Categories

SOCIAL MEDIA

Kamis, 12 Februari 2015

Drama ASI; Berat Badan Kecil + Tips



"Kalau ASI ibu kurang, kenapa ngotot ASI eksklusif?"

Itulah sepenggal quote dokter anak di RSPI, dr. Aman Pulungan.
Memang, berat Mavi tuh hanya naik 400gr sebulan. Berat lahirnya 3kg, saat sebulan beratnya hanya 3.400kg.

Sakitnya itu pak, Ya Allah.. meneror hati banget. Rasanya gue gagal jadi ibu, gue gagal ngerawat anak, gue gagal semuanya.
Dan dokter ini pun gue rasa agak beda sama dokter klinik laktasi di EKA Hospital yang menyemangati gue nge ASI. 
Kok dokter ini malah ngejahotin banget ya?

Cuman ya bener emang, 400gr sebulan itu kecil.

Dan bener, gue patah arang divonis "ASI sedikit".
Kenapa? Karena gue selalu baca di forum bahwa gak ada ibu yang ASI nya sedikit, ASI itu hanya permainan pikiran.
Jujur gue kecewa sama dokternya, gue kira dia akan bilang, "Bisa dikejar kok bu, yang penting jangan stress, banyak makan, semangat ya!"
Eh ternyata dokter itu bilang hal yang mematahkan semangat banget.
Mana gue ibu muda cantik pula *trus hubungannya apa?*

Dan ketika gue ke dokter anak di EKA (Bukan dokter laktasi), beliau pun meresepkan susu formula.

Padahal gue inget banget, habis melahirkan ASI gue banyak..


Tapi gue gak nyerah!!

Gue yakin, Allah tidak akan menelantarkan ciptaanNya!

Dan akhirnya setelah googling, gue menemukan satu cara memperbanyak ASI.



1. Pumping

Gue pakai breastpump merk Medela Swing, ini memang gue udah beli sebelum melahirkan, nah kesalahan gue adalah: Gak pumping lebih awal.
Harusnya, gue pumping se awal mungkin, agar ASI gue lebih banyak keluar.

Semakin ASI dikeluarkan, semakin ASI bertambah.
Itu adalah prinsip mutlak ASI!

Jadi, untuk ibu-ibu, pompalah sedini mungkin, ASI nya bisa ditabung di botol kaca untuk siap-siap kalau mau mulai ngantor atau kuliah lagi.



Akhirnya, gue pumping saat umur anak gue 1 bulan. Awalnya gue optimis dapet banyak, ternyata..........
Ini hasil pumping ke 3 gue.



Sedikit? Iya.
Gak sampai ke garis sama sekali, dan inipun hasil dari kedua payudara gue.
Pantesan aja anak gue cuma naik 400gr.. 

Tapi ingat! Hasil pumping itu tidak memresentasikan jumlah ASI sebenarnya.
Ibaratnya, menyusui secara langsung itu pelukan dengan pasangan, sementara pumping itu cuma liat-liatan foto.
Ketika kita menyusui langsung, hormon kebahagiaan kita meningkat.
Katanya sih gitu.
Tapi saat awal-awal melahirkan, gue malah merasa trauma tiap ingin menyusui, ceritanya simpen buat lain waktu ya.


Tapi sekali lagi, gue gak nyerah!
Gue pumping, hasilnya gak beda jauh...
Karena gak cukup banyak utnuk disimpan, jadi gue buang aja ASI nya ke kloset..
Sedih, iya.

Lalu gue ingat, saat gue melahirkan, gue diberi suplemen ASI dari rumah sakit, namanya....


2. Milmor.

Milmor ini isinya plasenta sapi, kalsium fosfat tribasa, B12.
Ada jenis milmor yang 'herbal', tapi gue lebih suka yang 'kimia'.
Gak usah nge-judge gue karena gue milih yang kimia, coba lu ada di posisi gue.

Dan Milmor ini memang reaksinya cepat, dan Alhamdulillah... hasil pumping gue meningkat!

Ini hasil pumping dua minggu setelah gue pumping pertama kali.



100ml pertama gue! Kyaaaaaa~

Milmor ini diminum sehari 3x. Harganya sebox isi 6 strip @10 kapsul mencapai 120.000 an.


I swear by this.

Dan tips yang gak kalah penting....

3. Makan lebih banyak!

Serius.

Jangan mikirin badan dulu, gak munafik sih, gue juga mau langsung kurus pas melahirkan, gue gak mau jadi tipikal emak-emak gendut, apalagi umur gue masih muda bangettttt...

Tapi gak bisa sekarang, ada makhluk kecil yang hidupnya tergantung sama gue. Well, gak hidup juga sih, tapi makanannya itu hanya bisa gue yang menyediakan.

Makanlah sehari 3x, minum yang banyak, ngemil yang banyak.
Serius, ngaruh banget. Ketika gue makan dikit, ya ASI gue jadi dikit.

Karena ASI itu berdasarkan nutrisi dan kalori yang masuk ke badan.

Karena hal ini, berat gue masih sama kayak berat gue pas hamil 9 bulan.
Ya, gue gak turun se ons pun.

Malah sedikit naik.

But hey, gue dianugrahi wajah yang lumayan panjang, dan gue pake jilbab menutup badan, so......

Dan yang terpenting....

4. Dukungan.

Jujur, gak perlu muluk-muluk kayak bikin baliho ato bikin invitation di fesbuk tulisannya "SEMANGAT NAHLA KAMU BISA HORE".

Simpel aja: Jangan rese.
Udah, cukup.

Jangan ngumbar mitos, mencibir gue karena ASI gue dikit, mau nasehatin tapi jatohnya malah ngejelekin dan nge sotoy, apalagi nyuruh gue ngasih anak gue susu formula.

Seriously, just... give me a peace of mind.

Gue juga seorang ibu, keles. Gue tau apa yang terbaik buat anak gue.



Jadi, kalau kalian ingin berbicara ke temen kalian yang ASInya dikit, cukup bilang:
Semangat ya, pasti bisa!


Udah, cukup.

Untung ada suami gue, yang gue jadiin tempat curhat dan tempat cemberut kalo gue lagi kesel.

Dia selalu mencium kening gue saat awal-awal menyusui, saat Mavi bisa latch on ke dada gue.






Dan akhirnya....


Bulan ke 2, Mavi naik 1,1kg.
Tanpa sufor!!



Tuh kan gue bilang juga apa, gue, kita para ibu-ibu, pasti bisa menghadapi yang namanya berat badan kecil!


This is not the end of the world!

Bu, kita tuh bisa memperbanyak ASI!
Kalau ASI kalian masih dikit, coba lagi cara-cara lain: Minum susu ASI, minum suplemen ASI, makan lebih banyak, apapun itu!

Gak ada ibu yang ASI nya sedikit, adanya ibu yang belum nemu 'celah'nya aja.

Rabu, 07 Januari 2015

Review! Tarte - Amazonian Clay Airbrush Foundation

"Ini nih, mama beliin bedaknya Tarte, kamu kan lagi menyusui, jadi harus pake yang banyak free-free nya."

Alhamdulillah, ternyata ini yang namanya berkah menyusui..........................

Gue jarang pake bedak, jadi gak pernah beli.. ternyata kemaren nyokap beliin ini, oleh-oleh dari Singapore. Sekali lagi, alhamdulillah, karena sebagai ibu-ibu gue harus ngirit. Ngirit is love, ngirit is life.

What's this?

Dari judulnya, ini adalah foundation, tapi sebenernya ini powder foundation. Jadi bukan foundation cair. 

Packaging:

Tutupnya kayu, lalu badannya dari kaca yang doff. Ukurannya se telapak tangan. Menurut gue packagingnya bagus! Mewakili banget produknya yang cruelty free. Harganya sih emang rada mahal, tapi dengan packaging kayak gini, bagus!




Di baliknya ada peruntukannya lho! Untuk fair to light skin with yellow undertones.

How To Use:



Ada seal yang terbuat dari kertas coklat, kayak kertas daur ulang menurut gue. Jangan jangan dari koran. Koran kompas. Kompas arah. Arah hubungan kita #tsaelah




Ketika dibuka, ada semacam jaring-jaringnya! Jadi tinggal menekan jaringnya dengan brush, maka bedaknya langsung keluar. 
Gak perlu tuang-tuang lagi ke tutup bedak kayak biasanya, jenius! Kadang gue keluarnya juga kebanyakan kalo nekennya kekerasan. Kekerasan pada hidup #tsaelah
*Pengen diajakin main menyambung kata*
*Tapi gak ada yang mau diajak maen*
*Jadi aku main sama kalian aja deh*
*Kalian juga palingan nganggur kayak aku*
*Iyakan ngaku deh*
Claim:
-Full coverage.
-Free parabens, mineral oil, phthalates, triclosan, SLS, gluten.
-"91% wanita menyatakan bahwa kondisi kulit mereka membaik setelah beberapa kali pemakaian"
-Curelty free.
-Ketahanan 12 jam.


Other fun facts:
-Pearl powder.
-Ruby powder.
-Tourmaline (Yang biasa ada di catokan)
-Quartz (?!)
-Sea salt.
-Bamboo powder.

Kayaknya di atas adalah nama perhiasan semua ya? Semoga gak ada batu akik.
Lucu juga ya ingredientsnya? Dan mereka pun ada di bagian atas pada daftar ingredients, artinya porsinya lumayan banyak.



Coverage?

Ini yang bikin keren, apakah benar seonggok powder foundation bisa menghasilkan full coverage??

Before:


After:



No edit!

Hebat! Terbukti bisa meng-cover bekas jerawat yang ada di balik kerudung! Hebat! Hebat! Kanpaaiiii!


Hasilnya pun flawless!

Before:


After:


Thoughts:


-Full coverage? Terbukti!
-Hasil flawless? Yess!
-Tetep harus pakai concealer bawah mata kalau kantung matanya terlalu hitam.
-Packagingnya bagus, gue suka!
-Ingredientsnya unik, cruelty free, asik e pokoke.
-Ide jaring-jaring yang bagus, agar gak repot tuang-tuang ke tutup bedak.


Reviewnya bagus-bagus juga di internet, menghasilkan efek airbrush yang flawless. 

Harganya 36$ di website tartenya. 

Mahal ya? Iya. Biar gak sedih, mending liatin foto selfie eke, hahaha!




Ini pake lipstick Wardah #15, review disini.

Kurang puas? Nih gue kasih foto anak gue aja ya.


*Muki*







Selasa, 06 Januari 2015

Review! Wardah Matte Lipstick #15

Dewi Sandra.
Dewi. Sandra.

Dia adalah sesosok yang sangat gue kagumi karena cantik. Cantik banget sampe bikin gue mempertanyakan keadilan.

Dia adalah brand ambassadornya Wardah. Menurut gue, warna-warna lipstick Wardah itu cantik-cantik banget, serius. Warnanya tuh kalem dan bersahaja #halah.


Dan suatu hari, nyokap gue membelikan gue lipstick ini! Asik.. doa gue terjawab.
Intinya sih, kalo mau sesuatu tuh harus banyak-banyak doa.



 Packaging:




Silver. Menurut gue, packagingnya seperti ini untu menunjang harganya yang dibawah 30rb. Menurut gue sih pilihan warnanya bagus untuk range harga segitu. Biasanya lipstick lain memakai warna tua atau warna hitam, tapi ini warna silver. Gak terlalu looking cheap gitu lah hahaha!

Color:

"Bronze Nude"

Gue baru pertama kali pake warna kayak gini.. 
Warnanya bagus! Gue merasa vintage karena sentuhan bronze nya. walaupun warnanya nude, tapi masih ada sentuhan orange nya, jadi gak pucet-pucet banget.







Swatch:


Before-After:



Hasilnya matte.


Thoughts;

-Lipsticknya halal! Tapi jangan dimakan ya..
-Range warnanya cantik banget. Bisa cek di giant terdekat, hahaha! Kalo mau lipstick murah yang warnanya gak medok kayak mbak-mbak, bisa tengok wardah. 
-Ini membuat gue terkesan lebih dewasa, lebih serius. Mungkin bukan lipstick para remaja ya..



Gue gak tau cara review make-up, apalagi lipstick. Jadi.... segini dulu ya!

Here's FOTD;






Kamis, 01 Januari 2015

Ibu-Ibu Judgemental

Apa definisi "Judgemental" menurut kalian?
Menurut gue, "Judgemental" adalah keadaan dimana seseorang menilai orang lain tanpa melalui proses mendalami orang tersebut. Biasanya menilai secara sinis didalam hati, atau dikatakan secara langsung.

Gue akui, temen-temen gue menilai kalau gue punya tatapan yang judgemental banget.
Apa mereka benar? Menurut gue sih nggak juga.
Gue gak judgemental, tapi gue gampang risih. Gue pun lagi cari cara agar sifat gue yang ini menghilang, karena otak gue capek kalau harus terus-terusan risih sama orang..


Kalau ibu-ibu yang judgemental?
Istilah dulunya sih "ibu-ibu tukang gosip".
Nah, iya, tukang gosip.
Gue suka gosip kok, ngaku aja. Tapi lebih ke arah "Eh cerita donggg.." daripada "Eh eh tau ngga sih?!". Biasanya tipe yang kedua ini yang suka nyebarin gosip.

Pada dasarnya sih, semua wanita itu judgemental.

Kecuali yang bener-bener berhati emas yang saking murninya ampe bisa dikilo-in. Yang udah mustahil ditemuin jaman sekarang. Kalau ada pun, cuma 100 tahun sekali. Kalo bisa 500 tahun sekali biar kayak Do Min Joon.

"Duh ucing pala wa"

Ibu-ibu ini biasanya segerombolan wanita berumur 30an keatas. Kalo gue? Ya gue seorang ibu sih, cuman masih umur 19, masih kece ya walaupun udah turun mesin..

*kemudian pesen Kozui Slimming Suit*
*bukan, ini bukan iklan*
*tapi kalo ada yang mau endorse, boleh lho*


Kalau cewek-cewek berumur belasan sampai 20taunan masih menilai tentang penampilan orang lain, ini pacaran sama ini, gaya rambut orang, high heels orang lain, muka nyolot murid baru, rok pendek MABA, gaya ngomong Syahroni, ya gitu gitu lah.

"Eh itu roknya pendek banget, kayak /$&#*#*, pasti nanti dia kecentilan ma cowo gue"
"Ih najis masa si ini jadian sama si ganteng? Dia kan mukanya kayak pembantu, pasti karena duit ato body nya aja deh"
"Ngapain tu orang jalan sendiri di mall? Mau ketemu selingkuhannya?"
And so on..


Dan komentar pedasnya pun memang lebih kasar, tapi gak sampe nusuk.
Serius, bu. Anak sekarang ngomongnya kasar banget. 

Untung gue gak kayak gitu sih. Ya setidaknya gue udah tobat..


Nah, kalo ibu-ibu ini nilainya lebih ke arah urusan anak dan rumah tangga.


"Ih anaknya si anu masa udah punya HP, salah didikan banget"
Padahal biar anaknya bisa segera ngabarin ibunya kalau pulang sekolah lebih awal.

"Ih anaknya si itu bajunya baru terus, ga pernah pake baju yang sama, pasti ni anak gedenya borju"
Padahal ibunya emang punya workshop baju, atau bajunya pemberian dari temen-temennya.

"Ih ibu ini kok ngurus anak tapi rambutnya masih 'on' ya? Centil banget sih, pasti anaknya gak diurus di rumah"
Padahal biar suami tetep betah dirumah ngeliat istri cantik. Ini ibadah lho!

"Kemaren ada cowok muda masuk-masuk rumah ibu X, pasti itu selingkuhannya"
...... Padahal itu adeknya.

"Ih, bayi masih kecil gitu udah di ajak ke Mall, kegatelan banget sih ibunya"
Padahal memang gak punya baby sitter dirumah, dan tokonya hanya ada di Mall itu.

Intinya, ibu itu "salah didik" ke anaknya.

Dan ibu-ibu ini merasa merekalah yang berpengalaman, good mother, suri tauladan bagi semua wanita. Mereka merasa berhak mengambil andil parenting anak orang lain.


A: "Ibu jangan banyak digendong ya anaknya, nanti bau tangan.. :) "
B: "Justru harus sering digendong, bu. Menurut dr. Sears di buku parentingnya juga begitu. Anak yg sering digendong akan menjadi anak baik karena kasih sayangnya terpenuhi..."
A: "ohh..."

Dalam hati:"Ini mbak ini tau apa tentang ngedidik anak? Saya udah punya anak 15! Mbak ini baru aja punya anak satu. Beraninya nolak saran saya yang sudah berpengalaman. Anak kecil tau apa sih? Saya juga bisa kame kameha."

Gue gak suka istilah "Bau Tangan", by the way. Anak itu emang didesain buat digendong dan ditimang, makanya  tempat pertamanya adalah rahim, tempat hangat yang selalu dibawa jalan jalan sama ibunya.
Gak setuju sama saya? Baca bukunya dr. Sears deh. Baca. Baca aja. 2014 masa lebih percaya mitos orang dulu daripada buku pengetahuan? Huehuehue.. no offense ya. Jangan tersungging.

Bikin artikel ini, gue jadi inget Xiaxue. Dia adalah blogger top Singapore, dan punya anak satu.


Coba liat gayanya, kalau diliat sama ibu-ibu komplek pasti digosipin, iya kan?
Pasti dia di judge habis-habisan!

Dia pun memang sosok yang kontroversial di Singapore, karena blog nya yang jujur - malah terlalu jujur - yang sarat akan ngajak berantem.

Coba liat, semua dari dia bisa dicap negatif oleh orang banyak;
Rambutnya yang gonta ganti warna
Pakaiannya yang terbuka
Fake lashes
Plastic surgery
Tattoo-an

Untung dia gak tinggal di komplek, bisa jadi bahan omongan tuh..

Dan dia punya anak satu, laki-laki!

"Ih kasian anaknya diasuh sama emak kayak gitu!"
"Ih gue gak mau punya istri kayak gitu!"
"Ih pasti dirumah gak ngurus anak, kerjaannya cuma dandan sama ngajak ribut"
"Gak usah punya anak sih kalo gayanya masih kayak gitu!"
etc.

Bener sih, tipe perempuan kayak gini itu jauh baangeeettt dari kriteria istri idaman; kalem, gayanya gak aneh aneh, bajunya sopan, gak dandan. Padahal perempuan tuh butuh dandan juga lho.


Tapi dibalik rambut warna warninya, tersimpan sifat keibuan yang luar biasa.

Kalian tahu?
Anak laki-lakinya menolak minum ASI, namun Xiaxue gak nyerah sama susu formula, dia pumping 2 jam sekali untung memenuhi kebutuhan ASI anaknya. Coba, berapa ibu-ibu yang nyerah sama sufor karena sesuatu yang sebenarnya bisa diperjuangkan?

Pumping 2 jam sekali? Ain't nobody got time for that,

Xiaxue menggambarkan buku cerita untuk anaknya!



Ada berapa diantara kita yang menggambarkan buku untuk anak kita sendiri? Padahal kita sebenarnya punya waktu untuk melakukannya!


Lu ngejek ibu-ibu yang bawa anaknya ke mall, tapi lu sendiri masih suka mukul tangan anak instead of ngajarin dengan cara baik-baik.

Lu ngejek ibu-ibu yang tampil over-cantik dan nuduh mereka gak ngurus anak, padahal lu sendiri masih suka naik motor ber-4 yang jelas-jelas bahaya.

Lu nyinyirin ibu-ibu yang gak bisa masak, tapi lu sendiri gak bisa minta maaf ke anak lu padahal lu yang salah.

Lu nyinyirin ibu-ibu yang kerja, tapi lu sendiri masih suka melototin anak padahal dia cuma nanya kapan waktunya dia nonton kartun.


Intinya sih, coba introspeksi diri dulu. Coba jangan jadi pribadi yang sombong, merasa paling hebat diantara yang lain.

Coba lihat dan perbaiki kekurangan diri, kalo udah diperbaikin baru bisa pelan-pelan membimbing ibu-ibu yang lain. 'Membimbing' lho ya, bukan nge-sotoy.


Tapi boleh menjudge ketika ibu itu memang melakukan tindakan kriminal, atau tindakan yang membahayakan, contohnya: Merokok di dekat anak, merokok padahal masih memberi ASI, memakai narkoba, memukul anak dengan keras, melakukan kekerasan fisik tehadap anak, dsb.

Kalo itu sih jangan cuma di judge, harus ditegur. 


Intinya? Jagalah kebersihan.

Minggu, 21 Desember 2014

Basa-Basi Terlarang II: Ver. Ibu Baru Melahirkan!

Melahirkan adalah hal yang sulit, berdarah-darah, dan ngeri. Hiiii~
Bisa dibaca di posting gue sebelumnya, bahwa melahirkan itu antara hidup dan mati.

Cuman gimana teh, masa gak dilahirin? Sebagai seorang ibu hamil, melahirkan itu tidak ada pilihan "ya" dan "tidak", hanya ada pilihan "harus".

Untuk pemulihannya pun menurut gue no kidding, sakitnya gak kalah saat pas melahirkan. Yang normal maupun caesar, pemulihannya sama-sama sakit, bawaannya pengen dibius seminggu aja deh. Gue aja sampe 1 bulanan masih ngilu-ngilu yahud.
Dan menurut gue, ibu baru melahirkan itu sangat harus dipuji-puji. Pokoknya gak boleh dicela sedikitpun, karena ibu baru melahirkan itu sama aja kayak orang yang baru pulang habis berperang. Seriusan deh, kalau udah pernah ngerasain, pasti setuju sama gue.


Ah, ini mah alesan gue buat dipuji aja, sih.

Dan pengunjung itu sangat diharapkan, lho. Apalagi kalau pengunjungnya bawa hadiah AHAHAHAAH hemmmmmmm....

Tamu yang suportif itu bagai pengobat rasa sakit sang ibu yang baru pulang  berperang. Menjadi tamu yang suportif itu wajib hukumnya, tahanlah kritikan dalam hati, kenapa? Karena ibu baru melahirkan itu sebenarnya sangat lelah, sangat lemas dan... sangat minder dengan penampilannya sehabis melahirkan. Well, walaupun pas melahirkan gue sempat memakai lip tint dan concealer. Tapi gak sampe bulu mata palsu sih, YAKALE BOSSSSS~


Dibalik bahagianya seorang ibu baru melahirkan, ada problem yang tetap harus dihadapi sehabis all that painful  moments. Contohnya?
1. Menahan perih ketika menyusui pertama kali.
2. Menahan sakitnya bekas jahitan di kemaluan.
3. Gak bisa tidur karena ngilu dan harus urus bayi, padahal sangat lelah jiwa raga.
4. Stretchmark yang gak bisa hilang.
5. Badan menggendut.




Tapi ada beberapa tamu yang kurang sensitif terhadap sang pasien. Yang harusnya membawa kesenangan, malah membuat sang pasien sedih, gelisah, kesal, pokoknya merasa sangat pissed off deh. Yaaah, ngerti sih kalau itu untuk kebaikan.. cuman kan tahan dulu bisa kelez.

"Udah kek elah"


Mengikuti artikel Basa-Basi Terlarang sebelumnya, gue buat Basa-Basi Terlarang versi Ibu Baru Melahirkan!

1. Jangan mencandai nama anaknya, apalagi menggurui!


Walaupun nama anaknya terdengar sangat lucu, artinya kocak, atau aneh sekalipun, simpanlah opini lu untuk diri sendiri. Karena nama anak itu menurut gue sudah dipikirkan matang-matang oleh orang tuanya, contohnya gini:

"Namanya siapaaa?"
"Namanya Crescei.."
"Wakakakak kayak "kresek" namanya, hahaha!"

Wah, mau lu sahabat deketnya, keluarganya, tetep aja bikin bete.
Apalagi kalo lu bukan siapa-siapanya, deket aja nggak, wah nggak dilempar kotak tisu aja udah sukur.

Tapi yang lebih ngeselin tuh yang menggurui, menilai namanya buruk, bahkan mengisyaratkan untuk ganti nama.
 Wah, maksudnya sih memang baik, tapi menurut gue hal itu sama sekali nggak pantas. Kenapa susah ya untuk sekedar be happy untuk sang ibu?
Contoh beberapa kalimat yang harus sebisa mungkin ditahan, bagaimanapun juga.

"Namanya kok gak ada unsur *masukkan nama kebudayaan atau ajaran disini*-nya? Nanti hidupnya susah lho"
"Kenapa namanya nggak _____ aja?", YAELAH BRO EMANG INI ANAK LU.
"Menurut ilmu saya, nama ini poinnya hanya 39, seandainya hurufnya diganti akan lebih bagus.", poinnya bisa dituker mobil Fortuner gak? Ini true story lho..
"Mendingan kamu ganti nama deh", seriously, man?


Yah.... gimana ya? Gue menganut paham "Tak Kenal Maka Yaudah" sih.... Apatis banget yak?



2. Jangan. Pernah. Pegang. Anaknya.


Kita orang dewasa adalah kompilasi seonggok bakteri yang menular dan sangat kotor, sedangkan bayi adalah makhluk suci kesayangan malaikat tanpa cela yang rapuh dan bebas bakteri.

Jadi jangan colek-colek bayi itu karena mbak-mbak sekalian itu sangatlah penuh bakteri, dan bayi itu sangat rentan terhadap bakteri.

Pleasseeeeee mbak, ibu-ibu, mengertilaaaahhh hal ini!!

Banyak banget ibu-ibu yang sembarang megang-megang mulut anak gue, apalagi daerah muka. Untung gue yang gendong, jadi bisa segera dihindarkan dengan bilang "Aduh anak mamaa.. laper ya? Mau minum ya? Cup cup cup~" padahal anak gue lagi tidur-tidur selow.


Kalau mau pegang bayi, sebaiknya lu memegang bagian...... nggak deh. Jangan pegang bayi.

Kecuali keluarga dekat yang ada di lingkaran satu, seperti nenek, kakek, tante, om, dkk. Boleh lah pake disinfektan tangan dulu. Tapi keluarga gue sih semuanya mengerti tata cara kontak fisik dengan anak bayi, jadi gak ada tuh keluarga gue yang nyolek mulut, bahkan yang nyolek pipi aja jarang.



Ini berlaku pada aktifitas gendong menggendong ya. 

Gue pribadi kesel banget kalo lagi ngegendong Mavica, tiba-tiba diambil gitu aja sama tamu yang random. Tamu yang random ini artinya tamu yang gak gue kenal secara personal.
Maksudnya 'diambil gitu aja'? Ya, persis secara bahasa. Tiba-tiba gue lagi nimang-nimang, orang ini mengambil bayi gue tanpa seizin gue. Mama dan mama mertua gue aja minta izin kok, masa mbak-mbak sekalian nggak minta izin?

"Lah, tapi kerabat saya gak apa-apa tuh kalo anak bayinya saya pegang-pegang, malah dia minta sendiri buat nyuruh gendong...."

Mungkin dia senyum-senyum aja saat bayinya dipegang-pegang, tapi percayalah, dalam hati dia sangat kesal dan mengutuk. Dan mungkin dia nawarin gendong biar formalitas aja kali, berharap kamu nolak, gitu.


Tapi ada beberapa ibu yang ngizinin, sih.
Ah, mungkin guenya aja yang sensi dan super ngeselin.
Tapi karena aku sayang kalian, aku ngasihtau hal beginian.


3. Gak boleh mengumbar apalagi memaksakan mitos gak logis.


Kebanyakan mitos ini berkaitan dengan ASI, gue share beberapa ya.....

"Jangan kenain ASI bayi ke kemaluannya, nanti dia hypersex". Well....
"Harus cepet disusuin ya, nanti ASI nya basi". Kalo basi, pasti udah banyak banget wanita yang payudaranya busuk.
"Dada kanan itu lauk, dada kiri itu nasi, jadi nyusunya harus gantian.". Terus, dessertnya berupa cinta ya?
"ASI bisa buat ngilangin tattoo". Walah.
"Jangan pake tank top, nanti ASInya dingin!". Berarti yang tinggal di negara 4 musim, ASInya frozen ya (.....)
"Jangan kenain ASI ke kuping, nanti budek!"


dan juara mitos kali ini adalah...


"Kalo payudaranya bengkak, coba puter-puterin kolor suami ke payudaranya" 




Serius, gue nemuin mitos ini di forum kewanitaan. Semoga habis di puter-puterin, gak dilempar ke muka tetangga.

Kolor, buset. Kaga ada yang lebih bagus apa?




Sebenernya mitos itu memiliki pesan yang benar, nih gue kasih tau rumusan mitos:



"Jangan ___(a)___. Nanti ___(b)___"

(a) : Sebab
(b) : Akibat


Biasanya yang (b) ini adalah akibat yang ridiculous, dan lucu. Namun (a) ini adalah sesuatu yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(a) itu sebenernya pesan yang ingin disampaikan.
(b) itu cuma buat nakut-nakutin aja biar kita melaksanakan yang (a)

Karena bagi masyarakat dulu, belum ada googling yang bisa menjelaskan semuanya. Jadi kalau dinasihatin, pasti ngebantah. Naaahh biar gak ngebantah, dibuatlah si (b) yang cenderung nakut-nakutin. Sebenernya mitos itu gak selalu salah (Kecuali yang kolor itu, salah dari sisi manapun).


Contohnya:


Jangan (a) kenain ASI bayi ke kemaluan, nanti (b) hypersex.
 Ya iya, jangan sampai kena. Kena pipi bisa merah-merah, apalagi kena daerah sensitif.


dan beberapa mitos lain yang pesannya sebenarnya baik:

"Kalo habis berpergian, keluarin dulu susunya biar gak dingin".
Gue gak percaya yang bagian "biar gak dingin", tapi gue selalu mengeluarkan ASI gue sebelum menyusui, kenapa?

1. Agar membuka dan membersihkan pori pori puting yang tersumbat.
2. Untuk mengoles puting agar gak sakit ketika  menyusui.


Tapi ya kita harus beruntung lahir dan hidup di era digital ini, dimana semua informasi bisa diakses, dimana kalau demam tinggal googling, kangen sama anggota keluarga jauh tinggal message di Facebook, mengemukakan pendapat tinggal ngetweet di Twitter, belanja tinggal search hashtag di Instagram. Semoga dengan era digital ini, informasi yang didapat bisa diverifikasikan lagi.


Dan ini dosa terakhir. Dosa besar dan memiliki tingkat menyebalkan paling tinggi adalah.........





4. Jangan merekomendasikan susu formula!!!

Ketika di Al-Quran ada anjuran memberikan ASI selama 2 tahun...
Ketika dokter dan para ahli gizi internasional mengharuskan bayi untuk diberi ASI...
Meanwhile. lu disini dengan ngototnya merekomendasikan bahkan sedikit memaksa ibu baru melahirkan untuk memberikan anak bayinya SUSU FORMULA.


Itu dosa.

"Ih susu kamu masih dikit, kasih susu formula dong, kasian bayinya kelaperan.."
"Susu formula bisa bikin anak cerdas lho..."
"Kamu pake susu formula apa?"


Memang ada kondisi dimana ibu gak bisa menyusui karena kelenjar susunya bermasalah, kalau itu alesannya buat ngasih susu formula sih gue setuju aja.
Dan kalau itu keputusan ibunya sendiri, ya gue mah iya-iya aja.

"Tapi ASI aku dikit". Yaiya, karena baru melahirkan pasti masih dikit.. Gak apa-apa kok..
Bayi bisa bertahan hidup selama 3x24jam tanpa minum..

Nah, kalau hari pertama masih dikit atau belum keluar, gimana? Rajin-rajin pumping. Memang awalnya cuma dapet seiprit, tapi lama-lama bisa lebih banyak.


Ingat, ASI itu supply-demand. Lebih banyak dikeluarin, lebih banyak produksi.

Kalau sampai 3 hari belum keluar sama sekali, yaudah mungkin harus dikasih sufor kalau emang urgent. Tapi ASI harus tetap diperjuangkan! Dengan pumping, minum ASI booster (Daun katuk, pil Milmor, apapun itu).


Gue yakin Allah gak agak menelantarkan makhluk-Nya. Gue yakin Allah pasti menyertai bayi dengan ASI.



Tapi buat tamu, jangan saranin sufor yah, itu namanya merampas hak anak, okeh?


Yaelah, mbak. Punya smartphone kok masih nyaranin sufor pas hari pertama melahirkan sih?

ASI itu yang terbaik untuk bayi.









Kenapa harus buat artikel seperti ini?

Karena ibu menyusui itu gak boleh stress, karena dibutuhkan hormon bahagia (Oksitosin dan Prolaktin) untuk memproduksi ASI. Gak mau kan bayi kecil kekurangan makanannya karena ibu stres gara-gara basa-basi yang rese'?

Yah intinya sih, kalau mau menjenguk temen yang baru melahirkan, satu-satunya yang harus dilakukan adalah memuji-muji temen itu. Oh iya, hadiahnya jangan lupa ya! Hahahaah!



Selasa, 18 November 2014

Tentang Kelahiran Mavica.

Kemaren, tanggal 30 oktober 2014 jam 22.24, ada member baru di keluarga gue. Ya, itulah anak gue. Gue, yang umur 20 aja belom. Gue, yang tidur aja masih ngeces. Gue, yang masak telor aja masih gosong.

**

Pagi pada hari Kamis, gue emang ada jadwal kontrol ke dokter buat periksa rutin biasa (USG, dkk). Suami gue waktu itu lagi di bogor, jadi gue sama nyokap. Gue kontrol di RS. Eka Hospital yang sangat-sangat pro ASI dan pro persalinan normal, reviewnya nyusul yah.

Nah, saat gue menunggu dipanggil, gue menyempatkan diri buat pipiz. Piz. Piz.
Lalu saat gue mengeringkan dengan tissue, lho kok ada bercak darah.

Cuman gue biasa aja, gue pikir cuman lecet.
Lalu gue dipanggil buat ukur BB dan tensi, bidannya bilang gini...
"Udah 38-39 minggu ya bu?"
Trus gue baru inget.... "Oh iya..." dan gelisah,
kenapa ya gue belum ngelahirin juga?

Jujur aja, gue rada parno sih, soalnya banyak kasus ibu-ibu yang harus caesar karena bayinya gak lahir-lahir. Gue sih gak papa kalau caesar, ATM gue yang gak mampu. Aduhai cyin, 2xjeti emang muncul tiba-tiba?


Lalu gue cerita ttg bercak darah itu ke Obsgyn gue, Dr. Merry. Trus secara random, si dokter memutuskan memeriksa bagian dalem gue, sambil bercanda "Jangan-jangan udah bukaan, hahahah!"



Anjir, beneran udah bukaan.
"Wah udah bukaan 2...". Gue poker face, se poker face-poker face nya. Gila. Serius?

"Sekarang masuk rawat inap ya..." Ok.

"Nanti di ruang bersalin ya.." He eh.

"Maghrib semoga udah lahir." Ok. 




APAH?!
"Maghrib ini dok?", tanya gue.
"Iya..."

Gua kira maghrib besok. Yakali sih, bukaan 2 masa melahirkannya besok?



Oke, hal itu cukup membuat gue melupakan hari, dompet, dan semua-muanya. Yang gue inget cuman: harus beli pulsa buat ngisi quota internet, biar bisa #liveupdate di LINE.

Emak macam apa gue?

Dan parahnya, gue serius.

Lalu gue digiring ke ruang bersalin, gue belum sempet telpon suami gue. Tapi untung ada nyogab yang nelponin suami gue. Alhasil, dia buru-buru pulang untuk ambil baju dan menyusul gue ke ruang bersalin.

Akhirnya gue ganti baju, saat itu masih jam 12 siang.
Dan akhirnya suami gue datang... dia mendatangi gue dengan kemeja kotak-kotak lengan pendek, dan keringat di wajah hasil dari mencari rezeki. ia langsung memeluk gue dan duduk di sebelah gue.

"Hehe.. aku udah mau melahirkan lho.."
"Iya...", katanya sambil tersenyum seperti anak kecil.
"Ayo ceritakan sesuatu yang menyenangkan..."
"Baik. Jadi... suatu hari ada kancil, kancil ini sedang bekerja. Si kancil punya istri, istrinya lagi hamil...
Laluu akhirnya si kancil pulang sambil membawa buah untuk istrinya, eeehh.. istrinya melahirkan"
"Waah... ceritanya bagus", dan dia memeluk gue.

Tiba-tiba punggungnya sesunggukan, dia mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di pundak gue. Gue merasa pundak gue basah.
"Maafkan aku... karena tidak ada di sebelah kamu tadi... maafkan aku..", matanya memerah. Kemeja sederhananya semakin mempesona karena aku membenamkan wajahku di pundaknya juga.
"Aku akan menemanimu dari sekarang.." lanjutnya.

Akhirnya gue nunggu di ruang bersalin, jam 4 udah bukaan 4, dst.

Bukaan 4: Gue masih gak merasa sakit, masih santai banget.

Bukaan 5, jam 6 sore: Udah mulai kontraksi 5 menit sekali, tapi kontraksinya cuman beberapa detik. Dan itupun masih bisa gue tahan. Gue masih senyum-senyum, gue masih selfie #beforelabor. 

Bukaan 6.5 jam setengah 7 malam: Ketuban gue dipecahin pakai alat kayak tongkat besi panjang.

Bukaan 7 jam setengah 8 malam:Muka gue udah gak jelas airnya gimana. Gue gak bisa menunjukkan ekspresi apa-apa, ditanya juga gak bisa jawab, anjir gelax sakit anedh qaqa ucedh deh. Di ruang bersalin cuma ada suami sama nyokap gue, yang memberikan gue dukungan moril berupa peluk-peluk dan pijitan. Gue gak bisa ngomong apa-apa, selain karena terharu, ya emang gue lagi gak bisa ngomong apa-apa.

Ini kok lebih kayak mau ngeluarin jin ya


Bukaan 9,5 - 10, jam setengah 10 malam: Alamak buset, itu sakitnya kayak mau keluarin semangka (emang bentuknya kayak semangka sih). Kalau didekripsiin tuh, kayak keluarin pup sebesar semangka, cuman keras dan gak keluar-keluar. Gue udah ngejan dengan berbagai pose:


 Pose yang diatas ini...........................

Sakit banget sih bro. Cuman gue gak nangis, gak teriak, cuman ber-mimik ngeden aja..
Dipikir-pikir, gue super juga ya. Cuman belom sampe ke tahap Golden Ways sih.

Gue ditemani 1 dokter kandungan gue, dan 4 bidan.

Saat melahirkan, jam 10 malam:

Gue udah disuruh ngeden serius, setiap ngeden, bidan-bidan menghitung 10 detik.
"Tarik napasssss..... Tahan, dorong kuat-kuat, mata melihat ke perut, kaki di rangkul... 1.. 2.. 3....... 10!", itu di ruangan udah kayak pertandingan olahraga.
Gue udah ngeden berkali-kali. Padahal kalau gue baca kisah melahirkan di internet, biasanya ibu-ibu hanya mengeden 2-3x.

Dan rasa sakit gue cuman bertahan 10 detik doang, sesudah itu hilang. 

Suntikan induksi untuk merangsang rasa sakitpun dinaikkan, dari 20, perlahan naik sampai ke 100, tetep kontraksi gue pendek-pendek dan gak begitu kuat.

"Ayo ibu.. kepalanya udah keliatan!"

But i'm so sorry, gue udah gak kuat, gue udah 'ngantuk', gue lemes, gak ada tenaga. Gue cuma ngejan sebisa gue, dengan kontraksi seadanya dan rasa sakit yang belom bisa membuat gue menjerit-jerit kayak di sinetron.
Gue kerap bertanya ke dokter..
"Kenapa ya Dok? Kok lama ya? Apa ini normal?"
Sambil kedua kaki gue dipegangin suster untuk ngeden.

Dokter udah geleng-geleng kepala, dan memanggil suami gue..
"Pak, ini harus di vacuum" katanya.
"Apa ada konsekuensinya, Dok"
"Palingan kepalanya agak lonjong... Kalau setuju, nanti ada dokumen yang harus di tanda tangani"

Gue udah au amat bodo yang penting anak gue lahir.

Akhirnya kami setuju buat di vacuum, dan akhirnya..



***BAGIAN INI MENGANDUNG KONTEN YANG MUNGKIN MEMBUAT ANDA TIDAK NYAMAN***

Dokter menggunting daerah perineum gue (Googling!), dan meraih kepala anak bayi gue di dalam dengan kedua tangannya, memajukannya sedikit ke luar. Gue udah ngeliat baju dokter bersimbah darah.
Lalu Dokter menggunakan alat seperti vacuum, kali ini instruksinya lain.
"Rileks ya, gak usah ngejan. Kalau masih mau ngejan sih gak papa, cuman gak usah"

Akhirnya dengan 2x vacuum, ada sebuah makhluk slimy yang keluar. Kejadian ini cepet banget, kayak "Syuut". Rasanya kayak ngeluarin cumi-cumi besar dari perut (Perumpamaannya ngarang sih, soalnya gue juga gak tau gimana rasanya ngeluarin cumi dari perut).

Alhamdulillah, bayi gue lahir.... Bentuknya kecil, licin, kayak ikan.

Suami gue nangis, sambil menelpon mamanya... "Bayinya sudah lahir..."

Gue udah... Gak merhatiin lagi, gue hampir gak sadar, ngantuk...
Lalu dokter memberikan bayi ini ke gue, gue menyentuhnya, masih bersimbah darah.

Lalu bayi gue dimandiin di ruang sebelah.

Ternyataaa... bayi gue susah keluar saar ngeden itu disebabkan oleh tali pusar yang pendek. Jadi seberapapun kuat ngeden gue, gak bakal keluar karena tali pusernya pendek. 


Nah, ini bagian paling sakitnya. Dijait. 

Kalo dibandingin sama melahirkannya, ini sukses bikin gue teriak-teriak. Gak kenceng sih, cuman "Aduuhhhh!!". Beda kayak pas melahirkan, dimana gue mendadak 'silent mode'.


Sakitnya? Alamakjan aduhai mak buset deh hastagah.

Bayangin aja, jalan lahir dijait. Aduhai buset. Sakitnyaaaa....
Dijaitnya berlapis-lapis, dari bagian dalam, sampai bagian kulit luar. Gue terus bertanya ke dokter
"Apa sudah selesai?"
"Apa sudah?"
"Sakit dok....."

Ditengah-tengah moment jait-menjait, gue mendengar suami gue meng-adzani bayi di ruangan sebelah, bayi gue lagi dimandiin.

Habis itu, gue menjalani IMD (Inisiasi Menyusui Dini), jadi bayi gue ditaro di dada, lalu dia mencari  dan menyusui tanpa harus gue arahin.

Gue udah gak punya tenaga buat terharu lagi, gue teler, ngantuk, sampe diingetin sama bidannya, "Jangan tidur!"


"Jangan tidur! Nanti kamu 'lewat'" Gue kira bidannya mau ngomong gitu, taunya
"Jangan tidur! Nanti bayinya jatoh!" Okedeh.

Dan pada akhirnya, bayi gue cuman numpang bobok di dada aja. Gak mencari puting. Jadi gue dan bayi sama-sama bobo pas IMD.


Ah emang dasar keturunan tukang molor.

Lalu gue membicarakan nama panjang anak dengan suami gue. Iya, sesudah melahirkan baru ngomongin perkara nama -_-
"Ayo kritis sama aku. If you don't like it, say it", kata gue. 


Satu persatu keluarga gue datengin gue di ruang bersalin, cuman gue udah gak ngeh.



Dan gue diobservasi (baca: dianggurin) selama 2 jam di ruang bersalin, karena ada pasien lain yg kondisinya maha gawat. 

Kenapa gue teler? Oh, ternyata karena pendarahan gue lumayan banyak. 

Welcome to the world, Arkani Mavica Sadela.

3,080 kg
50 cm
Perempuan.

Putih banget ya? :)

Sekarang mah dia gosong gara-gara disuruh dijemur 30 menit. 30 MENIT LU BAYANGIN.


***








Q&A


Sakit gak melahirkan?
Sakit banget, karena pas ngejan, mulesnya menekan perut dengan sangat kuat. Cuman di gue, lebih sakit pas dijahit. Mungkin ini sakit yang paling sakit di hidup gue, walaupun gak membuat gue menjerit. Seumur hidup, gue menjerit hanya karena dua hal: Menangis sedih, dan cabut gigi.



Berapa biaya melahirkan?
Di brosurnya, kamar VIP persalinan normal mencapai harga 12,5jt. Tapi karena gue ambil paket macem-macem seperti screening, biaya dokter, dan segala tetek bengek lainnya, gue merogoh kocek sebanyak 20,5jt.

Mahal ya? Tapi service dan semuamuanya itu menyenangkan. Perfect buat ibu-ibu yang ingin dipuji-puji habis melahirkan. 
Eka Hospital sangat memperhatikan kondisi psikologis ibu.

Dan di Eka, ada beberapa proses screening untuk mendeteksi kelainan hormon, dkk. Di rumah sakit lain belum tentu ada lho.. Kalau kata Dr. Aman Pulungan:
"Dia Amerika dilakukan 30 screening, di Singapore dilakukan 10 screening, di Indonesia? Berdoa saja.", gitu masa.

Lah, emang situ mau di rumah sakit murah, taunya anaknya mengalami kelainan hormon yang telat disadari dan ditindak gara-gara gak di screening?

Tapi ya emang mahal sih, ck.

Jadi, mau nambah anak lagi gak?
Belom ya. Gue masih agak terngiang-ngiang rasa sakit pas dijait, dan pemberian ASI yang bersimbah darah, meriang, panas-dingin cekat-cekot. Nanti dulu deh ya..... Sakit cin.

Kamis, 13 November 2014

19yo Pregnancy: Semangkuk Harapan Untuk Anak Perempuanku.

-Tulisan ini dibuat saat bayi gue masih 8 bulan di kandungan-

Untuk anak perempuanku..

Nanti saat kamu dewasa, mungkin "Internet" sudah tidak ada. Mungkin lho ya.
Saat kamu dewasa, mungkin blog ini sudah sulit di akses, mungkin orang sudah tidak menggunakan Internet dalam mengakses informasi.
Saat kamu dewasa, tulisan ini mungkin sudah ditiup oleh perkembangan zaman.

Ini Mama, nak. Kamu saat ini umurnya baru 8 bulan di perut, belum lahir. Masih tidur. Sleeping Beauty.. Ah, tapi kamu lebih cantik dari Aurora.

Di usia kandungan saat ini, kamu sudah aktif menendang-nendang pada siang, sore, dan malam hari. Pagi kamu masih bobo. Sekarang aja (Jam 5 sore), kamu sedang menendang perut Mama. Kakimu berada di perut atas Mama sebelah kiri, kepalamu ada di perut bawah Mama sebelah kanan.
Kepalamu sudah turun ke panggul.. Kamu sudah mencolong 'start' untuk Mama lahirkan.

Di masa kehamilan mlMama ini, Mama ngefans dengan beberapa artis wanita. Karena cantik.
Mama terkagum-kagum ngeliat BoA di video clip nya yang Shout it Out



... Dan mama lagi terkagum-kagum sama Dewi Sandra, lipsticknya itu loh nak, bagus warnanya.


alamakjan... cantik banget.



Banyak yang bilang kalau Mama mirip Dewi Sandra lho....

Dewi Nahla hahahahaa (Okay it's not even funny)



Nggak kok, Mama gak berharap kamu mirip artis-artis yang mama idolakan. Mama berharap.. kamu mirip sama Mama dan Papa. Karena wajahmu nanti akan menjadi pengingat cinta antara Mama dan Papa..

Mama dan Papa akan sangat bangga kalau kamu nanti bilang ke teman-teman, "Aku mirip Papa Mama ku dongg....". 
Kami berdua memang tidak sempurna, kami hanya manusia.. tapi kami harap, kamu bangga menjadi anak kami. Mewarisi apa yang kami miliki, meneruskannya ke keturunan kami kelak.

"Kalau dari Papa, semoga kamu mewarisi sifat rajin, tegas, murah senyum, ramah, berwibawa....
Hidung mancung, mata besar..
Kalau dari Mama, semoga kamu mewarisi sifat santai, tenang, selow, sekut, asik, gaul (Bahasa ini pasti sudah jaman dulu sekali ya)..
Kulit putih, rambut dark brown, cakeup."

Mungkin Mama dan Papa (Nggak sih, paling cuman Mama aja) ada pikiran duniawi seperti ini, tapi percayalah nak.... ini tidak begitu penting.

Mungkin kamu akan mewarisi sifat malas-nya Mama, atau hidung pesek Mama.

But who cares? You're still our precious, special, lovely daughter.

Kamu akan selalu cantik di mata kami, jangan percaya mereka yang bilang kalau kamu jelek. 

Mama mungkin membayangkan kamu dibalik piano, memainkan Chopin Etude dengan lancar, Rachmaninoff Concerto no. 2 dengan anggun, atau Bach Goldberg dengan syahdu. 
Atau membayangkan kamu menjadi penyanyi Soprano. Atau menjadi anggota vocal group jazz seperti Manhattan Transfer (Sekarang Mama lagi dengerin lagunya yang "Zoo Blues", keren deh).

Tapi yang mama benar-benar inginkan adalah, kamu menghidupi passion kamu. Apapun itu. Asal bukan nyopet.

Mama akan sangat bangga ketika kamu tekun mengerjakan apa yang kamu sukai, apa yang kamu ingin dalami; Bisnis, fisika, memasak, renang, ibu rumah tangga, mengurus anak. Apapun itu.

Mama akan sedih kalau kamu bermain piano, tapi kamu tidak menyenanginya sama sekali. Mama akan sedih kalau akhirnya kamu membenci suatu bidang hanya karena Mama memaksakan kamu untuk melakukan hal itu.

Mama tahu, semua musisi kelas dunia, pasti memiliki masa kecil yang dipenuhi oleh latihan keras, bentakan untuk latihan, dan tidak memiliki waktu bermain.

Tapi mama percaya, bahwa masa kecil itu harus dipakai untuk bermain. Untuk mengerti esensi hidup. Untuk merasakan bentuk 'cinta' dalam berbagai indra.

Intinya sih, Mama mau kamu bahagia, itu aja. Asal gak menentang agama, moral, dan tata krama yang berlaku di masyarakat.

Mau jadi kayak Mama juga boleh, main biola, jadi freelance musician. Tapi mau jadi wanita karir di kantor juga boleh..



Percayalah pada Allah SWT, karena Dia lah Sang Pemilik Kartu As. Dia menyimpan banyak 'kejutan' tak terduga untuk kamu pelajari. Dia yang memiliki timing tepat terhadap semua kejadian. Rely on Him. Trust all your worries to Him. He knows how to handle it. 

Untuk urusan lelaki? Percayalah bahwa....

Laki-laki di SD tidak lebih dari sekedar anak kecil..
Laki-laki di SMP tidak lebih dari sekedar anak kecil dengan seonggok hormon pubertas..
Laki-laki di SMA tidak lebih daripada anak yang baru punya KTP, dan sedang menikmati waktu bermainnya.....
Laki-laki di perkuliahan sudah mulai berencana akan masa depannya. Walaupun tidak semua.

Walaupun nanti kamu ditakdirkan menikah muda, namun carilah pria yang dewasa secara umur, fisik, dan psikis. 

Ya karena sesungguhnya, laki-laki lah yang akan memimpin rumah tangga. Apapun itu, pada akhirnya laki-laki lah yang mengambil keputusan. 

Jujur ya nak, kalau tau Mama akan menikah umur 17 sih mama gak akan pacaran sebelum-sebelumnya. Mending Mama jomblo 17 tahun. 

Dulu Eyang Kakung pernah bilang ke Mama, "Kamu gak boleh pacaran sebelum umur 17".

and i was like "Papa hidup di taun berapa sih? this is 21st century duh"

I should have listened to him.

It would be great if my first relationship is with Papa. It would be great if Papa was the first one to hold my hand. It would be great if......... i listened to Eyang Kakung's words back then.

Nasihat orang tua tentang suatu hubungan pria-wanita itu memang tidak pernah lekang oleh waktu. 
"Save yourself for your husband" tidak akan pernah 'basi'.
"Gak boleh pacaran" tidak akan pernah 'basi'.
"Jaga dirimu dari laki-laki" tidak akan pernah 'basi'.


Kitanya saja yang seakan-akan sok modern. Giliran dapet jodoh, baru deh ngerasa nyesel. Garuk deh tu tembok.







Dang, i'm so wise. Someone should write a book about me.

Back to Top