Thursday, 14 July 2016

#SassyThursday - Kekerasan dalam Pendidikan


Halo all! Sebenernya topiknya udah rada basi sih, cuman menurut gua sih masih seru buat dibahas.

Baca punya kak Icha disini:
Kekerasan pada Anak

Pertama, sebelum membaca lebih jauh: Gue tidak setuju kekerasan fisik dalam pendidikan.
Kekerasan fisik ini seperti mencubit, memukul entah pake rotan apa pelepah pisang, menjewer, apapun itu. Karena menurut gua ngga baik bagi perkembangan psikologis anak. Ko bisa gitu? Baca terus aja hahahah



Gua adalah guru SMK, yang biasanya suka rapat-rapat itu lho, yang nentuin siapa-siapa naik kelas atau ngga, yang ngisi rapot. Yah, your typical teacher.
Pun gua sebelumnya adalah siswi yang bandel juga, pernah juga naik bersyarat karena bolos pelajaran agama. Akhirnya tanda tangan di atas materai biar naik kelas. Gue inget banget gue nangis-nangis di ruang guru. Well, itu sih cemen banget sebenernya ya.

Tapi sekarang, gua rasa gua orang yang cukup teladan dalam bermasyarakat. Gue mendengarkan dosen ngomong, gue mengantri dengan baik, berusaha ga terlambat, beradab dalam masyarakat lah.
What i'm trying to say is: gue bisa berubah drastis ke arah yang lebih baik. Tanpa kekerasan. 

Lagi heboh kasus anak yang dicubit lalu lapor polisi. Ujung-ujungnya generasi tua pada bangga-banggain,
"Saya dulu kalau ga afal surat Al-Bayyinah, dipukul pake rotan! Sekarang masih hafal!"
"Saya dulu kalau ga potong kuku, dipukul pakai mistar!"
"Saya dulu kalo ga ngerjain PR, disuruh minum aer comberan!" Ya nggak lah, gila aja lu.

Dan guru-guru itu pun setuju, katanya kalau ga mau nerima aturan sekolah, bikin ijazah sendiri ajah. Well, hebat.

Ada beberapa hal yang pingin gua omongin dan sedikit kurang setuju tentang hal ini:

1. Harus banget pake cara kekerasan?

Harus banget? -_-
Menurut gua, guru itu ngga hanya menguasai mata pelajaran, tapi harus paham psikologi murid, kreatifitas, inovasi dkk dsb. Kekerasan itu emang yang paling cepet menyelesaikan masalah, tapi pawang monyet mah juga tau. Untuk ngajarin monyet biar pinter itu biasanya pakai kekerasan, tapi kan kita bukan monyet, bos. Ya walaupun ada yang kelakuannya rada kaya monyet sih HAHAHA

Ya kita manusia. Sungguh banyak cara untuk mengontrol (sounds illuminati) human behavior. Apalagi anak ABG yang pikirannya masih labil, lah orang dewasa aja digertak dikit aja banyak yang langsung kicep kok.

Media juga salah satu yang bisya 'membentuk' watak anak remaja. Media lho ini, yang cuma nyetel film, nyuguhin berita. LAH ORANG DEWASA AJA BISA TERTERROR PIKIRANNYA CUMA KARENA BACA BROADCAST BBM TENTANG PESAN BERANTAI HAHAHAHHAHA

So? So banyak bangetttttttttttt cara yang digunain untuk menghukum. Bisa dibawa ke ruang guru, dibuat atmosfer yang tegang, intonasi guru yang sedikit tegas borderline mengintimidasi (LOL).

Gua yakin, manusia itu dibuat oleh pikirannya. Ada yang tobat hanya karena ngebaca artikel tentang ibu pengemis kasian, ada yang bisa membangkang hanya karena beberapa kalimat oleh akun provokatif. Pikiran manusia bahwasannya 'lentur', bisa dibawa kemana saja asal kita tau seluk beluk pikirannya.

It's mind games, guys.

2. Koruptor, ibu-ibu tukang nyerobot, pemulung palsu, manusia gerobak boongan. Itu didikan jaman apa? Jaman dulu, kan?

Jadi, NO. Didikan masa lampau itu tidak selalu lebih baik. Jadi apa hukuman rotan dkk dsb itu terbukti melahirkan generasi yang lebih baik? NO.

Mereka melahirkan generasi yang 'takut kalau terlihat'. Makanya mereka korupsi diam-diam, mencari celah, asal ga terlihat. Berlindung dibalik atribut agamis tapi otak amis. Ada.
Mereka ngga ragu menggunakan pajak yang dipungut dari orang kecil yang jujur, hanya untuk segenggam berlian dan segambreng kunci hotel. Karena tidak ada yang tau apa dibalik kunci hotel ;)

Ya, human nature is always dirty klo gua bilang. Silahkan. Asal jangan libatkan orang lain. Jangan rugikan sekitarmu. Jangan korbankan keluargamu huhuhu

3. Kalau emang pengen banget melakukan hukuman fisik, ya disesuaikan dan harus relevan.

Oke nih, si putri yang dicubit ini dicubit karena ngga sholat Dhuha. Kalo kata Rasul, ditepok di bagian yang banyak lemaknya, hanya untuk shock therapy, bukan sengaja buat menyakiti. Atau hukumannya bisa berupa olahraga, asal dicek riwayat asmanya. Suruh push up kek, lari kek, yang bermanfaat juga buat badan. Kalo ditampar mah apa manfaatnya?
Apalagi sampe biru. Situ mau ngedidik apa mau nuangin emosi aja? Untuk ngebuat ampe biru gitu ngga main-main lho.

Relevan disini maksud gua ya kalo anaknya cuma jatohin piring mah gausah ditempeleng, yang imbang aja.
DAN kalo emang pingin ada hukuman fisik, diinfokan dulu saat anak masuk sekolah. Kata Ayah Edy, anak itu bandel karena ga tau aturan main. Ga tau apa yang diperbolehkan, hukuman apa yang diterima ketika melanggar, rambu-rambu aturan. Coba dilampirkan dulu, hukuman apa yang mungkin akan diberikan, biar guru bisa dipertanggung-jawabkan. Mungkin anak itu bandel karena sekolahnya juga kurang tegas, kalo tegas mah mana bisa dia se-careless itu.


Kalo ngambil istilah BDSM, consent and conscience. HEH INI 21+

4. Hukuman administratif itu sangat ngaruh.

SANGAT. Apalagi kalau kita dihadapkan dengan hal-hal seperti D.O, tanda tangan materai. Skors juga bisa. Tapi harus dikondisikan sama orang tua, karena ye sama aje anak lu diskors tapi elunya masih dibebasin di rumah.
Mending diskors terus kasih PR suruh salin surat Al-Baqarah. Yes, mantap.

Karena... Hukuman fisik dan efek takutnya itu hanya berlaku saat lu ketemu si orang yang mukul itu. Kalo gak ketemu? Lanjotttt sebatttt

5. Kita jadi manusia yang penuh dengan ketakutan.

Berbuat baik karena takut. Hafal surat karena takut. Apa apa karena takut. Tugas pengajar bukannya agar siswa memahami apa yang mereka kerjakan? Mengcounter perbuatan bandel murid dengan debat logika?

Kata Felix (BUKAN SIAUW), dengan kekerasan kita akan merasa 'dipagari'. Kita seakan-akan menyetop akal sehat dengan awan ketakutan, which is not a good investment.
Kata Felix yang jago aransemen chord, ini sesuatu yang terlihat positif padahal negatif.

Karena kita takut ditilang, pas gaada polisi ya kita malah lega, boleh ambil jalur busway.
Beda dengan ini:
Karena kita tau bahayanya ambil jalur busway, ingin menjaga ketertiban berkendara kepada masyarat, maka kita never ever ever ambil jalur busway.

Yang satu takut ditilang, yang satu takut ditabrak. Lebih sehat yang mana?

Bayangkan deeeekkkk.... SELURUH masyarakat Indonesia paham dan sadar aturan atas dasar pemahaman logika sendiri, bukan berdasarkan kekerasan.

Kekerasan itu keras, tapi rapuh untuk dijadikan pondasi.

6. Sekolah-sekolah di kotanya tidak menerima anak tersebut?

Bukannya pendidikan itu hak anak? 
Something's wrong with you, guys!
Kenapa kita malah menutup jalan anak didik kita? Bukankah anak yang bandel JUSTRU harus diedukasi lebih intensif, bukan malah ditolak lembaga pendidikan?
Sama lembaga pendidikan aja ditolak, lah gimana u u u mau belajar?

Orang pada bilang, "Mampus. lu!". Sekarang kalau misalkan kalian ketauan nyolong kambing, dihukum ustadz, lalu semua masjid menutup pintunya untuk kalian. Kira-kira kalian bisa lebih baik gak? Kira-kria kalian masih 'percaya' pada kebaikan manusia/lembaga gak?

NGGAK.

Lo ngga menarik anak itu ke jalan yang lebih baik. Lo malah menolak anak itu.

7. Membully di media sosial, apa itu cara untuk mendidik anak underage yang benar?

Yang lo bully adalah anak yang akan memikul negara ini kedepannya. HE'S STILL SMP FOR GOD'S SAKE, Masih gampang dibentuk, masih banyak waktu tobat. Ah elu mah malah ditokai-tokai-in. Gimana sih. Anak umur segitu adalah masa dimana kejadian sekecil apapun akan menjadi bekal karakternya di masa depan.

Kalian membully adek SMP, yang harusnya diberi bimbingan. Sanksi sosial, katamu? Oke terserah. Tapi sanksi sosial berupa ribuan netizen menghardikmu tanpa memberi masukan? Not cool, man.

Iyalah, anak itu salah. Tapi bukannya banyak cara yang lebih bermartabat dari ini?

8. Negara maju tidak ada yang menerapkan kekerasan dalam pendidikan.

"Tapi kita bukan Jepang!". Ya pemikiran ini yang membuat Indo terpuruk, Indo underdevelopment, Indo ngga civilized. Karena kita ga mau belajar dari negara lain. Terus lo mau belajar sama siapa? Namibia? Yang cebok pake batang jagung?
Dimana-mana ya belajar tuh sama ahlinya, bukan sama temen yang sama-sama dodol.

Coba aja dulu. Kita budayakan pendidikan yang baik.

Temen-temen gue yang dari sekolah katolik macam Santa Ursula, Penabur, pada beradap alim dan waras semua, padahal ngga ada bentuk kekerasan sama sekali. Kalo kata temen gue, kalo ngga ngerjain PR ya kerjain di luar. Gitu doang.
Cuman mereka lebih beradab dari didikan mistar, karena aturannya tegas.

Oh sampai kapan kita gengsi belajar dari negara maju lain? Terima aja kalo Indo itu bobrok.

10. Lah emang kenapa kalau anak itu ngadu? Bukankah orang tua itu tempat curahan hati anak?

Terus harus mendem? gue anak yang mendem dan akhirnya aku butuh pacar biar aku bisa curhat hahaha.
mending anak lo curhat ke pacar apa ke lo? Sila jawab.
Gua sih berharap Mabi cerita ke gua, apapun ceritanya dari ngeliat Pokemon evolve sampe kecepret daun talas. Inihh tujuan gua dalam dunia parenting: membuat anak mau cerita. Karena cerita itu segalanya.

11. Well, ngebawa ke kepolisian emang sedikit berlebihan.

Ya semua bisa diselesaikan dengan kekeluargaan, lah. Polisi mah dipanggil kalo anak lo nyolong tas, nusuk anak orang, ngeracunin anak orang.

**

Intinya mah, kekerasan adalah investasi yang buruk. A bad perception base (?!).
Karena tugas guru itu biar anak paham :D


Didiklah remaja kita, sesungguhnya masa depan ada di tangan mereka.



17 comments :

  1. Emang ya masih banyak orang yang yang belom bisa moveon dari masa lalu dan masih pake cara-cara lama. Setuju semua lah dengan isi postingannya Mbak Nahla. No more physical abuse in any kind of form for the education reason!

    ReplyDelete
  2. make sense :D
    negara kita ini seneng bgt bully org. Semoga dijauhkan dr hal kyk gt.

    ReplyDelete
  3. Poin2nya setuju, cm skrg aq mikirnya jadi kejauhan nih terkait mengganti hukuman fisik ke nonfisik. Kuatir jangan2 ntr ada kasus mempolisikan/melabrak guru krna memberikan hukuman nonfisik spt memberikan poin pelanggaran, menyuruh siswa ngadep Ks, menegur dg keras, atau hal2 lainnya. Krna kondisi psikologis siswa kn macem2 ya, ada yg cm disuruh ngadep Ks aja bs trauma. Dunia pendidikan tantangannya makin banyak euy.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sebenernya makin susah ya, banyak yg ga ngaruh juga

      Delete
  4. Emang berat ya untuk jadi pendidik yang baik. Well biar gimanapun satu teladan jauh lebih baik ya dari seribu nasihat :)

    ReplyDelete
  5. (((baca ini sambil ketawa))
    iya mbak, setuju banget. kadang pas baca artikel trus baca komen orang2 soal "dulu gue digituin aja nggak cemen" atau gimana suka kesel sendiri. menurut saya juga kekerasan itu dibikin takut tapi takut dapat hukuman, bukan takut yang ujungnya kebaikan. makasih udah sharing mbak! :)

    ReplyDelete
  6. Suka sama tulisan kamu Nahla..^^. Aku setuju dengan poin-poin yang kamu tulis diatas.

    Waktu kokoku masih SMP, pernah ditampar gurunya sampai mimisan. Kokoku nggak ngadu sih.. Mau disembunyikan kayak apa, pasti ketahuan juga oleh papa. Soalnya ada temannya koko yang ngadu ke papa kalo anaknya ditampar sampai hidung keluar darah. Dengeer hal itu, papaku naik pitam dan esok paginya langsung nyamperin kepala sekolah. Kepala sekolah itu memanggil guru yang menampar koko. Papa cuma mengancam akan masukin ke koran tentang kasus ini. Cuma "ancaman" sih soalnya nggak di masukin koran.hehehe..

    Sejak papa nyamperin sekolah, guru yang pernah nampar kokoku, lusanya nggak kelihatan lagi batang hidung si guru itu. Mungkin di berhentikan.

    Teman kokoku yang ngadu ke papaku itu juga bilang kalo koko nggak nakal, tapi malah di tampar oleh guru itu.

    www.aloha-bebe.com

    ReplyDelete
  7. Kekerasan yg sering dialami itu 'judge' dari ortu. Rasanya membekas sampe dewasa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya itu dampak buruk ya kedepannya

      Delete
    2. Iya itu dampak buruk ya kedepannya

      Delete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top