SOCIAL MEDIA

Sunday, 6 August 2017

Hubungan yang Custom-Made


(Tulisan ini diambil dengan sudut pandang universal ya, bukan sudut pandang agama dan/atau golongan tertentu)

Dulu gue berpikir bahwa tujuan manusia ya nikah, beranak pinak, melanjutkan garis darah dan keturunan dan humanity and such.

Ya, walaupun gue masih merasa itu ada dalam planning hidup gue sih. Gue sih masih pingin punya keturunan yaaaa... karena menurut gue dengan keturunan kita bisa mewarisi pemikiran, ideologi, darah dan semacamnya. Karena anak yang 'terinstall' dengan benar akan membawa kesejahteraan bagi sesamanya.

Tapi gue ngga ngeh: ngga semua orang menginginkan hal itu.
Dan yang paling gue ngga ngeh lagi: budaya kita masih judgemental dengan keputusan non-mainstream orang-orang itu.


Orang-orang apa sih?

Orang yang memutuskan ngga menikah.
Orang yang memutuskan untuk ngga punya anak.
Orang yang memutuskan untuk.... poligami?

Karena dari dulu, how world works ya dengan lu beranak pinak, kawin. Apalagi cewek yakan? Akil baligh ya langsung nikah. Nikah ya beranak lah.

Standar budaya yang dibentuk udah seperti itu.

Bahkan saking mengakarnya budaya beranak pinak, banyak wanita yang didiskreditkan karena ngga bisa punya anak. Banyak wanita yang diceraikan, 'nggak laku', karena ketauan bahwa organ reproduksinya ngga berfungsi dengan cesplongs.

Jadi? Jadi ya nampaknya takdir semua orang mah uda ditentukan ya: nikah dan punya anak.

Padahal dua keputusan yang terkesan 'natural' itu... ngga senatural itu lho :)

Gue sering bilang kalau kita harus kenali diri sendiri. By means 'kenali diri sendiri' ya harus secara spesifik.

Pingin tetep bisa solo traveling habis nikah.
Pingin punya anak banyak biar rumah rame.
Pingin jadi full time ibu rumah tangga.
Pingin tetep bisa jalan-jalan nginep tanpa suami dan anak.
Pingin tetep getol di karir, ngejar posisi jadi A.
Pingin hidup berdua suami aja tanpa anak.
Pingin hidup sendiri aja, tanpa nikah.

Untuk pria pun juga gitu.
Pingin tetep bisa jalan sama temen-temen cowok.
Pingin jadi imam banget, pingin cari istri yang sebisa mungkin full time IRT.
Pingin jadi stay at home father.
Pingin punya banyak keturunan.

Jadi ngga double standard juga ya, toh pria juga berhak lho punya keinginan dalam hidup berdampingan.

Dulu gue merasa kalau hal di atas itu egois, tapi sekarang gue memandang itu sebagai manusia dengan segala keinginannya aja. Bahkan gue menganggap itu penting.

Mengetahui kebutuhan diri, mencari solusi yang tepat (dalam arti, nyari pasangan hidup yang support life path yang kita mau), adalah survival guide manusia untuk... bahagia.

Karena apa? Karena manusia tanpa keinginan, ngga akan mencapai kepuasan apa-apa.
Tapi yang lebih parah: manusia dengan keinginan, namun solusi yang SALAH.

Contohnya ya..

Aduh maaf banget.

Nikah muda.

Nikah muda itu asik banget kalau sama-sama mantep. Sama-sama sayang, sama-sama tau hubungannya kemana. Sama-sama punya ideologi yang sama, base yang sama.

Tapi kalau niatnya 'cuma' menjaga pergaulan, 'cuma' menghindari zina.... i think that's too much.
Itu bukan solusi, itu namanya... denger ya.. itu namanya escape plan.

OOT deh kamu ach.

Tapi ngga bisa gitu juga, Terong. Nikah muda pun mungkin jalan hidup yang diinginkan berbagai macam orang, tentu dengan pemikiran yang matang.

Atau yang sedih lagi: manusia dengan keinginan, tapi partner hidup yang salah.

(Baca dong: Karena Siap Menikah Ngga Sereceh Itu)

Pengennya sih berkarir terus ya, eh dapetnya pasangan yang IRT oriented banget.
Pengennya sih beranak banyak ya, eh si pasangan nambah 1 aja gamau.
Pengennya sih tinggal di rumah sendiri ya, eh si pasangan maunya tinggal sama keluarga besar.

Semua bisa dikompromi kok. Tapi mencari pasangan yang tepat bisa ngurangin beban yang harus dikompromi lho.

Makanya, ngga semua hubungan bisa dipukul rata ngikutin standar masyarakat.

Apalagi banyak yang nyinyir, "Dih Ira K, percuma cantik kalau belum punya keluarga". DIIIH?

Justru bagus dong, mungkin emang dia ngga minat nikah?

"Bagus apanya?"

Bagus karena dia tau persis apa yang dia mau.

Bayangin kalau cewek yang ngga mau (atau belum siap) nikah, tapi harus nikah karena tuntutan keluarga? Apa yang terjadi?

Cewek itu menyesali pilihan hidup selamanya.
Cewek itu ogah-ogahan ngurus suami dan rumah.
Cewek itu jarang pulang ke rumah.
Cewek itu kabur.
Dan cewek itu ngga merasa bersalah atas hal-hal di atas :)

Jadi mendingan ngga nikah kan daripada memaksakan diri untuk nikah?

"Nikah tuh kodrat manusia..."
Sekali lagi: jangan paksakan standar kamu ke mereka.
Kalian harus tau: banyak orang yang ngga percaya kodrat. Karena menurut mereka, kodrat itu 'hanya' tuntutan masyarakat yang lambat laun menjadi dogma.

Sama halnya jadi ibu, kalau si ibu masih ragu punya anak ya give her time lah. Jangan didesak, "Bun, gapapa bun... kita ga boleh egois jadi manusia, kasihan mama ingin menimang cucu..." lah yang egois elo ape dia?

Menikah masih bisa cerai, LAH PUNYA ANAK? Kalo lu merasa menyesal, anak lu mau dibuang ke kali?

Anak is a blessing, tapi untuk orang yang 'dipaksa' punya anak, anak adalah beban.

Makanya banyak yang ngebuang anak, menelantarkan anak dan sebagainya. Selain karena support system yang buruk (suami yang ngga mau bantuin dan sebagainya), ya bisa aja karena dia emang belum mau/tidak mau punya anak.

Setiap hubungan sebisa mungkin custom-made.
Menyesuaikan ke pasangan dan ke diri sendiri tentunya.

Kalau pria memang mau jadi stay-at-home dad dan wanita yang mencari nafkah, selama itu memenuhi kebahagiaan dan keinginan mereka: ya kenapa nggak?

"Tulang rusuk kalau jadi tulang punggung, akan patah juga..."

Ya itu menurut gue sih cuma rangkaian kata mutiara aja. Karena faktanya, banyak wanita yang career oriented. Banyak wanita yang emang pinginnya nyari uang. Adaaa..

"Tapi kan artinya hidup dari ketek istri", lah kenapa emangnya?
Selama itu dengan sepertujuan kedua belah pihak, kenapa nggak?

Atau ketika seorang istri memutuskan di rumah banget dengan anak banyak. Stres? Ya, pasti. Tapi kalau memang jiwanya di situ gimana? Memang ingin punya keturunan banyak, pingin membuat suasana rumah ramai dengan kehadiran keluarga.

Perlukah kita mencibir, "Wah sayang banget ijazah lo"?
Perlukah kita nyek-nyekin mereka? Mengecilkan keberadaan mereka di mata masyarakat hanya karena ingin jadi full time mom?

Menikah artinya berbahagia bersama, kalau mereka bahagia dengan cara itu ya kenapa nggak?

Yang penting apa? Mereka merasa itu tepat, mereka merasa semuanya terbutuhi dengan baik. So why bother?

Coba cek dulu quote bikinan mba Langit Amaravati:


Image may contain: text

Gue mengamini banget quote ini, karena kebahagiaan orang itu beda-beda. Didapatkan dengan cara yang berbeda, dengan status berbeda serta outcome yang berbeda juga.

Mending bahagia sendirian daripada sok bahagia dengan status 'standar manusia bahagia' menurut masyarakat.

Hubungan custom-made, karena konsep hubungan suami-istri itu hal yang intim.
Hubungan custom-made, karena konsep kebahagiaanmu dan mereka tidaklah sama.



7 comments :

  1. Makasih Mbak Nahla buat tulisannya ��

    ReplyDelete
  2. Bagus banget tulisannya huhuhu

    Ada temen yg udah nikah, tiap hari update status galau kayak anak gadis ditinggal pacar. Padahal udh punya anak lho.

    Terus tanpa dosa nanya ke aku, "kamu kok belum nikah? Bla bla"

    Dalem hati, "ogah banget nikah kalau belum siap ntr kayak situ"

    ReplyDelete
  3. Ada banget di saudaraku. Nikah karena dijodohin, terus anaknya ogah-ogahan ngurus suami, apalagi pas punya anak. Udah aja yang ngurusin itu anak ya neneknya. Terus at the end, cerai T_T
    Yang masih sangat sangat susah di kita adalah, SADAR bahwa standar kebahagiaan orang itu beda-beda. Yang ada kan selalu melihat orang dari standar umum. Ya gitu deh.

    ReplyDelete
  4. seandainya orang orang disekitarku punya pemikiran seperti nahla, satu orang aja udah cukup. brb diem dipojokan*

    ReplyDelete
  5. Apapun kalau niatnya dari awal salah, ya salah aja hehe. Ciri2nya niat yang benar itu sll punya persiapan sebelum kejadian.

    ReplyDelete
  6. aku punya pemikiran seperti itu, pernah keceplosan bilang di grup wa. langsung dibully abis2nya *tentu dg dalil agama. hahaha,,,bukannya makin 'sadar' aku mah jadi makin yakin dg jalan pikiranku

    ReplyDelete

Halo..
Semua komentar akan dimoderasi, jadi jangan kasar-kasar yaaa...
Kritik dibolehin lah pastinyo, cuman yang membangun eaaa~

Back to Top