SOCIAL MEDIA

Friday, 27 October 2017

Yaelah, Ngga Semua Orang Mau Berubah


"Kamu kok ngga berubah sih?"
Familiar gak dengan kalimat tanya ini? Biasanya dilontarkan pasangan karena ketidak cocokan karakter.

Ya, mempertahankan hubungan emang butuh kompromi dua pihak. DUA ya. Bukan si cewek yang berusaha memenuhi standar atau si cowok yang manut kaya kebo apapun permintaan ceweknya terlepas dari logis apa ngga.

Menurut gua, kompromi ya gue berubah lu juga berubah. Cari jalan tengah. Ngga selamanya karena lu suami, lantas istri harus nurut FULL tanpa kritis terhadap pilihan suaminya. Ngga selamanya istri manut-manut-manut, mematikan akal logika dan kebebasan berpendapat.

Perihal "cari jalan tengah" emang susah banget. Susah karena? Karena salah satu pihak merasa gengsi, salah satu pihak merasa 'lah harusnya gue yang megang kendali, lu ngikut gue'!


Padahal kalau dipikir, mencari jalan tengah artinya lu berdua sama-sama legowo dan ikhlas dengan keputusan itu. Kalau kita diminta selalu manut sama hal yang ngga kita setujui, ya sama aja munafik. Pura-pura setuju, ngga mendukung sepenuh hati. Dan kita semua tau kan apa yang akan terjadi ketika salah satu dari pasangan itu 'pura-pura manut'? Ya bisa berbuah malapetaka lain yang ngga akan bisa dibayangkan.

Atau basically, alasan untuk ngga mau cari jalan tengah karena salah satu mereka ngga mau 'berubah' aja.

Kenapa? Ya gak mau aja. "Aku kan bener, secara 'prinsip hidupku' aku bener, ngapain aku berubah dan menyesuaikan diri kalau harus ngelunturin sepersekian dari prinsip hidup aku?".

Prinsip.

Semua cewek/cowok masih mau berkompromi kalau itu sebatas cuci piring sendiri, taro piring di rak piring, beresin tempat tidur. Tapi ngga semua orang mau berkompromi tentang prinsip hidup. Apalagi tentang agama. Memang sensitif but COME ONNNN, hal krusial harus dihadapi pait-paitnya.

Kalau udah kaya gini gimana? Ya gue sih ngga menyarankan untuk terus lanjut kalau prinsip hidup dan value yang dipegang berbeda. Maka itu gue sangat-sangat-sangat cringe sekali ketika ada orang yang bilang bahwa gapapa kenalan habis menikah. Sounds familiar?

Gapapa kenalan habis menikah. Perbedaan apapun akan bisa kita lalui dengan cinta, yang penting kita berusaha.

Pret lo sini gua getok.

Gue kadang (ya bukan bermaksud nyinyir tapi ya jadi nyinyir bodo ah) mikir, kenapa banyak banget sih yang menyepelekan nikah? Yang ngegampangin aja gitu (tampar diri sendiri HAHA). Menikah itu untuk seumur hidup lho, ngga semua orang bisa cocok lho, ngga semua orang mau mencocokkan diri lho dalam cause tertentu. Sisa hidup harus dihabiskan sama orang yang prinsip hidupnya beda gimana? Cinta emang sampis ya, memabokkan banget. Makanya jangan nikah ketika lagi fase dimabuk cinta, nikahlah pas udah dapet cinta yang realistis. Udah tau busukannya gimana, kalau emosi gimana, tapi kita manage untuk menerima dan tetep cinta, tetep sayang. Nah itu mah pondasinya udah kuat.

Menyesuaikan perbedaan sounds normal ya? Tapi kalau perbedaan prinsipnya kaya gini gimana:

-Pasangan (karena alasan keagamaan) mengharamkan musik, sedangkan profesi lu penyanyi atau MINIMAL penggemar musik.

Ini artinya lu ngga boleh nonton konser, ngga boleh setel musik, ngga boleh nyanyi. Anak lu akan diajarkan seperti itu juga. Apa ini bisa dikompromikan? Tidak. Karena ini udah menyangkut prinsip. Karena bermusik itu haram, maka si pasangan lu ngga akan pernah support lu untuk melakukan kegiatan itu. Even cuma anterin, nemenin apalagi beliin tiket. And worst: ngatain lu 'gak taat' dan menyuruh lu untuk mengharamkan musik, basically karena itu perintah 'imam keluarga'.

"Kan bisa kenalan sebelum nikah?", yaiya tapi kalau dia udah mikir, "Ah kamu pasti mengharamkan musik juga, itu kan aturan yang universal dalam agama" gitu gimana?

-Pasangan mengajarkan untuk menolak ajaran agama lain, sedangkan kita tipe orang yang mempelajari semua agama.

"Kamu ngapain belajar sejarah yahudi? Kamu mau jadi kafir?"
"Kamu ngapain sahabatan sama temen kamu yang dari agama A? Nanti dia narik kamu ke agamanya!"

Okelah ya kita keluar dari konteks prinsip agamis, kalau suami lu:

-Jijik dengan konsep homoseksual dan lu termasuk yang toleran?
-Menganggap mental illness adalah sebuah aib dan tabu yang harus dicemen-cemenin?
-Menganggap profesi bidang seni 'banci' buat laki-laki?

Hadeh, beberapa orang memang mau diberi pengertian. Tapi ngga jarang juga yang kaku, ngga mau 'geser', berharap selalu istri yang ngikut.

Gimana coba? Terjebak kaya gitu?

Ya maka dari itu, kita harus paham cinta doang mah ngga cukup untuk mengubah orang. Karena bagi beberapa orang, cinta itu nomor sekian banget. Selain itu, cinta yang bisa mengubah orang adalah cinta yang mendalam, cinta yang ngga berekspektasi, cinta yang tanpa syarat, cinta yang akan selalu 'ngefans' dan mengapresiasi kepribadian sang pasangan. 

Seperti pasangan lu yang ngga mau berubah, lu juga pasti ngga mau kan kalau prinsip hidupnya diotak-atik? Karena yang namanya prinsip, adalah sesuatu yang berkembang berdasarkan pengaruh lingkungan yang kelak dijustifikasi sendiri sama pribadi tersebut.

Maka dari itu kali ya, pernikahan ditujukan untuk yang udah dewasa? Karena udah punya prinsip yang jelas, udah tau mau pasangan yang kaya gimana, udah pinter ngeliat karakter orang. Walaupun ada yang sengaja nikahin anak yang lebih muda biar prinsipnya bisa 'dibentuk'. Tapi gue pribadi udah punya prinsip dan value yang jelas dari umur yang terbilang muda juga.

Jadi ya, ngga semua orang mau berubah, ngga semua orang suka berubah juga. Carilah pasangan yang bedanya cuma sebatas beda selera musik aja, beda makanan fav. Kalau bedanya prinsip ya susah, bakal prahara terus atau ya itu tadi, 'pura-pura nurut'.

Dan kalo emang ga mau berubah ya udah sst jangan dipaksa. Memperjuangkan prinsip itu juga penting buat pribadi manusia. Harus ngerti juga, bagaimanapun ada bagian dalam diri kita/pasangan yang ngga mau diotak-atik siapapun. Take it or leave it.

Cuman buat lu yang mau pasrah dan mendukung apapun prinsip pasangan, ya keren banget. Tapi ngga harus juga sih, kalau lu sendiri merasa terpaksa dan ngga nyaman juga ya yaudahlah, beda prinsip emang selalu bikin ngga nyaman.

Akhir kata, gua suka banget KFC Cheezy itu enak banget, gue ntar siang kayanya mau makan itu.

7 comments :

  1. Kayanya ini post yang paling aku suka di haloterong

    ReplyDelete
  2. Napa jadi pengen ayam kaepci ya hadeh

    ReplyDelete
  3. SETUJU BANGET!

    www.theiamanda.com

    ReplyDelete
  4. Akhir kata di luar dugaan kfc bikin pengen delivery siang ini.. makasih nahla pencerahannya..

    ReplyDelete
  5. Makanya jangan nikah ketika lagi fase dimabuk cinta, nikahlah pas udah dapet cinta yang realistis. Udah tau busukannya gimana, kalau emosi gimana, tapi kita manage untuk menerima dan tetep cinta, tetep sayang. Nah itu mah pondasinya udah kuat.

    Ini kalimat ngenaaa banget. Ga jaminan pacaran puluhan taun ga ada boroknya pasti ada boroknya juga kalo end up di pelaminan ya berarti masing2 bahkan dengan keborokan nya masih mau saling menerima, and that’s what we called a grown up :)

    ReplyDelete
  6. Asli, konklusinya itu bikin ngakak. Dan jadi ikutan laper hahaha

    Isi artikelnya bagus, bener deh. Aku juga termasuk yang setuju! Hehe

    http://insommia.net

    ReplyDelete
  7. Yes! Setiap pribadi harus punya prinsip. Jangan terbawa arus untuk berubah padahal itu gak sesuai dengan kata hati dan prinsip hidup kita.

    Good share, Nahla👍

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top