SOCIAL MEDIA

Saturday, 15 September 2018

Sekat Itu Bernama Stereotyping


Paham, paham banget sama ide “cewek harus kalem, cowo harus bandel”. Paham banget.


Tapi entah kenapa, gue ngga pernah suka sama ide itu. Ide menggeneralisir. Ide bahwa, satu gender itu pasti SAMAAAA semua karakternya. Nggak sih, sebenernya bukan sebuah keharusan juga, cuman menyamaratakan sifat aja, gitu.

Punya kak Icha, baca ya! 

Gue tumbuh di lingkungan - oke, lebih tepatnya rahim - seorang wanita yang sungguh anggun bak bidadari bernama ibu Ummi yang seumur hidup gue panggil dengan sebutan “Mama”. Mama ini sangat anggun, kalem, kalau ketawa suaranya indah, hobinya di rumah, kalau di rumah berusaha pakai daster cantik agar tetap yahud saat dilihat papa. Yang gue tangkep waktu itu, it’s just mama being mama. Tapi yang gue tangkep sekarang, itulah ‘sosok perempuan’ yang menjadi simbol keperempuanan. Bahwa kalau ada spesimen wanita dengan pembawaan sempurna, itulah Kate Middleton. #plak

Gerakan yang anggun, kalem dan duduk tegak di meja makan tentu membekas di diri gue. Sehingga? Orang-orang ngeliat gue sebagai insan kalem, anggun, manis. Ketawa nutup mulut, jalan dengan aura-aura malu-malu, duduk rapet, senyumnya begitudaaaaah pokoknya.
 “Aku melihat keanggunan Allah pada dirimu,” kata seseorang yang menjadi kontributor DNA pada anakku.


Apa itu berat? Apa menjadi, berperilaku, bernafas anggun itu berat? Ngg… Nggak juga sih, karena udah kecetak dan mencontoh mama. Tapi yang bikin berat tuh tuntutan sosialnya itu loh, ses. BeRat BanGet, berapa kali gue harus menjadi korban image?

“Lu tuh beda banget ya, gua kira anggun ternyata dalemnya beda”
“Gue ampe segan nyapa lu karena keliatannya kalem banget, ternyata ngaco juga ya”
“Yaampuuuun aku baru tau Nahla ternyata beginii..”

Jatohnya, kepribadian gue tuh emang jauh dari kata anggun, sumpah deh. Maka dari itu, lingkungan luar rumah seperti sekolah, tempat kerja, grup band, apapun itu adalah sarana relaks untuk gue. Sarana gue melepas atribut simbol perempuan.

Kenapa? Karena, “Kamu ketawanya jangan kenceng-kenceng dong,” cukup gue denger di rumah aja, di lingkungan ‘normal’. Gue udah terjebak dalam stereotype dalam seumur hidup gue, gue sih nggak apa-apa, but it’s not the most comfortable things. Dan kadang gue merasa ngga dicintai aja sih. Ngerasa, "Lo ngga akan sayang sama gue kalau tau sifat asli gue" kinda thing. Dan gue keserang insecuritas akut AMPE SEKARANG.

Balik lagi ke generalisasi. Banyak banget image yang udah terpatri di 2 gender ini.

Kalau kamu pria, maka kamu itu logis, bebal, suka main ke luar.
Kalau kamu wanita, maka kamu cerewet, suka ngatur, lebih condong ke pake perasaan.


Sebenernya sah-sah aja, karena banyak kok yang karakternya begini. Cuman tunggu dulu, kadang orang suka nyaru antara “banyak” dan “kebanyakan”.

Kita ambil sifat “baper”. Nyatanya, banyak cewek yang baperan. Tapi kurang valid kalau bilangnya “KEBANYAKAN, cewek itu baperan”. Karena kalau pake kata “kebanyakan”, artinya kamu udah yakin banget bahwa 11 Milyar penduduk bumi, 51% cewenya pasti baperan. Tapi ya ngga usah ngitung amat juga sih, anggep ada di LINGKUNGANMU, cewek itu baperan.


Anggeplah cewek itu dinilai baper karena ia ‘memperlihatkan’ kebaperannya. Artinya, yang bisa diukur kan hanya yang terlihat.

Berapa banyak emosi di luar sana yang ga terlihat atau sengaja ngga diperlihatkan? Banyak.


Cowok derajat bapernya bisa sama, dramanya sama, tapi mereka ngga menunjukkan karena “Malu ah aku kan cowok”.

Lagi-lagi, “aku kan cowok” jadi sekat antara mereka dan perasaan mereka sendiri, padahal mereka (cowok) itu harus mengenali perasaan baper itu. Agar mereka tau bagaimana cara treat diri dan orang lain. Nah dari situlah, dari kenalnya mereka pada sifat ‘baper’ itulah timbulnya sesuatu bernama empati.

Cowok jadi kenal, tau cara handle dan menghargai bahwa baper adalah salah satu sifat manusia yang lumrah. Kalau cowok nggak TERSEKAT sama sifat dasar/kodrat/blablabla ini, maka ia akan lebih peka.

Jadi “Kamu sih gak peka! Gak sensitif!”, itu sedikit-banyak salah si stereotype “cowok ga boleh baperan”.

Karena gue kenal banyak banget cowok yang bapernya ditunjukin secara gamblang. Banyak, nggak kalah sama temen-temen cewek gue.

Cowok yang kalau nada bicara cewenya naik dikit, baper.

Kalau dengerin lagu kebangsaan mantan, baper.

Share-share quotes romantis dan galau di timeline, baper.

Bapernya level nangis menitikkan air mata, walaupun ada juga yang sekedar muka lesu.


But they feel it. Cowok merasakan baper juga, dengan kadar yang sama juga. Bedanya, mereka ga nunjukkin entah karena tuntutan sosial atau kuat nahan aja.

“Cewek selalu bawel, ngatur-ngatur”

Gue nggak bawel, coba tanya temen terdekat. Kalaupun gue harus bawel dan ngatur, itu karena gue lagi kerjain project lagu aransemen gue (yang mana gue harus ngatur dan memimpin lah! Yang buat lagu kan gue). Tapi rumah tangga, keuangan, apalah apalah apalah, makasih. Ngga suka ngatur deh. Aku serahin sama yang lebih ahli deh.

Gue ga cerewet dan bawel, does that makes me less of a woman?

Ngga kan. Walaupun gue ketawa kenceng, ngga cerewet, ngga suka ngatur, tetep aja gue 1000% cewek.

Dan cowok pun banyak abis yang suka ngatur, ceu. Ngatur pritilan mulai dari letak kulkas, letak talenan, letak pel-pelan. BANYAQ. Cowo yang ngurusin hal-hal ‘kecewekan’.

Adalagi, “Pria suka kalo istrinya cantik”. Iya, betul. Tapi udah berjuta kaliii, gue liat suami-suami (dari yang muda ampe yang tua), ngebiarin istri silahkan pake daster, gausah cukur bulu kaki, gausah cukur bulu ketek, rambut gimana aja gak apa asal kamu nyaman. Dan mereka tetep napsu sama istrinya. Intinya apa? Intinya banyak loh, ngga semua loh.

Sebaliknya, ada yang istrinya udah cantik, langsing, jago masak. Dan suami tetep lebih milih kencan sama stripper.

“Cewek suka dandan”, cowok juga, cuma karena fiturnya lebih dikit aja, jadi ngga terlalu lama. Coba, pake pomade dulu, sisir dulu, rapihin jenggot dulu, mix and match baju dulu, pake wangi-wangian. Ada juga yang belanja perawatan muka. Ya yaudah, faktanya banyak cowok yang suka bersolek.

“Cewek suka belanja”, gue terakhir belanja lipstick itu 6 bulan yang lalu. Belanja baju bisa sekian taun yang lalu.

“Cowok itu BOROS”, Oh no. Berapa banyaaak, cowo yang justru lebih ke pelit? BANYAK. Cowo yang ketat cash flow, ketat keluarin uang, BANYAK.


Suatu sample, ngga lantas bisa dijadikan standar.


Here’s the thing, i hate what you called ‘stereotyping’.

Karena itu sangat bias sama konstruksi sosial. Dipikir kodrat itu udah ada 20000 tahun yang lalu, padahal bisa aja ‘kodrat’ itu disisipin sama orang-orang tertentu dengan maksud lain. Lama-lama definisi ‘kodrat’ berubah, definisi ’sifat cewek’ berubah karena ditunggangi kepentingan lain.

“So woman can shut her mouth and do her chores”.

Menurut lu gak gitu? Gak apa. Tapi banyak banget wanita yang dilarang keluar rumah karena “dia cewek”. Bias kan?

Bagi kamu, ‘karakter’ wanita sebatas ngomong alus.

Bagi dia, fitrah wanita harus punya banyak anak.

Bagi A, fitrah wanita mah… ngga ada. Karena semua sama aja.

Beda kan? Beda, tiap orang beda. Jadi ukuran fitrah itu ga ada gelas ukurnya, ga ada yang paling mutlaknya.

Karena gimana yaa kira-kira, perasaan cewe yang emang karakternya pendiem, cuek, tapi harus dituntut cerewet, sosialisasi dan hal-hal berbau extrovert lainnya? Bukannya itu ngebuat dia merasa karakternya ngga diterima? Merasa dia harus jadi orang lain dulu baru dicintai?

Dan betapa sedihnya wanita yang mandul. Harus kepentok sama “kodrat wanita itu melahirkan”. It will make her feel less of a woman, mandul atau nggak itu bukan pilihan dia. Tapi dia berhak bahagia. Dia berhak dinikahi. Dia berhak punya keluarga versi dia sendiri.


Paham sih, kategorisasi ini muncul dari lingkungan yang homogen. Yang samaaa semua, hidup lurusss aja.

Gue bisa ngomong gini karena lingkungan gua yaampun hetero banget, warna-warni, tau aja dunia musisi emang aneh-aneh semua kan anaknya? Makanya gue ngga bisa bilang “kebanyakan cowo itu pake logika” karena di dunia gue, BANYAK BANGET COWO YANG BAPERAN hahaha. Yang sway depan-belakang bingung-bingung. Ya yaudah, gimana dong?


Maka dari itu, ada yang namanya partner hidup loh, ceu. Nyarinya susah. Tapi kalau udah nemu ya kamu bakal bahagia.

Maksudnya gimana sih?


Maksudnya, ada cowok yang baperan, dipasanginnya sama cewek yang ngga terlalu perasa. Singkatnya, cowo ini ‘kecewekan’ dan cewe ini ‘kecowokan’.

Ada cowo yang ngga bisa punya anak, namun ada cewe yang emang ga mau punya anak. Yaudah pas kan?

Coba kalau semua disama ratakan.

“Harus punya anak!”, yang mandul gimana?

“Harus jadi cewe yang lebih peka!” kalo emang bawaan karakternya begitu gimana?

Ya makanya manusia diciptakan dengan sifat yang berbeda-beda, bukan ‘disetting’ karakternya dari pabriknya. Kalau misalkan Tuhan memberi kodrat, biarlah itu sebatas alat reproduksi. Dan kalau alat itu agak berbeda (dalam arti disfungsi, ngga bisa punya anak) ya yaudah namanya masalah itu ada hikmahnya. Embrace your character, karena di luar sana pasti ada manusia yang complementing yours.

Tuhan memberikan karakter manusia itu beda-beda, namun manusia menyamaratakannya :))



3 comments :

  1. setuju banget sebab setiap manusia itu unik makanya Tuhan menciptakan manusia gak sama dna nya pun jg

    ReplyDelete
  2. Setuju sama quote terakhir! 👌🏻 Aku pun masih pelan-pelan ngurangin stereotype sama kelompok tertentu, takes a whole lifetime

    ReplyDelete
  3. Karena gimana yaa kira-kira, perasaan cewe yang emang karakternya pendiem, cuek, tapi harus dituntut cerewet, sosialisasi dan hal-hal berbau extrovert lainnya? Bukannya itu ngebuat dia merasa karakternya ngga diterima? Merasa dia harus jadi orang lain dulu baru dicintai?


    Like this sama artikelnya, Nahla
    Bahkan juga pernah ada diposisi Nahla,
    Bahkan temen sendiri bilang,
    "Eh loe emang kelihatannya anggun, tapi trnyata, anu, anu, anuu"
    dan merasa tersalurkan dari artikel ini

    TFS Nahlaaaaaa

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top