Categories

SOCIAL MEDIA

Senin, 30 November 2020

I’m (Currently) Not Okay

Tahun 2020 bisa jadi tahun yang paling berat buat gue, sama beratnya dengan tahun 2018 ketika gue cerai. Pandemi membuat gue jadi ga bisa bebas jalin hubungan sama temen-temen, ngga tatap muka saat kuliah, ngga menyerap energi lain selain energi gue sendiri, dan minimnya tawaran job biola yang masuk. Gue kehilangan banyak murid saat pandemi ini, gue juga kehilangan banyak job yang berkali-kali dicancel.

Biarpun begitu, gue mendapatkan beberapa keberakahan dan kesempatan di saat pandemi ini, well, definitely a good thing, tapi gue tetep merasa sedih, down, stress, lesu, lunglai, padahal tabungan gue cukup prima untuk menghadapi pandemi, i have my wonderful fam, dan gue dapet kesempatan ngonten sama figur hebat di industri musik tanah air, sebut saja Dewa Budjana, Baim Wong, dan Erikson Jayanto. Ngga hanya itu, gue pun bisa berteman sama drummernya fox capture plan; Tsukasa Inoue, yang selalu gue kagumi dan gue dengerin lewat Spotify, judulnya sih ‘temen’ tapi jujur aja gue naksir berat :D

Tapi, kenapa gue masih merasa sangat depresi? Kenapa gue merasa pingin mati? Padahal dibilang nganggur juga ngga kok, gue masih berkuliah, gue handle beberapa project, gue release featuring single bareng di Spotify, gue bikin konten dan bla bla bla.

Kenapa gue masih merasa hampa dan ga berguna?

Dulu gue pernah nasehatin temen gue, bunyinya begini:

Salah satu tanda depresi adalah ngga bisa merasakan kebaikan yang orang kasih ke kamu.

Walah, betul banget. Gue ga bisa merasakan bagaimana orang terdekat gue berusaha ada buat gue, bagaimana orang berusaha membagi keuntungannya buat gue, bagaimana orang berusaha ‘ada’ buat gue.

Gue tetep merasa payah. 

Karena gue merasa gue ga bisa menghasilkan uang sepadan dengan umur gue yang udah 1/4 abad ini. Gue merasa gue ga bisa cari uang lewat keringet sendiri.

Sebelum pandemi, pemasukan gue adalah pemasukan ‘ideal’ gue. Gue sangat positif dan merasa berdaya saat itu. Bukan karena jumlahnya, tapi karena ternyata gue mampu dan dapat diandalkan, ternyata gue bisa menghasilkan: i’m capable as an adult.

Itu dulu, sekarang?

Sekarang aku ga berdaya, dan itu membuat value diri gue jatoh sejatoh-jatohnya. I see myself as a useless piece of crap. 

“Tapi kamu kan A”

“Tapi kamu kan B”

Iya i know i know i made some awesome things, tapi ya balik lagi, gue ga bisa merasakannya, tetep aja merasa diri payah. 

I miss being happy and feel strong and capable.

I miss being positive and feel confident about myself.

I miss being totally fit like a year ago.

I miss being mentally stable and not thinking about dark, suicidal things.

I hope i can survive this thing, and i totally know that the problem is me and myself, i can’t let people feel responsible to make me feel better, not even the closest one. 

I just hope that i can feel all the happiness again.



4 komentar :

  1. Hi Nahla sayang, I feel you. Akan ada perasaan-perasaan yang selalu datang dan pergi, silih berganti. Akan terasa mudah, namun di waktu lain, bisa seperti yang Nahla tuliskan. Pengalamanku, aku menerima semua yang datang, menjalani proses healing, meskipun dalamnya rasa, ya hanya kita yang tau. Tidak apa, tak perlu memaksakan semua segera baik, hati butuh ruang, jeda dulu ya Nahla :)

    BalasHapus
  2. Kak nahlaa gimana keadaan kakak sekarang? Aku suka banget baca tulisan kakak tapi baru kali ini komen hehe. Semoga sudah merasa baikan ya kak!

    BalasHapus
  3. Hi, Nahla... semoga bisa bertahan, yah..

    hugs dari jauh

    BalasHapus

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top