SOCIAL MEDIA

Wednesday, 25 April 2018

Identitas Seksual yang (Dipaksa) Palsu


Gue habis baca berita tentang proses dan prosedur tentang orang yang pengen transgender. Di situ juga ditulis pertimbangan apa aja yang membuat kita "Oke yuk change that willy of yours".

Walaupun gue ga tertarik tentang Lucinta Luna, tapi gue selalu tertarik dengan identitas seksual seseorang. Gue selalu tertarik mendalami hal-hal tabu ini, karena gue melihat kasus-kasus unik. Kasus yang kadang ngga bisa dinalar orang biasa.

Salah satunya ya ini.


Ini bukan hal yang bisa difeeling-feeling, karena kita beneran ga akan tau gimana rasanya. Ini adalah kasus dimana kita harus mendapat input dari yang bersangkutan secara langsung.

Karena ini bukan hal yang ringan, ini hal yang harus dikhawatirin karena kalau kita acuh sama kasus ini, akan berdampak ke orang lain loh. Akan berdampak secara sosial maupun kebahagiaan.

Transgender, orang yang mengubah kelaminnya.

Dari artikel yang gue baca, sebelum memutuskan untuk ganti kelamin, si pasien dicek dulu psikisnya. Dalam kasus ini, contohnya cowok yang mau trans ke cewek.

Apa dia saat dateng ke ruang dokter, udah pake baju cewek?
Berapa lama dia udah hidup dengan identitas perempuan?
Apa ini karena lingkungan? Atau karena dari kecil udah suka aja sama barang-barang cewek?

Intinya kita harus liat seberapa jauh cowok ini mendalami karakter cewek.
Jadi yang kemayu-kemayu tapi belom cross-dress (berpakaian lintas gender), masih diperhitungkan.

Habis itu nih yak, diliat dah itu fitur muka. Kira-kira bisa nyaru jadi muka cewek gak? Misalnya udah woww nih, pake baju tank top backless celanaless, tapi katanya kalo rahangnya masih sekotak sabun ya katanya susah.

Terus yang jadi pertimbangannya sih ada 3 hal juga: kesehatan jasmani, psikis dan sosial.

Kalo psikis okelah lu akan lebih klop dengan kelamin wanita.
Nah sosialnya ini yang harus dipikirin. Siap gak dicengin? Siap gak jadi buah bibir seisi komplek?
Jangan-jangan dengan menjadi transgender, dengan menjadi hidup dalam fisik seksual yang bener malah bikin lu jadi makin stres karena tekanan sosial?

Terus kalo yakin mah yaudah bla bla bla akhirnya jedeeeeer oprasi kelamin.

Tapi yang pingin gue bahas bukan itu.

Yang pingin gue bahas adalah betapa kejujuran itu adalah sebuah aib dalam masyarakat.
Betapa membahagiakan diri itu mahal.
Betapa hal yang sebenernya gak merugikan orang lain, menjadi hal yang harus dimusnahkan.

"Karena kodratnyaaaaa!!!"

Oke, ayo kita bahas manfaat-mudharat, basis yang menjadi standar apapun.

Dengan kamu menjadi transgender, manfaatnya apa? Lebih jujur pada diri sendiri sehingga kesehatan mental kamu terjaga, lebih bisa nunjukin ke orang sehingga orang ga merasa 'ditipu', what you look is what you get (selama lu ga nutupin diri sebagai trans aja sih).

Mudharatnya apa? Ya keluarga sakit hati, dicibir orang, tapi sebenernya bukan itu...

Adalah ketika lu terpaksa hidup dengan identitas laki-laki normal, terpaksa menjalani timeline pria normal yaitu nikah, punya anak dan mati, maka disitulah permasalahannya.

Lu harus menutup diri dari SIAPAPUN atas identitas lu. Sehingga lu ga merasa diterima, lu ga merasa ada yang mencintai lu apa adanya, lu ga merasa bahagia. Karena bahagia artinya lu dicintai karena diri lu sendiri.

Kalo gini, lu bisa kemungkinan depresi, bahkan kecenderungan bunuh diri.
"Capek hidup palsu buat senengin orang lain.."
"Siapa yang mau bahagiain gue kalo definisi kebahagiaan gue aja dihina.."
"Siapa yang mau nerima gue apa adanya?"

Ngga cuma itu, lu bisa mengecewakan istri lu di masa depan.

"Kenapa dia ga suka berhubungan intim sama gue?"
"Kenapa dia ga menginginkan gue?"
"Kenapa how hard i try to be sexy, dia ngelirik gue aja ngga?"

Harga diri istri lu juga jadi jatoh loooooh...
Ngerasa ga diinginkan itu berat masss, apalagi masalah hasrat itu udah jadi tanggung jawab masing-masing pasutri untuk dilampiaskan.

Istri lu akan punya self esteem rendah, harga diri sebagai wanitanya akan runtuh.
And she doesn't deserve that. Tiap istri, tiap cewek, berhak untuk merasa percaya diri di hadapan suaminya.

Karena serius deh, kalo cowok udah ga nafsu sama cewek, gabisa dinafsu-nafsuin loh.

Gue jadi inget, kemaren nanya ke temen:
"Gimana kalo anak lo gay?"
Dijawablah sama dia, "Ya gue kurung tuh di kamar sama cewek!".
Lalu nimbrunglah temen lain, "Ntar jadi sama-sama gosipin cowok cakep! Hahahah!"

Gue sih ketawa-ketawa aja.

Sampai pada saat gue ketemu temen gue yang gay beneran. Gue ngomongin hal-hal yang berhubungan dengan hasrat, kecenderungan dan what he did if he was in denial.
Walaupun statusnya dia bisa 'sayang', dia ga bisa berhasrat kalo berhubungan seks sama cewek.

"Ya gay tuh bisa aja 'berdiri', bisa aja 'keluar', tapi hasratnya ga ada. Ngga greget. Emosionalnya ngga ada".

Karena kami sepakat sex is not all about touch, it's a mixture of feelings.
Gue priadi juga punya prinsip, apapun bisa terasa ketika kita sedang berhubungan seks. Apapun, dari ketidak-minatan, hasrat tinggi, rasa sedih yang terpendam. Makanya dinamakan hubungan intim karena menguak perasaan terintim si pasangan.

Nah dan ini BuaNyyaaAAAAkkk banget yang mengalami.
Mulai dari bapak-bapak beranak 2 yang punya selingkuhan berondong cowok.
Taaruf tapi ternyata cowoknya gay.

Jadi ga valid lagi looooh pernyataan, "Oh dia gay? Tapi kok bisa punya anak?". KARENA EMANG BISA :)

Jadi ga valid juga, "Ntar juga sembuh seiring berjalannya waktu. Sembuh kok kalo nikah. Sembuh kok kalo punya anak".

Ya, coba lu ngomong sama bapak-bapak yang punya simpenan cowok :)
Ga berubah kan? Tawa anak ga bisa ngubah orientasi kan? Udah ngerasain bikin anak sama cewek gak lantas hilang kan hasrat sesama jenisnya? Iya.

Yaudah, kalo gini emang lu mau apa lagi? Kalo sembuh ternyata hanya ditutupi kepura-puraan, apa lagi yang bisa kita lakuin selain nerima? Daripada istri-istri lain jadi korban?

Tapi intinya gini loh, lu menghidupi ekspektasi orang lain, tapi yang menghidupi ekspektasi lu siapa? 

Kontradiktif banget, orang yang "Love yourself", orang yang "Terima dirimu apa adanya", tapi ketika kita mengakui identitas diri, eh dianya yang menyangkal, yang marah dan menolak.

Harusnya "Love yourself, tapi pake standar gue", gitu aja sekalian...

Seperti orang straight yang ga bisa suka sama sesama jenis, orang homo pun begitu.

Karena ingeeeeet, kesehatan itu ga cuma fisik tapi psikis.
Kesehatan psikis lahir dari kecintaan pada diri sendiri, penghargaan dari orang lain, penerimaan dari masyarakat. Semua masalah psikologi pasti rata-rata mulai dari 3 hal itu deh.

Anak broken-home yang bermasalah karena merasa ga dicintai.
Anak kemayu yang bermasalah karena merasa ga diterima.
Istri yang bermasalah karena ga merasa dicintai.
Suami yang bermasalah karena ga pernah dapet penghargaan.

Semua masalah membahagiakan diri sendiri.

Dan inget, batin sakit itu sama kayak muka lebam. Cuma ga keliatan. Tapi sama-sama membahayakan.

Bedanya muka lebam cepet disembuhin, tapi batin sakit bisa berujung self-harming.

Dan bisa berujung bunuh diri loh! Nambah lagi kan masalahnya?

Kita harus ngebuka mata sama hal-hal kayak gini. Karena dengan luasnya pengetahuan kita soal gender, kita bisa nolong banyak orang loh. Kita bisa dengerin mereka, kita bisa mencegah 1 orang di bumi untuk depresi, kita bisa kasih input. Bagus pulak ye kalo didukung dengan data kesehatan serta prosedur yang harus dilalui.

Kita juga bisa tau kali-kali ini menimpa anak kita, gimana cara kita supportnya, gimana cara kita merawat anak kita agar tetep tumbuh sebagai pribadi yang sehat, dicintai, ceria.

Bagaimana cara memaintain mental orang tersayang.
Akan jauh lebih mudah kalau kita saling mengerti terlebih dahulu.

5 comments :

  1. Halo Nahla. This is a fresh perspective, gak ngebahas salah-benar, dosa-gak dosa, gak main ngejudge gitu aja.
    Setuju sih dalam kasus kayak gini kita harus melihat orang tsb tetap sebagai teman yang harus kita dukung emosionalnya, diluar his/her sexual orientation. Masalah dosa-gak dosa sih semua udah tau ya, gausah diingetin lagi. Yang penting tuh orang masih manusia biasa yang butuh support dari sekitarnya.

    Suka banget tulisannya, nahlaa. Viralkan dong biar netijen matanya kebuka dikit ga cuma ngejudge aja wkwk

    XOXO, Cilla
    www.mkartikandini.com

    ReplyDelete
  2. Be careful dear, inget kisah nabi Luth as. Itu semua ada di Al Qur'an bukan dongeng belaka. Kita memang tidak seharusnya menghakimi, tapi bukan hak kita jg untuk memberikan pembenaran

    ReplyDelete
  3. jadi inget temen kantor.dulu beliau baru masuk kerja setelah aku..umurnya 36-37an lah tapi wanita sunda yang cantik pisan dan gila awet muda banget..tinggi langsing,posturideal,kalo tau2 muncul di katalog baju muslim ternama itu semua orang g akan kaget..pas nyerita2 dia udah lama g kerja..baru kerja lagi setelah cerai.pas belakangan udah deket baru curhat bahwa beliau cerai setelah nikah 14tahun karena : suaminya baru ketauan gay.

    dan mereka sudah beranak 2.yang gede gadis 13tahun yg kedua cowok 10tahun.
    kita semua yg denger curhatnya langsung nangis bombay sampe g sanggup balik lagi kekantor..

    hebatnya mereka suka ketemuan,makan bareng pas jam makan siang,dan pernah kita ketemu makan siang rame2..omg...sang mantan suami itu g kalah model-look dari istrinya.cowok banget.g keliatan kayak cowok yang ngurus diri atau overwangi seperti cowok2 gay yg menyamar itu.

    semenjak itu aku jadi lebih menghargai para gay/lesbian yang terbuka disekitar aku.seenggaknya mereka g maksain fit in society sampe harus berbohong...

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top