake lengan panjang karena tangannya penuh guratan silet dan 'lu nggak tau'.

And the worst case: anak lu bunuh diri dan lu nggak tau.

Lu ngga tau kenapa, apa penyebabnya, stress macem apa yang anak lu lalui sehingga dia memutuskan untuk gantung badannya di kamar.

Hanya karena lu judgemental, lu ngga mau mendengarkan, lu menghakimi tanpa mencari solusi.

Dalam bab ini, gue menyimpulkan bahwa ignorance isn't always a bliss.

Itu lho kenapa empati itu butuh 'dilatih'. Kenapa empati ngga sebatas mengasihani orang miskin, kenapa punya anak ribet, kenapa kita harus belajar untuk melihat dan merasakan dari sudut padang orang, kenapa kita harus buka mata sama keadaan sekitar.

Karena itu bisa aja terjadi sama anak lu, istri lu, suami lu, nyokap lu dan siapapun yang penting buat lu.

Kalo lu ngga bisa ngomong baik, minimal lu bisa dengerin. Dengerin dalam diam. Jangan nyelak.
Kalo lu ngga bisa berempati, setidaknya jangan menghina.

Karena hinaan dan judgement lu bisa ngebuat itu orang jadi lebih pengen mati.

Empati terhadap kaum LGBT.
Empati terhadap penderita penyakit mental.
Empati terhadap penganut agama apapun.

Gue nggak encourage lu untuk permisif terhadap apapun yang bertentangan dengan kompas moral lu. Toh gua sendiri ngga bisa berempati sama pedofil kok. Those swines.

Tapi makin kesini gue ngerti: gue butuh orang untuk dengerin gue tanpa ada judgement apa-apa. Itu yang ngebuat gue merasa, "Hey! It's not that bad to be alive".

"Hey, ada yang mau dengerin aku lho"
"Wah, masih ada yang mau kasi dukungan moral ke aku"

Dan itu berarti banget.

Banget.

Dan gue beruntung gue sedang di lingkungan supportif macem itu. Makannya gue ga gila, makannya gue ga stres, makannya kecenderungan suicidal gue ngga kumat lagi. Mulai dari partner, sahabat, teman dekat. Gue punya semua itu.

Partner yang gue banggakan, a partner i could rely on, a partner i love so much.

And you should, too.

Kalau lu ada di state yang serius, jangan ragu untuk ke psikolog. Jangan ragu untuk minta bantuan professional. Get a help. Karena menyayangi mental sama dengan bentuk syukur kita terhadap Tuhan. Karena menjaga mental artinya menjaga masa depan, bagaimana kita berlaku dan memperlakukan orang lain.

Yuk belajar mendengar, memperhatikan, membiarkan orang menuntaskan ceritanya. Karena mendengar itu sendiri bisa mengubah takdir orang lain.

Be an agent of change dengan menyediakan sepasang telinga dan gembok di bibir.

(Kalo banyak yang kurang setuju maap ya. Gamaksud)


4 comments :

  1. Jujur aja sebenrnya gw gak bisa nelan mentah mentah artikel ini.. Tapi beberapa point kayaknya memang bener banget kak, gak cuma cewe doang kok yang kalo byk masalah lalu butuh temen curhat dan bisa diajak kompromi.. Cowok juga gitu, khususnya gw.. Empati ke orang itu perlu memang, tapi jelas ngeliat situasi juga kak.. Karena pengaruh di lingkungan sosial iti besar banget, contoh kak gw mau empati ama mantan pesdofil yang ada dilingkungan gw, nah bukannya gw dapet manfaatnya adanya malahan gw di nyinyir ama lingkungan gw kak..

    ReplyDelete
  2. Reminder banget nih..
    Agar selalu mengasah empati, biar seimbang hidup ini. Ga egois. Thanks mba nahla..

    ReplyDelete
  3. "Menjaga mental sama artinya dengan menjaga masa depan." Noted.
    *cuss psikolog*

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top